Opini
Opini: Mengenal Orthoebolavirus, Sebentuk Ancaman Kesehatan Masyarakat Global yang Nyata
Kapasitas laboratorium nasional telah disiagakan penuh untuk mendukung deteksi cepat dan respons dini penyakit ebola.
Selain terpapar langsung cairan tubuh, orthoebolavirus dapat menular juga melalui benda atau barang yang terkena/ terkontaminasi cairan tubuh penderita ebola dan tidak menular melalui udara.
Bagaimana caranya cairan tubuh penderita, cairan tubuh binatang dan kontak dengan benda yang terkontaminasi dapat masuk ke tubuh?
Pintu masuk utamanya melalui kulit yang terluka atau tergores, selaput mukosa seperti mata, hidung, mulut dan bagian tubuh lainnya.
Permukaan “pintu masuk” tersebut yang dilindungi oleh sel epitelium, dan sel goblet serta dilengkapi dengan mekanisme imun tubuh tingkat pertama.
Kompetisi sel inang dengan orthoebolavirus terjadi pada sistem imun tubuh tingkat pertama yaitu melalui mekanisme perlawanan sel dendritik, dan makrofag namun ketika glikoprotein virus ebola berhasil berikatan dengan reseptor spesifik sel epitelium, dan sel goblet (TIM-1) maka mulai terjadi replikasi sel orthoebolavirus.
Ketika kompetisi ini dimenangkan oleh orthoebolavirus, terjadilah invasi virus ke organ hati, ginjal, limpa, kalenjar getah bening, paru-paru dan organ lainnya sehingga menimbulkan kegagalan fungsi sistemik organ dan menyebabkan perdarahan internal, syok bahkan kematian.
Invasi orthoebolavirus ini menyebabkan sejumlah cairan tubuh yang diproduksi oleh organ-organ terinfeksi tersebut sangat potensial dan berisiko tinggi untuk penularannya karena di sanalah tempat hidup ideal bagi orthoebolavirus untuk mereplikasi diri.
Baca juga: Opini: Belajar Mendalam atau Sekadar Rumit?
Setelah kontak dengan cairan tubuh penderita ebola atau benda terkontaminasi, masa inkubasi orthoebolavirus berkisar antara 2 hingga 21 hari, reratanya 8 sampai 10 hari untuk muncul gejala ebola.
Seseorang akan menyadari bahwa dirinya terinfeksi orthoebolavirus ketika mulai timbul gejala ebola dan pada fase timbul gejala ini sebagai penanda waktunya mulai dapat menularkan orthoebolavirus kepada orang lain.
Narasi panjang perjalanan orthoebolavirus dengan berbagai ciri khas dan seluk beluknya sangat penting untuk diketahui oleh semua kalangan masyarakat agar dapat melakukan mitigasi risiko penularan orthoebolavirus di Indonesia dan khususnya di Provinsi NTT.
Saat ini orthoebolavirus bersirkulasi dan menyebabkan sejumlah “nyawa melayang” di Kongo, dan Uganda dengan fatality rate orthoebolavirus tinggi mencapai 90 persen dengan rerata sekitar 50 persen namun potensi pandemi atau penularan secara luas ke semua belahan dunia lebih kecil dibandingkan dengan virus Sars Cov-19.
Masyarakat dapat berkontribusi untuk menangkal penyebaran orthoebolavirus di tanah air tercinta ini dengan melakukan tindakan pencegahan seperti tidak melakukan kontak dengan binatang liar atau konsumsi daging kelelawar liar.
Mengacu pada imbauan Kemenkes RI, meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak valid atau hoaks terkait ebola yang beredar di media sosial.
Edukasi mengenai penyakit ini dinilai penting agar masyarakat memiliki pemahaman yang benar.
Imbauan khusus juga diberikan bagi warga negara yang baru kembali dari perjalanan ke negara terdampak seperti Kongo dan Uganda.
| Opini - Teologi Pembebasan Katolik di Tengah Revolusi AI: Membaca Magnifica Humanitas |
|
|---|
| Opini: Ketika Sekolah Menjauhkan Murid dari Layar |
|
|---|
| Opini: Belajar Mendalam atau Sekadar Rumit? |
|
|---|
| Opini: Hari Lahir Pancasila dan Magnifica Humanitas di Tengah Ledakan Artificial Intelligence |
|
|---|
| Opini: Polemik Anggaran Qurban Pakai APBN |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hermina-Mau-SKMMSc.jpg)