Jumat, 29 Mei 2026

Opini

Opini: Satu Momen, Banyak Tafsir- Polemik Gawai Pejabat di Era Digital

Perangkat digital telah menjadi bagian penting dari kerja birokrasi modern yang menuntut kecepatan dan akurasi. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GERGORIUS BABO
Gergorius Babo 

Sementara itu, logika sosial menekankan etika kehadiran, fokus perhatian, dan representasi simbolik. 

Kedua logika ini tidak selalu berjalan searah, tetapi saling bertemu dalam satu ruang praktik yang sama, yaitu ruang publik yang kini juga menjadi ruang digital.

Situasi ini semakin kompleks ketika komunikasi politik berlangsung dalam ekosistem digital yang sangat bergantung pada visualisasi singkat. 

Video pendek, foto, dan potongan momen menjadi bentuk utama konsumsi informasi publik. 

Format ini tidak menyediakan ruang yang cukup untuk menjelaskan konteks peristiwa secara utuh. 

Akibatnya, ruang interpretasi menjadi sangat terbuka dan makna tindakan dapat bergeser tergantung pada cara informasi dikemas, disebarkan, dan dikonsumsi oleh publik.

Dalam banyak kasus, klarifikasi atau penjelasan resmi baru muncul setelah persepsi awal terbentuk dan menyebar luas. 

Ketimpangan waktu antara viralitas konten awal dan penjelasan lanjutan menciptakan kondisi yang tidak seimbang dalam pembentukan opini publik. 

Persepsi pertama sering kali bertahan lebih lama karena sudah terinternalisasi dalam percakapan publik, meskipun kemudian muncul informasi yang memberikan konteks berbeda.

Di sisi lain, transformasi digital dalam pemerintahan membawa dampak signifikan terhadap efisiensi kerja birokrasi. 

Proses administrasi menjadi lebih cepat, koordinasi antarunit menjadi lebih responsif, dan pengelolaan data menjadi lebih terstruktur. 

Namun perubahan ini juga membawa konsekuensi pada aspek legitimasi sosial yang bersifat simbolik. 

Masyarakat tidak hanya menilai hasil akhir dari kebijakan atau program pemerintah, tetapi juga cara kerja yang terlihat secara langsung di ruang publik.

Ketika cara kerja tersebut tidak selaras dengan ekspektasi simbolik masyarakat, penilaian publik dapat bergeser meskipun tidak terdapat pelanggaran substantif. 

Di titik ini muncul ketegangan antara logika teknis yang menekankan efisiensi dan logika sosial yang menekankan kesopanan, fokus, serta representasi jabatan publik. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved