Opini
Opini: Pancasila di Dinding, Krisis Karakter di Ruang Kelas
Banyak negara mulai menyadari bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat lagi diukur hanya melalui nilai akademik.
Oleh : Damasus Lodolaleng
Staf Pengajar SMKN 2 Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Lahir Pancasila. Di sekolah-sekolah, kantor pemerintahan, kampus, dan berbagai ruang publik, lima sila Pancasila dibacakan dengan penuh khidmat.
Spanduk-spanduk terpampang di berbagai sudut kota. Namun di tengah kemeriahan peringatan tersebut, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan bersama yakini apakah Pancasila masih hidup dalam perilaku generasi muda Indonesia, ataukah ia hanya tersisa sebagai tulisan yang menempel di dinding ruang kelas?
Pertanyaan ini menjadi penting ketika kita menyaksikan berbagai persoalan karakter yang semakin mengkhawatirkan di kalangan pelajar.
Baca juga: Opini: Hari Lahir Pancasila dan Magnifica Humanitas di Tengah Ledakan Artificial Intelligence
Perundungan, kekerasan di sekolah, menurunnya penghormatan kepada guru, maraknya ujaran kebencian di media sosial, hingga rendahnya kepedulian sosial menjadi fenomena yang semakin sering menghiasi ruang publik kita.
Anak-anak dan remaja yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa justru tumbuh di tengah krisis nilai yang perlahan menggerus fondasi kebangsaan.
Kekhawatiran ini bukan hanya milik Indonesia. Dunia saat ini sedang menghadapi tantangan serupa.
Banyak negara mulai menyadari bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat lagi diukur hanya melalui nilai akademik.
Organisasi internasional seperti Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menegaskan bahwa masa depan pendidikan harus mampu membangun keterampilan sosial dan emosional seperti empati, tanggung jawab, integritas, kerja sama, dan disiplin diri.
Negara-negara seperti Finlandia, Denmark, dan Norwegia bahkan menjadikan pendidikan karakter sebagai jantung sistem pendidikan mereka.
Di Finlandia, kesejahteraan siswa menjadi bagian penting dari kurikulum nasional.
Sekolah tidak hanya bertugas mengajar matematika dan sains, tetapi juga membangun lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung perkembangan sosial peserta didik.
Di Denmark, sekolah menjadi ruang belajar demokrasi dan dialog. Sementara di Norwegia, pendidikan diarahkan untuk membentuk kepedulian sosial, kesetaraan, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Mereka memahami bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh kualitas karakter warganya.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Thomas Lickona, tokoh pendidikan karakter modern.
Menurutnya, karakter yang baik terdiri atas tiga unsur utama yakini moral knowing, moral feeling, dan moral action.
Artinya, seseorang tidak cukup hanya mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Ia juga harus mencintai kebaikan dan membiasakan diri melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks Indonesia, persoalannya bukan karena anak-anak tidak mengetahui bahwa perundungan itu salah, kekerasan itu buruk, atau menyontek itu tidak terpuji.
Persoalannya adalah pengetahuan tersebut belum sepenuhnya menjelma menjadi perilaku hidup.
Sementara itu Ki Hadjar Dewantara jauh-jauh hari telah mengingatkan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Pendidikan bukan sekadar mengejar nilai rapor atau kelulusan ujian. Pendidikan adalah upaya membentuk manusia yang beradab.
Karena itu, ketika sekolah berhasil meluluskan siswa yang cerdas tetapi gagal membentuk karakter mereka, sesungguhnya pendidikan belum mencapai tujuan utamanya.
Berbagai data menunjukkan bahwa persoalan karakter di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang serius.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ribuan kasus pelanggaran hak anak sepanjang tahun 2025.
Sebagian besar kasus tersebut berkaitan dengan kekerasan terhadap anak, dan lebih dari sepertiganya terjadi di lingkungan pendidikan.
Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) juga mencatat peningkatan kasus kekerasan di sekolah dalam beberapa tahun terakhir.
Fakta ini menunjukkan bahwa sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi tumbuh kembang anak justru masih menyimpan berbagai persoalan yang mengancam pembentukan karakter peserta didik.
Di Nusa Tenggara Timur, situasi ini juga patut menjadi perhatian bersama. Data pemerintah daerah menunjukkan ratusan kasus kekerasan terhadap anak masih terjadi sepanjang tahun 2025.
Selain itu, masyarakat juga mulai mengkhawatirkan munculnya gejala menurunnya budaya hormat kepada orang tua dan guru, melemahnya semangat gotong royong, serta semakin kuatnya pengaruh media sosial dalam membentuk cara berpikir generasi muda.
