Sabtu, 30 Mei 2026

Opini

Opini: Minus Malum dalam Pendidikan di NTT 

Anak-anak di daerah pedalaman dipaksa mempelajari konsep-konsep abstrak yang tidak pernah menyentuh pengalaman konkret mereka sehari-hari. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DIDIMUS WUNGO
Didimus Wungo 

Oleh : Didimus Wungo
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Filsuf Yahudi-Portugis, Baruch Spinoza  pernah melihat manusia sebagai makhluk rasional yang hanya dapat mencapai kebebasannya ketika ia mampu mengetahui sebab-sebab yang membentuk hidupnya. 

Bagi Spinoza, manusia yang tidak menggunakan nalarnya akan sangat mudah dikuasai oleh ketakutan, keadaan, bahkan sistem yang menindas dirinya sendiri. 

Pemikiran ini terasa sangat dekat ketika melihat wajah pendidikan yang terjadi di Nusa Tenggara Timur ( NTT) saat ini. 

Pembangunan gedung sekolah terus dilakukan, program pendidikan terus diluncurkan, angka partisipasi sekolah terus-menerus diumumkan, tapi kemampuan berpikir kritis masyarakat justru masih tertatih. 

Pendidikan hadir secara administratif, namun cenderung gagal melahirkan kesadaran rasional yang mampu membebaskan manusia dari lingkaran kemiskinan dan ketidakberdayaan. 

Baca juga: Opini - Refleksi Budaya Lokal NTT dalam Terang Stoisisme

Namun di tengah keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib, sistem pendidikan di NTT justru sedang menghadapi krisis yang lebih serius dari sekadar persoalan fasilitas yang ada. 

Setiap kali mutu pendidikan berada di titik yang paling rendah, jawaban yang selalu muncul dari birokrasi hampir selalu sama; meningkatkan pembangunan ruang kelas baru, pembagian gawai, digitalisasi sekolah, atau bahkan pergantian kurikulum sekolah yang terus dibongkar pasang. 

Semua ini memang merupakan respons yang penting, akan tetapi  persoalannya tidak pernah benar-benar menyentuh akar masalah. 

Pendidikan kita sedang kehilangan fondasi etis dan arah rasionalnya. Sekolah sudah hadir secara fisik, tetapi masih gagal membangun daya pikir yang membebaskan manusia. 

Di tengah situasi inilah gagasan Minus Malum  memperoleh relevansinya. Secara sederhana Minus Malum dapat dipahami sebagai ikhtiar untuk meminimalkan kerusakan sosial melalui kebangkitan kesadaran rasional bersama. 

Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan angka kelulusan atau stratifikasi administratif, tetapi harus mampu melahirkan manusia-manusia yang mampu memahami realitas hidupnya secara kritis. 

Tanpa adanya kemampuan berpikir seperti itu, sekolah hanya akan terus bergerak di tempat dan menjadi ruang reproduksi ketidakberdayaan. 

Pemikiran ini memiliki benang merah yang kuat dengan filsafat Baruch Spinoza dalam karya monumentalnya, Ethics. 

Spinoza melihat kehidupan sebagai jaringan sebab-akibat yang selalu terhubung antara satu sama lain. 

Manusia hanya dapat menjadi bebas ketika ia mampu memahami sebab-sebab yang memengaruhi hidupnya. 

Jika pemikiran ini dibawa ke dalam realitas pendidikan di NTT, maka muncul pertanyaan: apa gunanya anak masuk sekolah jika mereka tidak dilatih membaca kenyataan hidupnya sendiri?

Selama ini banyak peserta didik di NTT hanya diarahkan untuk menghafal definisi, mengejar nilai ujian, dan tunduk pada sistem pembelajaran yang jauh dari realitas sosial mereka. 

Anak-anak yang tinggal di daerah pedalaman dipaksa mempelajari konsep-konsep abstrak yang tidak pernah menyentuh pengalaman konkret mereka sehari-hari. 

Mereka banyak belajar teori tentang lingkungan tanpa memahami krisis air bersih yang terjadi di desanya sendiri. 

Mereka menghafal konsep ekonomi tanpa pernah diajak membaca mengapa kemiskinan terus berlangsung padahal berbagai usaha telah diupayakan. 

