Breaking News
Senin, 1 Juni 2026

Opini

Opini: Menjaga Api Pancasila dari Bumi Ende

Di kota pengasingan itu, antara tahun 1934 hingga 1938, Bung Karno menjalani hari-harinya bersama rakyat biasa. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI WINSTON RONDO
Winston Rondo 

Pertama, pemerintah harus berani mengubah cara berkomunikasi dengan generasi muda. 

Sosialisasi yang kaku dan formal sudah tidak efektif lagi. Nilai-nilai Pancasila perlu diterjemahkan ke dalam bahasa yang dekat dengan keseharian anak muda, termasuk melalui media sosial, konten kreatif, film pendek, musik, olahraga, maupun ruang-ruang dialog yang partisipatif. 

Namun yang paling penting adalah keteladanan. Tidak ada kampanye Pancasila yang lebih kuat daripada pemerintahan yang jujur dan pelayanan publik yang adil.

Kedua, dunia pendidikan harus menghadirkan pengalaman nyata dalam belajar Pancasila

Anak-anak tidak cukup hanya menghafal lima sila. Mereka perlu mengalami nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari.

Di NTT, pendidikan Pancasila dapat diwujudkan melalui kegiatan menjaga sumber air, penghijauan lahan kritis, gotong royong membersihkan lingkungan, membantu kelompok rentan, serta berbagai bentuk pelayanan sosial lainnya. 

Dari pengalaman seperti itulah nilai gotong royong, kemanusiaan, dan keadilan sosial akan tumbuh secara alami.

Ketiga, organisasi kepemudaan, gereja, komunitas, dan keluarga harus menjadi ruang pembentukan karakter yang sehat. 

Anak-anak muda perlu didorong menjadi pengguna media sosial yang bertanggung jawab, mampu menyaring informasi, menolak hoaks, serta menggunakan teknologi untuk membangun, bukan memecah belah. 

Pada saat yang sama, perjumpaan langsung melalui olahraga, seni, diskusi, dan kegiatan sosial tetap harus diperkuat agar rasa empati dan solidaritas tidak hilang dalam dunia yang semakin digital.

Pada akhirnya, pohon sukun di Ende bukan sekadar situs sejarah. Ia adalah pengingat bahwa gagasan besar lahir dari kepekaan terhadap penderitaan rakyat. 

Bung Karno menemukan Pancasila bukan di ruang kekuasaan, melainkan ketika ia mendengar denyut kehidupan masyarakat biasa.

Karena itu, cara terbaik merayakan Hari Lahir Pancasila bukan hanya dengan upacara dan seremonial. 

Cara terbaik merayakannya adalah memastikan nilai-nilainya hidup dalam kebijakan publik, dalam pendidikan, dalam pelayanan keagamaan, dan dalam tindakan sehari-hari kita.

Api Pancasila yang pernah dinyalakan Bung Karno di bawah teduhnya pohon sukun Ende tidak boleh hanya menjadi kenangan sejarah. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved