Opini
Opini: Refleksi Etika Ekologi- Mengapa Manusia Harus Bertanggungjawab pada Alam?
Kehidupan memiliki kecenderungan bawaan untuk mempertahankan keberadaannya melawan ketiadaan atau kematian.
Kehidupan memiliki kecenderungan bawaan untuk mempertahankan keberadaannya melawan ketiadaan atau kematian.
Oleh sebab itu, alam semesta bukanlah ruang hampa yang pasif dan bebas nilai, melainkan sebuah struktur kosmis yang berharga pada dirinya sendiri (Good-in-itself), terlepas dari ada atau tidaknya utilitas bagi manusia.
Ironisnya, memasuki dekade ketiga abad ke-21, keserakahan manusia yang bercorak antroposentris ini telah dipersenjatai oleh lompatan teknologi yang bersifat eksponensial.
Manusia kini memiliki kapasitas destruktif yang setara dengan kekuatan geologis bumi, sebuah era yang secara ilmiah kini jamak disebut sebagai epos Antroposen.
Kita dapat mengonfirmasi tesis Jonas ini melalui data empiris hari ini. Berdasarkan laporan terkini dari World Meteorological Organization (WMO) dan Copernicus Climate Change Service, suhu global terus memecahkan rekor tertinggi, memicu pelelehan es kutub pada laju yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di ranah domestik, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan laju deforestasi serta kerusakan daerah aliran sungai yang linier dengan peningkatan frekuensi banjir bandang dan tanah longsor di berbagai wilayah Indonesia.
Tidak hanya itu, polusi mikroplastik kini telah mengontaminasi palung laut terdalam hingga masuk ke dalam jaringan plasenta manusia.
Selain itu, kerusakan alam yang signifikan juga sering kita saksikan di Nusa Tenggara Timur ( NTT). Contoh beberapa wilayah di Pulau Timor, terjadi begitu banyak kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir.
Fakta saintifik ini membuktikan kekhawatiran terbesar Jonas bagi kita: bahwa kekuatan teknologi modern berpotensi menciptakan kerusakan permanen yang tidak dapat dipulihkan (irreversible) pada sistem penopang kehidupan kosmos.
Dalam mahakaryanya yang bertajuk The Imperative of Responsibility, Jonas memperingatkan bahwa kerangka etika tradisional peninggalan masa lalu, baik yang berbasis keutamaan, deontologi, maupun utilitarianisme, telah mengalami kelumpuhan total menghadapi realitas Antroposen.
Argumen ini sangat masuk akal karena etika-etika terdahulu hanya beroperasi pada skala jangka pendek (short-term) dan bersifat antroposentris lokal.
Etika lama hanya mengatur bagaimana manusia bersikap adil terhadap sesamanya di masa sekarang, tanpa pernah mengantisipasi dampak kumulatif dari limbah industri yang dibuang ke ekosistem laut atau emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer terhadap generasi masa depan.
Sains modern memberikan kita kekuatan kosmis, namun sayangnya tidak dibarengi dengan kebijaksanaan kosmis.
Guna mengisi kekosongan moral tersebut, Jonas merumuskan sebuah imperatif kategoris baru yang bersifat visioner: "Bertindaklah sedemikian rupa sehingga dampak tindakanmu tidak menghancurkan kemungkinan adanya kehidupan manusia di masa depan."
Melalui diktum ini, Jonas menegaskan kepada kita bahwa merawat kosmos dan ekosistem bumi bukan lagi sebuah pilihan moral yang opsional atau sekadar aksi filantropi dari kelompok aktivis lingkungan.
Christian Charlie Muda
Opini Pos Kupang
merawat bumi
Hans Jonas
Waspada Bencana Banjir dan Longsor
Meaningful
NTT
Nusa Tenggara Timur
| Opini - Tuhan Dalam Layar |
|
|---|
| Opini - Teologi Dalit di Tengah Revolusi AI: Martabat Kaum Tersisi dalam Perkembagan Era Digital |
|
|---|
| Opini - Membangun Generasi, Merawat Ibu dan Alam: Kajian Eko-feminisme Rosemary Ruether |
|
|---|
| Opini: Air, Stunting, dan Rintihan Ekologi NTT |
|
|---|
| Opini: Generasi Cepat Bosan dan Matinya Kedalaman Berpikir |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Christian-Charlie-Muda.jpg)