Pendidikan semacam ini menciptakan apa yang dapat disebut sebagai inklusi semu. Anak memang hadir secara fisik di sekolah, tetapi kesadarannya tidak pernah benar-benar dibangunkan. 

Dampaknya sangat nyata. Ketika sekolah gagal dalam membangun kemampuan berpikir kritis, generasi muda menjadi kelompok yang rentan terhadap berbagai bentuk eksploitasi sosial. 

Banyak anak muda kita akhirnya terjebak dalam lingkaran kemiskinan struktural, migrasi tanpa prosedur yang jelas, hingga berakhir dengan human trafficking. 

Mereka sangat mudah diperalat karena sejak awal pendidikan sudah gagal melatih mereka membaca struktur sebab-akibat yang mengendalikan hidup mereka. 

Dalam situasi panas seperti ini, sekolah tidak lagi menjadi alat pembebasan peradaban, melainkan tanpa sadar ikut mengawetkan ketidakberdayaan masyarakat. 

Karena itu, pendidikan di NTT masih sangat membutuhkan transformasi ke arah yang lebih baik. 

Kurikulum tidak boleh terus dirancang secara sentralistik dan homogen seolah-oleh seluruh daerah di Indonesia memiliki kondisi yang sama. 

Realitas lokal NTT harus masuk ke ruang kelas sebagai sumber pengetahuan yang hidup. 

Persoalan pertanian lahan kering, krisis air, ketahanan pangan lokal, dan migrasi tenaga kerja harus dijadikan bagian dari proses pembelajaran. 

Sejak dini murid perlu dilatih untuk bertanya, menilai dan menganalisis realitas yang terjadi di sekitarnya secara ilmiah. 

Artinya bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada sistim hafalan, tetapi harus melatih keberanian berpikir dan menghasilkan argumen pribadi. 

Dalam konteks ini, guru juga perlu keluar dari pola lama yang hanya berperan sebagai penyampai materi. 

Guru semestinya menjadi fasilitator dialog yang menghidupkan daya kritis peserta didik. 

Ruang kelas harus lebih hidup menjadi ruang diskusi yang mendorong murid membaca kenyataan hidupnya sendiri. Selain itu, cara pandang terhadap budaya lokal juga perlu diubah. 

Yang terjadi selama ini kebudayaan NTT sering hanya diperlukan sebagai simbol eksotis untuk kebutuhan seremoni dan pariwisata. 

Padahal, masyarakat lokal memiliki pengetahuan yang sangat kaya tentang cara bagaimana bertahan hidup di tengah kondisi geografis yang tidak menentu. 

Pengetahuan tentang pola tanam, pengelolaan air, hingga sistem sosial adat merupakan bentuk kearifan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat. 

Semua itu seharusnya tidak disimpan begitu saja sebagai romantisme masa lalu, tetapi dijadikan mitra dialog modern di dalam dunia pendidikan. 

Keberhasilan pendidikan tidak bisa lagi diukur hanya melalui angka kelulusan yang sering dijadikan komoditas politik. 

Pendidikan harus diukur dari sejauh mana sekolah mampu mengubah kehidupan masyarakat di sekitarnya. 

Apakah sekolah mampu menekan angka putus sekolah? Apakah sekolah mampu melahirkan solusi bagi persoalan desa?

Apakah pendidikan mampu membuat generasi muda NTT bertahan dan berkembang di tanahnya sendiri? 

Pertanyaan-pertanyaan ini harus menjadi ukuran utama keberhasilan pendidikan kita. 

Baruch Spinoza memperkenalkan konsep Conatus, yaitu saya dalam diri setiap makhluk untuk bertahan hidup dan membangunkan dirinya secara optimal. Daya hidup itu sebenarnya juga ada dalam masyarakat NTT

Namun daya itu akan terus terobsesi apabila model pendidikan hanya melahirkan manusia yang takut berpikir dan terbiasa menerima keadaan secara pasif. 

Melalui gagasan Minus Malum, pendidikan di NTT seharusnya diarahkan untuk membangkitkan kesadaran baru bahwa sekolah tidak didirikan sekadar untuk mencetak tenaga kerja murah atau ahli penghafal teori, tetapi untuk menyalakan api rasionalitas manusia.  (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News

 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved