Opini
Opini: Orang Desa Tidak Pakai Dolar?
Ketika rupiah melemah, yang harus segera dijaga adalah meja makan rakyat dan keberlanjutan kerja produktif desa.
Sebuah pernyataan publik layak disebut baik bukan karena terdengar menenangkan, tetapi karena adil terhadap kenyataan, setia pada penderitaan rakyat, dan rendah hati di hadapan fakta.
Prinsip berlaku adil menuntut agar negara mengakui siapa yang paling menderita akibat pelemahan rupiah.
Prinsip mencintai kesetiaan menuntut keberpihakan yang konsisten, bukan sekadar slogan populis.
Prinsip rendah hati menuntut pemimpin untuk tidak merasa cukup dengan retorika yang lucu atau akrab, melainkan bersedia mendengar suara rakyat yang dompetnya semakin tipis.
Dengan terang Mikha 6:8, retorika “orang desa tidak pakai dolar” harus diuji secara moral.
Bila kalimat itu membuat pemerintah lupa bahwa warga miskin tetap menanggung dampak kurs lewat harga pangan, transportasi, energi, dan biaya produksi, maka retorika itu gagal menjadi ungkapan keadilan.
Solusi yang Lebih Bertanggung Jawab
Pertama, pemerintah perlu jujur dalam komunikasi ekonomi. Masyarakat tidak perlu dipanaskan dengan kepanikan, tetapi juga tidak boleh ditenangkan dengan penyederhanaan yang menyesatkan.
Komunikasi publik harus menjelaskan bahwa pelemahan rupiah memang berdampak pada rakyat kecil, sambil menunjukkan langkah-langkah konkret untuk menahan dampaknya.
Kedua, perlindungan bagi warga miskin harus diperkuat melalui stabilisasi harga pangan, pengawasan distribusi, subsidi yang tepat sasaran, serta perlindungan biaya produksi petani dan nelayan.
Ketika rupiah melemah, yang harus segera dijaga adalah meja makan rakyat dan keberlanjutan kerja produktif desa.
Ketiga, negara perlu memperkuat ekonomi desa secara substantif, bukan hanya simbolik.
Kemandirian desa tidak cukup dipidatokan; ia harus dibangun lewat akses pupuk terjangkau, infrastruktur distribusi yang efisien, energi yang stabil, dukungan pasar bagi hasil tani dan nelayan, serta penguatan koperasi yang benar-benar menolong produsen kecil.
Keempat, para pemimpin publik harus belajar bahwa kerendahan hati adalah bagian dari kompetensi politik.
Dalam situasi ekonomi yang sulit, rakyat lebih menghormati pemimpin yang jujur atas masalah dan serius menghadirkan solusi daripada pemimpin yang terdengar tenang tetapi gagal membaca luka sosial.
Harapan Rakyat Kecil di Tengah Guncangan Rupiah
Kalimat “orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok” mungkin dimaksudkan untuk menenangkan, tetapi ia menyisakan masalah serius ketika dipertentangkan dengan realitas ekonomi rakyat kecil.
Yorim Yosavat Kause
Opini Pos Kupang
Dolar Amerika Serikat
dolar amerika
Berita Kurs Rupiah
kurs rupiah
Pendeta GMIT
Gereja Masehi Injili di Timor
Meaningful
| Opini: Membaca Pesta Babi dari Pesan Paus Leo XIV |
|
|---|
| Opini: Magnifica Humanitas- Menjaga Manusia di Ambang Algoritma |
|
|---|
| Opini: Menghantar Makan, Menanam Perilaku: Menelisik Peran Kader Pendamping Keluarga |
|
|---|
| Opini: Ketika Inflasi Tak Cukup Seksi untuk Disebut Politik |
|
|---|
| Opini: Membangun Kesadaran Ekologis Pemilih Pemula di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yorim-Yosavat-Kause.jpg)