Opini
Opini: Ketika Sekolah Menjauhkan Murid dari Layar
Belakangan ini beberapa negara mulai mengambil langkah serius terkait penggunaan gadget dan media sosial pada anak-anak.
Dalam laporan ANTARA juga disebutkan bahwa keberhasilan pembatasan penggunaan gadget tidak hanya bergantung pada aturan sekolah atau pemerintah saja, tetapi pada apa yang disebut sebagai “segitiga pengawasan”: ketegasan pemerintah dalam membuat dan menegakkan aturan, kepatuhan platform digital, serta keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak-anak di dunia digital.
SMA Kristen Indonesia Sejahtera tidak hanya menjadi sekolah tetapi juga menjadi rumah bagi siswa-siswinya.
Tanpa penggunaan handphone di lingkungan sekolah dan asrama; siswa dan siswi memiliki banyak waktu untuk melakukan berbagai macam aktivitas sejak mereka bangun di pagi hari hingga waktu istirahat tiba.
Tidak sedikit sekolah non asrama yang telah melakukan pembatasan penggunaan handphone saat pembelajaran berlangsung, zona bebas gadget di kelas atau perpustakaan, serta membiasakan siswa kembali dekat dengan buku, berinteraksi bersama teman melalui diskusi.
Di luar sekolah, peran orang tua juga menjadi sangat penting. Pembatasan penggunaan handphone di sekolah akan sulit berhasil jika di rumah anak tetap bebas menggunakan gadget tanpa batas dan tanpa pendampingan.
Anak-anak belajar bukan hanya dari aturan, tetapi juga dari kebiasaan yang mereka lihat setiap hari.
Karena itu, membangun kebiasaan membaca, berbicara bersama, makan tanpa layar, atau menyediakan waktu khusus tanpa gadget di rumah mungkin menjadi langkah kecil yang bisa berdampak besar.
Handphone tidak sepenuhnya salah namun yang terjadi adalah anak-anak perlahan menjauh dari kebiasaan membaca, mencatat dan menikmati proses belajar dengan tenang.
Anak-anak perlu didampingi untuk bisa menggunakan teknologi secsra sadar dan seimbang.
Karena di era digital ini, tantangan terbesar bukan hanya akses terhadap teknologi, melainkan bagaimana menjaga agar teknologi tidak mengambil seluruh perhatian anak dari proses belajar dan kehidupan nyata di sekitarnya.
Seringkali untuk kembali dekat dengan buku, kita memang perlu sedikit menjauh dari layar. (*)
*) Antonetta Maryanti Lengo adalah guru SMA Kristen Indonesia Sejahtera dan pengelola Rumah Baca Lekunik. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, kebudayaan, dan literasi anak.
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Antonetta-Maryanti-Lengo.jpg)