Sabtu, 6 Juni 2026

Opini

Opini: Perang Melawan Sampah Plastik di NTT 

Studi Bappenas (2025) memperkirakan kerugian akibat pencemaran plastik di sektor perikanan dan pariwisata Rp12,1 triliun per tahun. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ARIS WAWO
Aris Wawo, SVD 

Keindahan ini sebagai ironi ketika menyaksikan sampah-sampah yang berseliweran di pinggir-pinggir dan di tepi-tepi pantai serta di tempat-tempat umum lainnya. 
  
Di beberapa tempat, orang membuang sampah di tempat yang dilarang oleh pemilik tanah. 

Di Kota Kupang misalnya, drainase masih menjadi tempat pembuangan sampah plastik oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. 

Kita juga menyaksikan sampah-sampah plastik yang dibuang di pinggir jalan dari kendaraan-kendaraan mewah.

Banyak pelaku bisnis seperti alfamart, indomart, toko-toko lain masih menggunakan plastik sebagai tempat menyimpan barang-barang belanjaan para pembeli. 

Plastik masih menjadi wadah yang lazim dalam transaksi jual-beli di pasar dan pertokoan. Belum ada upaya bersama untuk menyelesaikan masalah ini secara masif dan profesional. 

Sekolah Sampah

Salah satu pertanyaan paling dasar: Bagaimana cara agar warga NTT memiliki kepedulian terhadap sampah secara spontan? Kepedulian terhadap sampah harus dapat dimulai sejak dini. 

Ada beberapa pihak yang menjadi “sekolah sampah”. Memilih, memilah dan membuang sampah pada tempatnya serta mengurangi sampah butuh sekolah.

Pertama, Keluarga. Keluarga adalah komunitas pertama seorang anak bertumbuh dan berkembang secara utuh. 

Di tempat ini, anak belajar tentang hidup sehat dan bersih. Salah satu hal yang dapat diajarkan kepada anak-anak adalah memilih, memilah, dan membuang sampah pada tempatnya serta mengurangi sampah.

Baca juga: Opini: Membangun Resiliensi Kota Lewat Aksi-Aksi Iklim Berbasis Alam

Sampah dibedakan dalam dua bentuk yaitu sampah organik dan anorganik. Memberikan pengetahuan yang memadai kepada anak-anak tentang sampah merupakan tugas utama dari orang tua.  

Orang tua turut bertanggung jawab mendidik anak-anak untuk mencintai lingkungan hidup secara benar. 

Hal pertama yang harus dilakukan oleh orang tua adalah memberi teladan. Keteladan orang tua merawat dan memerhatikan lingkungan rumah adalah mutlak. 

Menyiapkan bekal untuk anak-anak misalnya, dan mewajibkan anak-anak membawa thumber adalah cara paling jitu mengurangi sampah plastik.

Kebaikan harus selalu dilatih sejak dini, sama halnya dengan disiplin. Membawa bekal dan thumber setiap hari ke sekolah adalah salah satu bentuk dari latihan tentang kecintaan terhadap lingkungan. 

Perilaku seperti ini diakukan berulang, akan menjadi kebiasaan. Kebaikan memang mesti diatih dan dilakukan berulang-ulang.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved