Opini
Opini: Orang Desa Tidak Pakai Dolar?
Ketika rupiah melemah, yang harus segera dijaga adalah meja makan rakyat dan keberlanjutan kerja produktif desa.
Bagi petani kecil, pelemahan rupiah dapat meningkatkan harga pupuk, pestisida, benih tertentu, suku cadang mesin, dan ongkos distribusi hasil panen.
Bagi nelayan dan buruh harian, pelemahan kurs bisa terasa lewat kenaikan harga solar, kebutuhan rumah tangga, dan bahan konsumsi pokok; sementara upah mereka tetap atau naik sangat lambat.
Karena itu, mengatakan desa tidak terdampak dolar sama saja dengan menutup mata terhadap mekanisme ekonomi yang justru paling keras memukul orang miskin.
Lebih jauh lagi, ucapan semacam itu bisa menciptakan masalah etis dalam komunikasi publik.
Ketika pemimpin memakai kalimat yang terdengar akrab tetapi mengabaikan penderitaan struktural, yang dibangun bukan keberpihakan, melainkan citra tenang di tengah kenyataan yang berat.
Rakyat kecil tidak membutuhkan hiburan retoris; mereka membutuhkan kejujuran, perlindungan, dan kebijakan yang berpihak.
Kritik yang Perlu Disampaikan
Klarifikasi dari pihak pemerintah menyebut bahwa ucapan Presiden dimaksudkan untuk menghibur warga desa dan menenangkan publik.
Namun persoalannya bukan hanya niat, melainkan dampak dari pesan tersebut dalam ruang publik.
Retorika yang meremehkan hubungan antara kurs dolar dan kesejahteraan desa berisiko melahirkan sikap abai terhadap penderitaan rakyat kecil, seolah-olah krisis nilai tukar hanyalah urusan elite kota.
Padahal kepemimpinan yang sehat tidak mengaburkan persoalan ekonomi dengan kalimat simplistis. Pemimpin boleh menenangkan, tetapi tidak boleh meninabobokan.
Pemimpin boleh optimistis, tetapi tidak boleh memutus hubungan antara data makro dan jeritan rumah tangga miskin.
Dalam demokrasi, kritik terhadap ucapan semacam ini bukan bentuk kebencian kepada negara, melainkan usaha menjaga agar kebijakan publik tetap berpijak pada kenyataan.
Pemerintah harus diingatkan bahwa ketahanan desa bukan alasan untuk meremehkan dampak kurs, melainkan alasan untuk lebih serius melindungi desa dari dampak kurs.
Mikha 6:8 dan Ujian Moral bagi Retorika Publik
Nabi Mikha menegaskan: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Ayat ini memberi ukuran moral yang tajam untuk menilai pidato politik dan kebijakan negara.
Yorim Yosavat Kause
Opini Pos Kupang
Dolar Amerika Serikat
dolar amerika
Berita Kurs Rupiah
kurs rupiah
Pendeta GMIT
Gereja Masehi Injili di Timor
Meaningful
| Opini: Membaca Pesta Babi dari Pesan Paus Leo XIV |
|
|---|
| Opini: Magnifica Humanitas- Menjaga Manusia di Ambang Algoritma |
|
|---|
| Opini: Menghantar Makan, Menanam Perilaku: Menelisik Peran Kader Pendamping Keluarga |
|
|---|
| Opini: Ketika Inflasi Tak Cukup Seksi untuk Disebut Politik |
|
|---|
| Opini: Membangun Kesadaran Ekologis Pemilih Pemula di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yorim-Yosavat-Kause.jpg)