Opini
Opini: Magnifica Humanitas Melampaui Parrhesia Digital
Teknologi tidak lagi melayani tujuan manusiawi, tetapi menjadi senjata dalam dominasi geopolitik dan kekuasaan kelas.
Harvey menambahkan bahwa inovasi teknologi di bawah kapitalisme sering kali menjadi objek pemujaan (fetish) yang memutus hubungan indrawi manusia dengan dunia.
Harvey menjelaskan: “Inovasi teknologi telah menjelma menjadi industri berskala besar (big business); ‘besar’ di sini tidak serta-merta merujuk pada korporasi konsolidasi raksasa (meskipun replika entitas seperti itu kini marak ditemukan di sektor agribisnis, energi, dan farmasi), melainkan ‘besar’ dalam artian keterlibatan multitransportasi perusahaan ─yang mayoritas di antaranya merupakan perusahaan rintisan (start-up) skala kecil dan modal ventura─ yang mengeksplorasi inovasi demi inovasi itu sendiri.
Inovasi teknologi bertransformasi menjadi objek fetish dari hasrat kapitalistik.” (David Harvey, Seventeen Contradictions and the End of Capitalism. New York: Oxford University Press. 2014, hlm. 94-95. 109-110. 270-271).
Teknologi tidak lagi melayani tujuan manusiawi, tetapi menjadi senjata dalam dominasi geopolitik dan kekuasaan kelas.
Lefebvre, jauh sebelum Harvey, memelopori “kritik atas kehidupan sehari-hari” untik menyingkap bagaimana kapitalisme birokratis mengolonisasi setiap aspek eksistensi manusia melalui konsumsi terencana.
Kehidupan sehari-hari saat ini tragfragmentasi menjadi sektor-sektor fungsional yang terpisah: pekerjaan, kehidupan pribadi, dan rekreasi, yang semuanya disatukan oleh pasivitas dan non-partisipasi.
Lefebvre menulis: “Kehidupan sehari-hari, dan bukan lagi isu-isu ekonomi umum, merupakan level di mana neo-kapitalisme mengukuhkan dirinya. Neo-kapitalisme berbasis pada kehidupan sehari-hari seolah-olah hal itu adalah sesuatu yang konkret, sebuah substansi sosial yang memberi makan instansi-instansi politik.” (Henri Lefebvre, The Survival of Capitalism.
Reproduction of the Relations of Production, hlm. 69). Lefebvre juga mengantisipasi “bangkitnya spesies manusia, antagonis dari manusia total (total man): “cybernanthrope” (manusia sibernetik), karikatur, simulakrum, parodi, atau citra terbalik dari manusia total” yang perilakunya telah terprogram, mekanis dan teralineasi oleh teknokratis/birokrasi.
Paradigma teknokratik ini melihat manusia sebagai materi yang harus dioptimalkan atau ditingkatkan melalui mimesis (simulasi) teknologi dan infrastruktur digital.
Pandangan ini berkaitan erat dengan munculnya Kecerdasan Buatan (AI). AI menciptakan bentuk-bentuk baru “perbudakan digital” melalui kerja diam-diam jutaan orang di negara berkembang yang melatih algoritma dengan upah mínimum (Carta Encíclica Magnifica Humanitas, no. 173). Paus Leo XIV menolak keras teknofasisme yang dipromosikan oleh penganut transhumanis dan pascahumanis di Silicon Valley (Iñigo Domínguez, León XIV advierte contra el tecnofascismo, El País, 2026).
Di sini tampak risiko di mana kelompok elite pengendali infrstruktur digital akan memaksakan visi moral mereka secara terselubung.
Paus Leo XIV berpendapat bahwa jika manusia diperlakukan hanya sebagai data atau materi yang harus “dilampaui”, maka akan sangat mudah bagi elite untuk menganggap sebagian orang “kurang berguna” atau “warga kelas dua”.
Gereja Katolik menegaskan bahwa tidak ada sistem kalkulasi, betatapun canggihnya, yang dapat menggantikan hati yang murah hati atau nurani yang mampu membedakan kebaikan dari keburukan.
Paus Leo XIV menyerukan transparansi dalam rantai pasok teknologi dan perlindungan hak-hak pekerja di hadapan otomatisasi (Carta Encíclica Magnifica Humanitas, no. 154-155).
Demokrasi saat ini juga sedang berada dalam bahaya akibat polarisasi yang diamplifikasi oleh algoritma media sosial yang menjunjung tinggi konfrontasi (Carta Encíclica Magnifica Humanitas, no. 107-108).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Melki-Deni1.jpg)