Kita harus jujur dan mengakui bahwa krisis karakter tidak lahir dari sekolah semata.
Karakter seorang anak dibentuk oleh seluruh lingkungan yang mengelilinginya. Keluarga adalah sekolah pertama yang mengajarkan kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kasih sayang.
Namun kesibukan orang tua sering kali membuat ruang dialog dalam keluarga semakin berkurang.
Banyak anak kini lebih akrab dengan layar telepon genggam dibandingkan percakapan hangat bersama orang tua mereka.
Di sisi lain, ruang-ruang kerohanian yang dahulu menjadi tempat pembinaan moral generasi muda juga menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Sebagian anak dan remaja semakin jauh dari aktivitas pembinaan iman yang seharusnya membantu mereka memahami nilai kasih, pengampunan, pelayanan, dan penghargaan terhadap sesama.
Lingkungan pergaulan juga memiliki pengaruh yang sangat besar. Pada masa remaja, teman sebaya sering kali menjadi rujukan utama dalam mengambil keputusan.
Ketika lingkungan pergaulan dipenuhi budaya kekerasan, perundungan, dan perilaku negatif lainnya, maka nilai-nilai tersebut mudah ditiru dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Namun tantangan terbesar hari ini mungkin datang dari ruang yang tidak terlihat seperti dunia digital.
Media sosial telah menjadi guru baru bagi generasi muda. TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, dan berbagai platform lainnya tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga membentuk cara berpikir, pola perilaku, bahkan nilai hidup seseorang.
Dalam banyak kasus, media sosial lebih berpengaruh daripada guru, orang tua, maupun tokoh agama.
Anak-anak menghabiskan berjam-jam setiap hari di depan layar, menyerap berbagai informasi tanpa selalu memiliki kemampuan untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk.
Ini menyebabkan generasi muda hidup dalam arus informasi yang sangat deras. Mereka mudah terpapar budaya instan, ujaran kebencian, hoaks, perilaku konsumtif, dan berbagai bentuk kekerasan verbal yang perlahan dianggap sebagai hal biasa.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kita sedang menghadapi ancaman serius terhadap masa depan bangsa.
Pada momentum kali ini ada relevansi Pancasila kembali menemukan maknanya. Krisis karakter sesungguhnya adalah krisis penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila itu sendiri.
Ketika kekerasan dan perundungan terjadi di sekolah, sila kedua tentang Kemanusiaan yang Adil dan Beradab sedang dilanggar.
Ketika diskriminasi dan intoleransi tumbuh di tengah masyarakat, sila ketiga tentang Persatuan Indonesia sedang dilemahkan.
Ketika budaya dialog digantikan oleh budaya saling menghina di media sosial, sila keempat tentang musyawarah kehilangan rohnya.
Ketika anak-anak tidak memperoleh lingkungan pendidikan yang aman dan bermutu, sila kelima tentang Keadilan Sosial masih jauh dari kenyataan.
Bahkan ketika pendidikan agama hanya berhenti pada hafalan tanpa membentuk perilaku, sila pertama kehilangan makna yang sesungguhnya.
Karena itu, memperingati Hari Lahir Pancasila tidak boleh berhenti pada upacara dan slogan.
Pancasila harus dihidupkan kembali dalam keluarga, sekolah, rumah ibadah, organisasi kepemudaan, komunitas masyarakat, hingga ruang digital yang setiap hari dikunjungi generasi muda.
Pendidikan karakter bukan tanggung jawab guru semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh bangsa.
Hari ini Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar menjawab soal ujian.
Indonesia membutuhkan generasi yang jujur ketika tidak diawasi, yang berani menghormati perbedaan, yang mampu berdialog tanpa kebencian, yang peduli terhadap sesama, dan yang menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup.
Sebab pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi kecerdasan anak-anak kita, tetapi juga oleh seberapa kuat karakter yang mereka miliki.
Jika Pancasila benar-benar ingin tetap hidup, maka tempat terbaik untuk menanamkannya bukanlah pada dinding sekolah, melainkan di dalam hati setiap anak-anak Flobamora. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Meneropong Kualitas Tata Kelola MBG dari Perspektif Produsen dan Konsumen |
|
|---|
| Opini: Rumah Biru, Dapur Sunyi dan Miliaran yang Berputar |
|
|---|
| Opini: Manfaat Digitalisasi Bagi Petani dalam Meningkatkan Usahatani |
|
|---|
| Opini: Jejak Perjuangan Putera NTT Yoseph Ola Bebe Melawan Belanda |
|
|---|
| Opini: Mengenal Orthoebolavirus, Sebentuk Ancaman Kesehatan Masyarakat Global yang Nyata |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Damasus-Lodolaleng.jpg)