Sabtu, 23 Mei 2026

Beranda Kita

Beranda Kita: Amfoang dan Gibran

Mudah-mudahan tak lama setelah kunjungan Wapres Gibran, deru mesin ekskavator terdengar di Amfoang. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
ILUSTRASI 

POS-KUPANG.COM - Amfoang, dengan segala lara dan potensinya merupakan miniatur paling jujur yang merumuskan wajah Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Dua hari setelah bangsa Indonesia merayakan Hari Kebangkitan Nasional, Amfoang dikunjungi Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka. Apa maknanya ini menurut tuan dan puan?

Sejak fajar kemerdekaan Indonesia berkumandang 17 Agustus 1945, Amfoang di Kabupaten Kupang, seolah jalan di tempat. 

Tertinggal jauh di belakang, terutama kemerdekaan mengakses jalan dan jembatan. Keterisolasian telah lama seolah menjadi takdir masyarakat Amfoang.

Baca juga: Beranda Kita: Nasibmu Samsul

Kepedihan Amfoang kian menyayat lewat jerit warga di tengah krisis energi. Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) memaksa harga Pertamax melambung hingga menyentuh angka Rp 25.000 per liter. 

Wilayah luas yang mencakup enam kecamatan ini laksana benteng alam yang kokoh sekaligus terkurung. Amfoang amat sulit ditembus baik lewat jalur darat maupun laut. 

Jalanan tanah berdebu saat kemarau dan berubah menjadi kubangan lumpur saat hujan, berpadu dengan belasan kali besar tanpa jembatan. Bayangkan tuan dan puan berada di sana? Perjalanan ke Amfoang adalah soal hidup dan mati. 
Dalam kondisi normal saja, tidak hujan dan banjir, jarak 165 kilometer dari Kota Kupang harus ditebus guncangan fisik selama lebih dari empat jam.  

Saat musim penghujan tiba, Amfoang benar-benar lumpuh, terkurung sepi sekian bulan. Tak heran, di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN), mutasi ke Amfoang kerap dianggap sebagai nestapa. 

Hari ini di tengah pekatnya krisis, kehadiran helikopter yang membawa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di lapangan UPTD SD Inpres Oelamopu, Desa Manubelon, menyalakan secercah asa bagi orang Amfoang

Gibran mengukir sejarah sebagai wakil presiden pertama yang sudi menjejakan kaki di Amfoang Barat Daya. 

Sorak-soraim pelajar, mahasiswa, hingga para tetua yang memadati lapangan sejak pagi merupakan simbol dahaga panjang akan kehadiran negara. 

Di sela-sela jabat tangan hangat bersama warga, terselip harapan besar agar runtuhnya Jembatan Termanu dan Jembatan Kapsali yang putus total sejak tahun 2023 segera mendapatkan jembatan baru dari pemerintah pusat.

Kehadiran RI 2 adalah momentum emas untuk membuktikan bahwa Amfoang tidak lagi dilupakan. Akan tetapi sejarah birokrasi di negeri ini mengingatkan kita agar tidak terbuai romantisme kunjungan pejabat negara. 

Sebagaimana disuarakan dengan lantang oleh Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang, kedatangan pemimpin nasional harus melahirkan eksekusi nyata, bukan sekadar komoditas citra politik.

Baca juga: Beranda Kita: Dunia Terdiam Sejenak

Amfoang adalah altar pembuktian bagi komitmen pemerintahan pusat. Mudah-mudahan tak lama setelah kunjungan Wapres Gibran, deru mesin ekskavator terdengar di Amfoang

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved