Opini
Opini: Menjaga Api Pancasila dari Bumi Ende
Di kota pengasingan itu, antara tahun 1934 hingga 1938, Bung Karno menjalani hari-harinya bersama rakyat biasa.
Mereka menghargai keberagaman, menolak diskriminasi, dan memiliki keinginan kuat untuk hidup dalam masyarakat yang lebih adil.
Namun generasi muda hari ini juga sangat kritis. Mereka tidak mudah menerima sesuatu hanya karena diperintahkan atau diajarkan.
Mereka tidak tertarik pada slogan yang diulang-ulang tanpa makna nyata. Mereka ingin melihat kesesuaian antara kata dan tindakan.
Di sinilah tantangan terbesar kita berada.
Persoalan utama Pancasila hari ini bukan terletak pada generasi muda. Tantangan terbesar justru datang dari kegagalan banyak orang dewasa dalam memberikan teladan.
Sulit meminta anak muda percaya pada keadilan sosial ketika mereka menyaksikan praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, ketimpangan ekonomi, atau penegakan hukum yang dianggap tidak adil.
Sulit meminta mereka menghormati nilai persatuan apabila ruang publik justru dipenuhi ujaran kebencian dan saling curiga.
Baca juga: Opini: Hari Lahir Pancasila dan Magnifica Humanitas di Tengah Ledakan Artificial Intelligence
Pancasila akan kehilangan wibawanya apabila hanya menjadi teks yang dihafal dalam upacara atau pidato seremonial.
Sebaliknya, Pancasila akan hidup apabila hadir dalam kebijakan publik yang berpihak kepada rakyat, dalam pemerintahan yang bersih, dalam pelayanan yang adil, dan dalam kehidupan sosial yang menghargai martabat manusia.
Sebagai organisasi kepemudaan Kristen, GAMKI meyakini bahwa menghidupi Pancasila merupakan bagian dari panggilan iman untuk menghadirkan kasih, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia dalam kehidupan berbangsa.
Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tidak bertentangan dengan iman, melainkan menjadi ruang bersama untuk membangun kehidupan yang damai dan bermartabat di tengah kemajemukan Indonesia.
Karena itu, perjuangan melawan kemiskinan, perdagangan orang, kekerasan terhadap perempuan dan anak, stunting, ketidakadilan sosial, serta berbagai bentuk diskriminasi merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai Pancasila yang nyata.
Sebagai daerah yang menjadi salah satu wajah penting keberagaman Indonesia, NTT memiliki tanggung jawab moral untuk terus merawat persaudaraan lintas agama, lintas suku, dan lintas kelompok sosial.
Di tengah berbagai tantangan yang ada, kita harus menunjukkan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan.
Lalu apa yang harus dilakukan agar Pancasila tetap hidup di hati Generasi Z dan Generasi Alpha?
Winston Neil Rondo
Ketua DPD GAMKI NTT
mengamalkan Pancasila
Pancasila
Hari Lahir Pancasila
Meaningful
Ende
Bung Karno
NTT
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Pancasila di Dinding, Krisis Karakter di Ruang Kelas |
|
|---|
| Opini: Meneropong Kualitas Tata Kelola MBG dari Perspektif Produsen dan Konsumen |
|
|---|
| Opini: Rumah Biru, Dapur Sunyi dan Miliaran yang Berputar |
|
|---|
| Opini: Manfaat Digitalisasi Bagi Petani dalam Meningkatkan Usahatani |
|
|---|
| Opini: Jejak Perjuangan Putera NTT Yoseph Ola Bebe Melawan Belanda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Winston-Rondo-GAMKI.jpg)