Sabtu, 6 Juni 2026

Opini

Opini: Magnifica Humanitas Melampaui Parrhesia Digital

Teknologi tidak lagi melayani tujuan manusiawi, tetapi menjadi senjata dalam dominasi geopolitik dan kekuasaan kelas.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MELKI DENI
Melki Deni, S. Fil 

Kehilangan memori historis kolektif mempermudah penulisan ulang masa lalu dan penyebaran berita palsu yang mengaburkan pelajaran dari tragedi kemanusian sebelum abad ke-20, dan terutama peperangan, bisnis jual beli bayi dan organ tubuh manusia, perdagangan manusia, bisnis prostitusi internasional, pembunuhan terhadap warga sipil, perebutan ruang hidup dengan pengusiran dan pembunuhan, dll, pada abad ke-21 ini. 

Berlandaskan teologi inkarnasi, Gereja menegaskan bahwa Kristus yang menjadi manusia menguduskan martabat manusia, sementara AI hanya mereduksi manusia menjadi sekadar sejumlah data. 

Ini bukan sekadar kata-kata benar, melainkan penegasan kembali eksistensi tubuh manusia sebagai pusat sejarah, menolak reduksi manusia menjadi sekadar profil digital, dan bahwa tubuh manusia adalah bukan hanya milik manusia, tetapi juga tempat kediaman Roh Kudus (1 Korintius 3:16-17. 1 Korintius 6:19-20; 2 Korintus 3:17-18; 2 Korintus 6:16). 

Kebenaran bukan sekadar berkaitan dengan isi informasi, melainkan fondasi demokrasi. 

Keadilan bukan sekadar aplikasi hukum melainkan pengakuan atas martabat setiap orang sebagai persona, bukan sekadar jumlah data.

Misi metafilosofis para filsuf  

Bagi Lefebvre, tugas filsafat di era modern adalah melalui “metafilsafat”, sebuah upaya untuk merekonsiliasi pemikiran dengan kehidupan sehari-hari dan mengubah dunia, bukan sekadar menafsirkannya. 

Konsep metafilsafat bukanlah pembatalan filsafat, melainkan upaya untuk membawa pemikiran filsafat (filsuf) menjadi saksi atas alienasi, perampasan dan eksploitasi, membantu menghilangkan hambatan bagi benih-benih kemanusiaan yang rapuh. 

Tugas filsuf di sini adalah melampaui abstraksi dan berpartisipasi dalam “revolusi kehidupan sehari-hari”. 

Lefebvre menyerukan, “proyek revolusioner telah bangkit kembali. Proyek ini telah mereklamasi karakter utuhnya: untuk mengubah dunia dan kehidupan. Kita tidak lagi berada di dalam filsafat, tetapi melampauinya” (Henri Lefebvre, Metaphilosophy, London: Verso, 2016, hlm. 63.300). 

Selain itu, filsuf bertugas untuk mengumpulkan “residu-residu” (hal-hal yang dibuang oleh sistem seperti keinginan, permainan, dan seni) dan menyatukannya dalam sebuah “praksis baru” yang membebaskan melalui penciptaan “ruang diferensial” yang merayakan perbedaan dan kreativitas (Henri Lefebvre, The Urban Revolution, Minneapolis, USA: University of Minnesota Press, 2003, hlm. xiv). 

Foucult, dalam tahun-tahun terakhir hidupnya, menekankan pentingnya parrhesia atau “keberanian dalam kebenaran”. 

Parrhesia adalah tindakan berbicara bebas di mana subjek mengikatkan dirinya pada kebenaran yang diucapkan meskipun ada risiko pribadi (Michel Foucault, Discurso y Verdad, Buenos Aires, Argentina: Siglo XXI, 2017). 

Dalam konteks era digital, ini berarti “keberanian untuk mengetahui” (sapere aude) dan keberanian untuk menolak identitas-identitas yang dipaksakan oleh mekanisme kekuasaan. 

Berani berbicara kebenaran selalu berkaitan dengan berfilsafat, atau lebih tepatnya, tugas publik filsafat. 

Foucault melihat tugas filsafat sebagai “ontologi sejarah dari kita sendiri”. 

Filsafat kritis harus mempertanyakan kebenaran tentang pengaruh kekuasaannya dan mempersoalkan kekuasaan tentang diskursus kebenarannya. 

Dari pandangan ini, tugas filsafat adalah melakukan “klinik filosofis” yang memungkinkan individu melepaskan diri dari identitas yang mengaturnya secara represif (Michel Foucault, Politics, Philosophy and Culture, New York, USA: Routledge, 1988, hlm. 267). 

Bagi Harvey, selain fisluf, para intelektual harus memiliki imajinasi geografis dan sensitivitas terhadap bagaimana akumulasi modal merusak tatanan sosial. 

Tugas mereka adalah memetakan jalan menuju urbanisme yang benar-benar memanusiakan, bebas dari eksploitasi dan “akumulasi melalui perampasan”. 

Harvey menjelaskan bahwa “struktur lama kapitalisme industri, yang dulunya menjadi kekuatan bagi perubahan revolusioner dalam masyarakat, kini tampak sebagai batu sandungan (stumbling block). 

