Sabtu, 30 Mei 2026

Opini

Opini: Menyembelih Ego di Altar Kehidupan

Kita hidup di tengah masyarakat yang terlalu mudah memuliakan manusia karena atribut keduniawiannya. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MUHAMMAD G.ARIFOEDDIN
Muhammad G. Arifoeddin 

Filosofi Qurban dan Akhir Perjalanan Sang Pion

Oleh H. Muhammad G Arifoeddin, S.Pd, M.M
Ketua Umum MUI Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT.

POS-KUPANG.COM - Selama hidup, manusia begitu sibuk mengejar posisi. Ada yang ingin menjadi paling dihormati, paling kaya, paling berkuasa, dan paling dipandang. 

Dunia modern dengan segala panggung digital dan hierarki sosialnya membuat kita percaya bahwa nilai diri ditentukan oleh seberapa tinggi tempat kita berdiri dibanding orang lain. 

Akibatnya, banyak orang rela mengorbankan ketenangan hati, retaknya hubungan persaudaraan, bahkan menggadaikan nilai kemanusiaannya sendiri demi mempertahankan status yang sebenarnya sementara.

Kita hidup di tengah masyarakat yang terlalu mudah memuliakan manusia karena atribut keduniawiannya. 

Orang kaya lebih didengar, orang terkenal lebih dipuja, dan orang berkuasa sering diperlakukan seolah-olah mereka memiliki derajat kemanusiaan yang lebih tinggi. 

Baca juga: Opini: Kurban dan Pesan Kemanusiaan- Antara Ritus, Spiritual, dan Sosial

Sementara mereka yang hidup dalam kesederhanaan kerap dipandang kecil, sunyi, dan tidak berarti.

Padahal, waktu memiliki cara yang sangat adil untuk meruntuhkan semua ilusi itu. Kehidupan pada akhirnya tidak benar-benar membedakan siapa raja dan siapa pion. 

Kematian akan datang kepada semuanya dengan cara yang sama sunyinya. Dan ketika permainan dunia ini selesai, semua manusia akan kembali menjadi sama di hadapan tanah dan waktu.

Di tengah kepungan ilusi kemegahan dunia inilah, Hari Raya Qurban 1447 H hadir di tahun 2026 ini bukan sekadar sebagai ritual tahunan, melainkan sebagai sebuah tamparan spiritual yang mengingatkan kita untuk kembali membumi.

Qurban: Sebuah Manifestasi Menyembelih Kesombongan

Secara harfiah, Qurban berasal dari kata Qaruba yang berarti mendekatkan diri. 

Namun, bagaimana mungkin kita bisa mendekat kepada Allah yang Maha Suci jika hati kita masih dipenuhi dengan kotoran kesombongan, keangkuhan jabatan, dan perasaan lebih tinggi dari manusia lain?

Dalam pandangan Islam, esensi dari menyembelih hewan qurban adalah simbol dari menyembelih sifat kebinatangan (al-shifat al-bahimiyah) yang ada di dalam dada manusia. 

Sifat binatang itu adalah egois, serakah, ingin menang sendiri, merasa paling kuat, dan gemar menindas yang lemah.

Allah SWT secara tegas mengingatkan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah fisik dari apa yang kita megahkan di dunia:

“Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan mencapai (keridhaan) Allah, tetapi yang mencapai (keridhaan)-Nya adalah ketakwaan kamu...” (QS. Al-Hajj: 37)

Momentum Idul Adha 1447 H mengajak kita merefleksikan kembali: Sudahkah kita menyembelih "ego" kita? 

Ataukah selama ini kita justru memelihara keangkuhan tersebut dan mengorbankan orang lain demi memuaskan nafsu kekuasaan kita?

Kekuasaan Hanya Singgah Sementara: Belajar dari Ibrahim dan Ismail

Banyak manusia lupa bahwa posisi yang ia banggakan hari ini sebenarnya hanyalah titipan waktu. 

Jabatan bisa hilang dalam sekejap, kekayaan bisa berpindah tangan, popularitas bisa memudar, dan manusia yang dulu dipuja perlahan akan dilupakan oleh dunia yang terus bergerak.

Namun anehnya, demi sesuatu yang sementara itu, manusia sering berubah menjadi keras. 

Ia rela merendahkan orang lain, menindas, bahkan kehilangan nuraninya sendiri hanya agar tetap berada di puncak teratas. 

Padahal sejarah Islam berkali-kali menunjukkan bahwa tidak ada kekuasaan yang benar-benar abadi. Semua yang tinggi pada akhirnya akan turun.

Refleksi Nyata: Tengoklah kisah Nabi Ibrahim AS

Beliau adalah seorang ayah  yang mendapatkan titipan anak yang begitu dinantikannya, Ismail AS. 

Ketika Allah menguji Ibrahim untuk menyembelih Ismail, ujian aslinya bukanlah tentang pisau dan leher sang anak, melainkan tentang meruntuhkan rasa kepemilikan. 

