Opini
Opini: Menjaga Api Pancasila dari Bumi Ende
Di kota pengasingan itu, antara tahun 1934 hingga 1938, Bung Karno menjalani hari-harinya bersama rakyat biasa.
Pertama, pemerintah harus berani mengubah cara berkomunikasi dengan generasi muda.
Sosialisasi yang kaku dan formal sudah tidak efektif lagi. Nilai-nilai Pancasila perlu diterjemahkan ke dalam bahasa yang dekat dengan keseharian anak muda, termasuk melalui media sosial, konten kreatif, film pendek, musik, olahraga, maupun ruang-ruang dialog yang partisipatif.
Namun yang paling penting adalah keteladanan. Tidak ada kampanye Pancasila yang lebih kuat daripada pemerintahan yang jujur dan pelayanan publik yang adil.
Kedua, dunia pendidikan harus menghadirkan pengalaman nyata dalam belajar Pancasila.
Anak-anak tidak cukup hanya menghafal lima sila. Mereka perlu mengalami nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari.
Di NTT, pendidikan Pancasila dapat diwujudkan melalui kegiatan menjaga sumber air, penghijauan lahan kritis, gotong royong membersihkan lingkungan, membantu kelompok rentan, serta berbagai bentuk pelayanan sosial lainnya.
Dari pengalaman seperti itulah nilai gotong royong, kemanusiaan, dan keadilan sosial akan tumbuh secara alami.
Ketiga, organisasi kepemudaan, gereja, komunitas, dan keluarga harus menjadi ruang pembentukan karakter yang sehat.
Anak-anak muda perlu didorong menjadi pengguna media sosial yang bertanggung jawab, mampu menyaring informasi, menolak hoaks, serta menggunakan teknologi untuk membangun, bukan memecah belah.
Pada saat yang sama, perjumpaan langsung melalui olahraga, seni, diskusi, dan kegiatan sosial tetap harus diperkuat agar rasa empati dan solidaritas tidak hilang dalam dunia yang semakin digital.
Pada akhirnya, pohon sukun di Ende bukan sekadar situs sejarah. Ia adalah pengingat bahwa gagasan besar lahir dari kepekaan terhadap penderitaan rakyat.
Bung Karno menemukan Pancasila bukan di ruang kekuasaan, melainkan ketika ia mendengar denyut kehidupan masyarakat biasa.
Karena itu, cara terbaik merayakan Hari Lahir Pancasila bukan hanya dengan upacara dan seremonial.
Cara terbaik merayakannya adalah memastikan nilai-nilainya hidup dalam kebijakan publik, dalam pendidikan, dalam pelayanan keagamaan, dan dalam tindakan sehari-hari kita.
Api Pancasila yang pernah dinyalakan Bung Karno di bawah teduhnya pohon sukun Ende tidak boleh hanya menjadi kenangan sejarah.
Winston Neil Rondo
Ketua DPD GAMKI NTT
mengamalkan Pancasila
Pancasila
Hari Lahir Pancasila
Meaningful
Ende
Bung Karno
NTT
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Pancasila di Dinding, Krisis Karakter di Ruang Kelas |
|
|---|
| Opini: Meneropong Kualitas Tata Kelola MBG dari Perspektif Produsen dan Konsumen |
|
|---|
| Opini: Rumah Biru, Dapur Sunyi dan Miliaran yang Berputar |
|
|---|
| Opini: Manfaat Digitalisasi Bagi Petani dalam Meningkatkan Usahatani |
|
|---|
| Opini: Jejak Perjuangan Putera NTT Yoseph Ola Bebe Melawan Belanda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Winston-Rondo-GAMKI.jpg)