Meningkatnya konsentrasi investasi modal tetap, penciptaan kebutuhan baru dan permintaan efektif (effective demands), serta pola sirkulasi nilai lebih (surplus value) yang bertumpu pada apropiasi dan eksploitasi, semuanya memancar dari dinamika internal kapitalisme industri… 

Tugas teori revolusioner adalah memetakan jalan dari urbanisme yang berbasis eksploitasi menuju urbanisme yang sesuai bagi spesies manusia. Dan tugas praktik revolusioner adalah menuntaskan transformasi tersebut.” (David Harvey, Social Justice and the City. London: Edward Arnold. 1973, hlm. 313). 

Apa yang mesti kita bangun?

Paus Leo XIV menegaskan bahwa respons terhadap tantangan digital ini tidak boleh didasarkan pada ketakutan, melainkan pada tanggung jawab harian dan publik. Etika saja tidak cukup jika bersifat abstrak. 

Dibutuhkan kerangka hukum yang kuat dan pengawasan independen dari negara untuk memastikan teknologi melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya. Paus Leo XIV mengusulkan lima jalan (Carta Encíclica Magnifica Humanitas, no. 213-224), yakni:

Jalan pertama, melucuti kata-kata (no. 214). Paus Leo XIV menekankan pentingnya memperhatikan kata-kata yang digunakan, menolak paradigma perang dalam komunikasi, dan menghindari kata-kata yang mempermalukan atau memicu konfrontasi. 

Paus Leo XIV menyerukan: “marilah kita melucuti senjata kata-kata, maka kita akan berkontribusi dalam melucuti senjata di muka bumi.”

Jalan kedua, membangun perdamaian melalui keadilan (no. 215). Gereja menegaskan bahwa perdamaian sejati bukan sekadar absennya konflik, melainkan buah dari keadilan. 

Paus Leo XIV merujuk pada pemikiran Santo Agustinus sebelum beri komentar  “keadilan dan perdamaian harus saling berciuman” (Mzm, 85, 11b), bahwa “kedamaian dan keadilan saling berpelukan, dan keduanya tidak berada dalam perselisihan… Apakah engkau ingin menemukan kedamaian? Praktikanlah keadilan. 

Jalan ketiga, mengadopsi perspektif korban (no.216-217). Paus Leo XIV mengajak umat manusia untuk tidak bersikap netral di hadapan penderitaan. Mengadopsi pandangan korban berarti “menyentuh daging” mereka yang menderita akibat teknologi atau konflik, memberikan ruang bagi suara mereka dalam informasi dan pendidikan.

Jalan keempat, memupuk realisme yang sehat (218). Jalan ini menolak idealisme politik yang manipulatif maupun sinisme yang pasrah pada kekuasaan dan kekerasan. 

Paus Leo XIV menjelaskan, realisme autentik “mencari cara-cara yang layak agar kedamaian menjadi lebih sekadar kata-kata, yakni melalui institusi yang kredibel, jaminan yang dapat diverifikasi, negosiasi yang sabar, pencegahan konflik, serta perlindungan terhadap masyarakat sipil”.

Jalan kelima, memperbarui dialog dan multilateralisme (no. 219-224). Di sini ditekankan pentingya dialog sebagai instrumen utama koeksistensi, sebab “hal ini berkaitan dengan adopsi disposisi untuk mengonstruksi ikatan persaudaraan, yang diwujudkan melalui kesediaan mendengar, ketulusan afeksi, pembagian waktu, bahkan kebersamaan yang tampak tidak produktif”. 

Paus Leo XIV menyerukan peralihan dari “budaya kekuasaan” menuju sebuah “budaya negosiasi” yang autentik, di mana dialog dan relasi diplomatik bertransformasi menjadi jalur utama untuk menghadapi berbagai konflik.” 

Dialog dan budaya negosiasi sangat mendesak, karena “kesadaran akan nasib bersama umat manusia menuntuk agar budaya negosiasi semakin bertransformasi menjadi komitmen politik dan kultural kolektif, yang menjauhkan kemanusiaan secara bertahap dari spiral kekerasan”. 

Selain itu, Paus Leo XIV menekankan peran krusial diplomasi dan organisasi internasional seperti PBB untuk mempromosikan perdamaian di era digital (no. 226): 

“Organisasi-organisasi internasional, khususnya PBB, tetap menjadi instrumen esensial untuk mempromosikan peradaban kasih, dengan mendukung dialog antarnegara, penyelesaian konflik secara damai, pembangunan integral bangsa-bangsa, perlindungan terhadap kelompok paling rentan, perlucutan senjata, serta pemeliharaan ciptaan. 

Melalui institusi-institusi ini, komunitas internasional dapat berupaya mengurangi ketimpangan, membela hak-hak pengungsi dan kelompok minoritas, mengalihkan sumber daya persenjataan untuk pembangunan manusia, serta melindungi Rumah Bersama.”

Melalui inspirasi Santo Agustinus, Paus Leo XIV mengajak semua umat manusia untuk membangun kembali “Kota Allah” (Yerusalem) di bumi dengan “Peradaban Kasih” (Neh 2-6), dan menolak pembangunan menara “Babel” teknokratis, yang berujung pada dehumanisasi (Kej 11:1-19). 

Keselamatan sejati hanya dapat dicapai melalui curahan kasih Kristiani, yang merupakan hukum di mana seluruh Injil diringkas, yang memastikan bahwa faktor manusia tetap sangat diperlukan dan lebih utama  daripada logika algoritma. 

Di sinilah Magnifica Humanitas bukan sekadar propaganda parrhesia digital. Magnifica Humanitas adalah panduan kepada para pemimpin Gereja Katolik, teolog, filsuf, dan semua umat manusia. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved