Opini
Opini: Moderasi Versus Ambiguitas
Dalam wacana kontemporer, moderasi beragama sering dipahami sebagai tidak ekstrem, tidak keras, dan menjaga harmoni sosial.
Alasan utama imam-imam kepala, ahli-ahli taurat, dan penatua berkata, “tidak tahu” adalah takut kepada rakyat dan takut kehilangan legitimasi...
Moderasi beragama bisa rusak jika didorong oleh tekanan politik, kepentingan massa, dan algoritma media sosial. Moderasi kemudian berubah rupa dari kebijaksanaan moral menjadi manajemen opini.
Hilangnya Fungsi Profetik
Moderasi sering dipromosikan sebagai upaya menjaga perdamaian. Itu penting. Namun kisah ini mengingatkan kita bahwa perdamaian tanpa kebenaran adalah ilusi... Moderasi harus tetap memiliki daya kritis.
Berani melawan ketidakadilan, menolak manipulasi agama, dan mengoreksi penyalahgunaan kekuasaan.
Substansi dari moderasi profetik adalah damai dan kritis, bukan damai dan diam ( moderasi birokratis).
Moderasi sebagai Keberanian, Bukan Kenyamanan
Moderasi bukan sikap “lunak” tetapi sebuah keberanian moral. Yesus tidak ekstrem, tetapi juga tidak ambigu. Sikap tersebut kontras dengan para tokoh dalam kisah "kami tidak tahu".
Mereka memilih aman tetapi kehilangan integritas. Yesus justru memilih benar kendati menghadapi risiko.
Moderasi tidak identik dengan kenyamanan, tetapi dengan kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian untuk tetap adil di tengah tekanan.
Pesan untuk Indonesia
Dalam konteks indonesia yg majemuk, kisah ini mengingatkan kita akan bahaya dari toleransi yang permisif.
Netralitas tentu bukanlah pilihan yang tepat ketika berhadapan dengan para korban ketidakadilan dan diskriminasi. Berani menentang kekerasan atas nama agama adalah sikap yang terpuji.
Kisah "kami tidak tahu" mengingatkan kita bahwa moderasi yang sehat harus bisa menghargai perbedaan, menolak ekstremisme, dan secara konsisten menyuarakan kebenaran secara etis.
Moderasi yang Otentik
Kisah "kami tidak tahu" mengajarkan kita bahwa moderasi beragama harus berdiri di atas tiga pilar.
Pertama, kejujuran intelektual: tidak berpura-pura “tidak tahu” demi rasa aman yang semu.
Kedua, keberanian moral: berani mengambil posisi meski berisiko. Ketiga, kebijaksanaan dialogis: menyampaikan kebenaran tanpa kekerasan atau arogansi.
Jawaban “Kami tidak tahu” adalah kritik abadi terhadap agama yang kehilangan keberanian, takut terhadap konsekuensi, dan mengganti kebenaran dengan strategi.
Harus disadari bahwa tantangan terbesar dari moderasi beragama hari ini, bukan hanya ekstremisme tetapi juga ketidakjujuran yang bersembunyi di balik moderasi.
Jadi, moderasi sejati bukan berarti diam, netral, dan/atau menghindar, tetapi berdiri di tengah—dengan kebenaran di satu tangan dan kasih di tangan yang lain. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hendrikus-Maku-05.jpg)