Allah ingin menguji apakah di dalam hati Ibrahim ada yang lebih besar daripada Allah.

Ketika Ibrahim meruntuhkan ego "kepemilikan" tersebut dan berserah diri sepenuhnya, Allah menggantinya dengan seekor domba yang besar. 

Kisah ini adalah tamparan bagi kita di tahun 2026: jika Nabi Ibrahim sang kekasih Allah (Khalilullah) bersedia melepas apa yang paling ia cintai, lalu dengan hak apa kita menggenggam erat jabatan, harta, dan gengsi duniawi seolah-olah itu milik kita selamanya?

Rasulullah SAW juga mengingatkan kita tentang hakikat harta yang sebenarnya dalam sebuah hadis:

“Hamba berkata, ‘Hartaku, hartaku.’ Padahal hartanya yang sesungguhnya hanyalah tiga: apa yang ia makan lalu sirna, apa yang ia pakai lalu usang, dan apa yang ia sedekahkan lalu tetap abadi (di akhirat). Sisa dari itu akan lenyap dan ditinggalkan untuk manusia.” (HR. Muslim)

Kematian dan Lapangan Shalat Idul Adha: Pengingat Tentang Kesetaraan
Coba perhatikan ketika kita berdiri di lapangan atau masjid saat menunaikan Shalat Idul Adha 1447 H. Di dalam barisan saf, tidak ada tanda pengenal jabatan. 

Seorang pejabat tinggi bisa jadi berdiri berdampingan dengan seorang buruh cuci. Seorang miliarder merapatkan kakinya dengan seorang fakir miskin. Mereka sujud dengan dahi yang sama-sama menyentuh bumi.

Ini adalah simulasi kecil dari apa yang akan terjadi di hadapan kematian. Di hadapan kematian, semua perbedaan dunia runtuh. 

Tidak ada lagi singgasana, tidak ada lagi status sosial, tidak ada lagi jarak antara mereka yang dulu dipandang mulia dan mereka yang dianggap biasa.

Tubuh manusia akan kembali menjadi tanah dengan cara yang sama: sunyi, sendiri, terbungkus selembar kain putih tanpa kantong untuk membawa kartu kredit, papan nama, atau piagam penghargaan. 

Satu-satunya yang ikut masuk ke dalam liang lahat adalah jejak perbuatan dan ketulusan kita selama hidup.

Manusia Sering Terlalu Sibuk Bermain Peran

Ada orang yang menghabiskan hidupnya hanya untuk terlihat penting di mata dunia, tetapi lupa menjadi baik kepada sesama. Ia sibuk menjaga citra, mengejar penghormatan, dan membangun menara kebesaran dirinya sendiri.

Padahal ketika semua selesai, dunia tidak akan terlalu lama mengingat seberapa tinggi jabatan seseorang. Yang lebih membekas dan abadi justru bagaimana ia memperlakukan manusia lain selama hidupnya. 

Di dalam Islam, konsep ini tercermin indah dalam pembagian daging qurban. Hewan yang disembelih tidak dinikmati sendiri, melainkan dibagi secara adil kepada fakir miskin dan tetangga sekitar.

Qurban mengajarkan kita untuk turun dari menara gading, melihat ke bawah, dan merasakan lapar serta susahnya orang lain. 

Manusia tidak benar-benar dikenang karena tahtanya, melainkan karena kebaikan hatinya. Rasulullah SAW menegaskan:

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani)

Kesimpulan: Menjadi Bijaksana Sebelum Kembali ke Kotak yang Sama

Semakin seseorang memahami hakikat hidup dan ajaran Islam, semakin ia sadar bahwa tidak ada alasan untuk menjadi sombong. 

Semua yang kita miliki hari ini bisa hilang kapan saja. Semua yang kita banggakan suatu hari nanti pasti akan ditinggalkan.

Kesadaran tentang kefanaan ini bukan untuk membuat kita putus asa atau berhenti berusaha, melainkan agar kita belajar hidup dengan lebih bijaksana. 

Agar kita tidak mabuk oleh pujian dunia yang semu, dan agar kita tidak memandang rendah mereka yang hari ini berada di bawah kita.

Ukuran terbesar kemuliaan manusia di hadapan Allah bukanlah tentang seberapa tinggi ia pernah berdiri, melainkan seberapa takwa dan seberapa baik sikapnya kepada orang lain sebelum akhirnya ia kembali masuk ke dalam bumi.

Jika pada momen Hari Raya Qurban 1447 H ini kita diingatkan kembali bahwa pada akhirnya sang raja dan sang pion akan kembali ke dalam kotak penyimpanan yang sama, lalu untuk apa kita begitu sibuk merasa lebih tinggi daripada sesama selama hidup di dunia? 

Sembelihlah ego itu sebelum kematian yang menyembelih paksa semua kebanggaan kita. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved