Rabu, 10 Juni 2026

Opini

Opini: Refleksi Etika Ekologi- Mengapa Manusia Harus Bertanggungjawab pada Alam?

Kehidupan memiliki kecenderungan bawaan untuk mempertahankan keberadaannya melawan ketiadaan atau kematian. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI CHRISTIAN C. MUDA
Christian Charlie Muda 

Oleh: Christian Charlie Muda
Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang, Nusa Tenggara Timur. 

POS-KUPANG.COM - Belakangan ini perbincangan mengenai krisis lingkungan global tidak lagi sekadar menjadi konsumsi eksklusif para saintis di laboratorium atau aktivis di ruang-ruang demonstrasi. 

Bagi masyarakat luas kecemasan ekologis (eco-anxiety) telah transformasi menjadi realitas keseharian yang mencemaskan. 

Setiap kali membuka gawai, linimasa media digital selalu dipenuhi oleh tajuk utama mengenai anomali cuaca ekstrem, kegagalan panen masif, hingga bencana hidrometeorologi yang kian intens. 

Fenomena tersebut di atas memicu sebuah pertanyaan eksistensial yang menggugat, di manakah posisi moral manusia di tengah alam yang kian rapuh ini?

Di dalam ruang lingkup masyarakat, kita sering kali dididik untuk memandang krisis lingkungan dari kacamata yang sangat reduksionis. 

Baca juga: Opini: Air, Stunting, dan Rintihan Ekologi NTT

Isu ekologi kerap didefinisikan secara mekanistis sebagai masalah kegagalan pasar, ketidakbakuan regulasi politik, atau keterbatasan infrastruktur teknologi hijau. 

Namun, jika kita bersedia menelisik lebih dalam secara radikal, semua problem ekologis tersebut hanyalah gejala permukaan (symptoms). 

Akar masalah yang sesungguhnya terletak pada dimensi yang jauh lebih fundamental, yakni krisis ontologis dan degradasi moral manusia modern terhadap alam semesta. 

Guna membedah kebuntuan ini, pemikiran filosofis Hans Jonas mengenai kosmologi teleologis dan " etika tanggung jawab" (The Imperative of Responsibility) menemukan momentum relevansinya yang paling krusial untuk dihadirkan kembali ke permukaan.

Secara historis, modernitas barat yang diwarisi oleh masyarakat global hari ini dibangun di atas fondasi dualisme Cartesian dan mekanisisme Newtonian. 

Cara pandang ini mereduksi kosmos atau alam semesta yang luas menjadi sekadar objek netral, material mati, atau "mesin raksasa" tanpa nyawa. 

Implikasinya, komponen-komponen alam bebas dibongkar, dieksploitasi, dan dikomodifikasi demi memuaskan hasrat konsumerisme umat manusia. 

Hans Jonas secara rigid menolak devaluasi ontologis tersebut.  Melalui pendekatan filsafat organisme, Jonas berargumen bahwa kosmos sejak awal perkembangannya merupakan sebuah entitas yang hidup dan memiliki tujuan intrinsik (teleology). 

Ketika alam berevolusi hingga mampu melahirkan bentuk kehidupan, bahkan yang paling elementer sekalipun seperti organisme bersel satu, alam sejatinya sedang mengafirmasi sebuah nilai dalam dirinya sendiri (inherent value). 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved