Opini
Opini: Perang Melawan Sampah Plastik di NTT
Studi Bappenas (2025) memperkirakan kerugian akibat pencemaran plastik di sektor perikanan dan pariwisata Rp12,1 triliun per tahun.
Ada ungkapan latin yang cukup familiar adalah Gutta cavat lapidem non vi, sed saepe cadendo. Ungkapan ini berarti “tetesan air melubangi batu bukan karena kekuatannya, tetapi karena jatuhnya yang terus-menerus”.
Mengurangi penggunaan plastik misalnya, dapat menjadi kebiasaan bukan sekadar tindakan ini terpuji tapi karena diakukan terus-menerus.
Hal lain yang dibutuhkan adalah dialog kehidupan di rumah. Dialog adalah cara lain memberi pemahaman yang akurat kepada anak-anak tentang lingkungan hidup.
Dialog tidak sekadar membangunn komunikasi, tapi sebagai upaya sadar untuk memberi pengetahuan kepada anak-anak melalui cara-cara sederhana.
Misalnya, membiasakan anak-anak untuk menikmati masakan ibu secara bertanggung jawab.
Bertanggung jawab terhadap makanan oleh anak artinya ia menikmati makanan itu sampai selesai dan tanpa sisa.
Keteladanan dan dialog kehidupan tidak cukup dilakukan dengan keberanian, mesti dilakukan secara konsisten.
Kualitas keteladanan dan dialog kehidupan ada pada konsistensi melakukannya. Tidak sedikit orang yang menyerah terhadap nilai-nilai karena rapuhnya konsistensi.
Belajar dari UPTD SDN Papela
Kedua, Sekolah. Sekolah adalah pihak kedua yang bertanggung jawab membina para murid untuk mencintai lingkungan hidup.
Sekolah-sekolah di NTT masih harus berperang melawan sampah, karena sekolah masih menjadi produksi sampah plastik paling banyak.
Kesadaran para murid untuk membuang sampah pada tempatnya dan kecintaan terhadap lingkungan masih jauh panggang dari api.
Salah satu pikiran alternatif yang dapat menjadi acuan untuk menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman dan nyaman dari sampah adalah membangun pemahaman bersama tentang kecintaan terhadap lingkungan hidup melalui seminar, animasi-animasi dan praktik mendaur ulang sampah.
Seminar dan animasi-animasi berbasis lingkungan hidup pada gilirannya memberikan kepercayaan kepada para murid untuk berpikir secara benar.
Para murid menjadi peduli tentang sampah karena pengetahuan yang sudah diperolehnya.
Sampah dan dampaknya tidak sedang dibahas secara khusus sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah formal.
Itu berarti Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendasmen) memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada sekolah untuk mengolah sampah bersama para murid.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Aris-Wawo-01.jpg)