Opini
Opini: Seorang Ratu dari Bumi Merapu
Logika pikir pembangunannya terbaca mudah. Kita mulai dari yang nyata dan menyentuh kebutuhan dasar.
Anggaran Rp 13,175 miliar disiapkan untuk membantu 455 rumah tidak layak huni.
"Rumah yang layak akan menentukan kesehatan, rasa aman, bahkan masa depan anak-anak. Karena itu, pemerintah harus hadir, memastikan masyarakat kecil memperoleh hunian yang manusiawi."
Ada pembangunan infrastruktur fasilitas kesehatan masyarakat. Pada Jumat 13 Februari 2026 Bupati meresmikan gedung baru Puskesmas Tanggaba di Desa Kadahang, Kecamatan Tambolaka Kota.
Pada Rabu, 19 Februari 2026, Kabupaten Sumba Barat Daya menerima penghargaan dari Kementerian Hukum atas keberhasilan dalam menyediakan akses bantuan hukum melalui Pos Pelayanan Hukum atau Posbankum.
Bagaimana daerah bisa menghadirkan akses keadilan yang merata sampai di tingkat desa.
"Penghargaan ini kami didekasikan untuk seluruh masyarakat Sumba Barat Daya. Dengan adanya Posbankum, kita ingin memastikan setiap warga, tanpa kecuali, mendapat hak-hak hukumnya dengan mudah dan tanpa biaya," demikian Ratu Wula seusai menerima penghargaan ini.
Tagline, "Menyala" bukan sekadar slogan ompong. Tapi bikin sejarah nyata menuju Sumba Barat Daya yang lebih baik mulai dari yang mendasar.
Di sektor energi, Pemkab SBD mendapat apresiasi nasional. Melalui Pos Kupang Award 2025 pada 16 Desember 2025 di Aston Hotel Kupang.
Penghargaan Kategori Pembangunan Infrastruktur Esensial, diberikan. Karena, dinilai berhasil dalam program meteran listrik gratis bagi warga yang sebelumnya tidak terjangkau.
Program ini dinilai sukses menekan ketimpangan energi dan mempercepat elektrifikasi di wilayah Bumi Marapu.
Ini sederet jejak digital yang bisa direkam. Ada bentuk pengakuan Nasional karena punya komitmen di tingkat lokal.
Perempuan, Insinyur, dan Tanah Marapu
Yang membuat gerak Ratu Wula unik adalah perpaduan latar belakangnya. Dia seorang insinyur sipil dan perempuan asli Sumba pertama yang menahkodai Sumba Barat Daya.
Ia paham betul karakter Sumba pada umumnya. Dan beliau punya credo bahwa pembangunan fisik tanpa racikan gurih penguatan sumber daya manusia,terasa akan pincang. Bangun jiwa, bangun raga, itu baru mantap.
Karena itu, setiap program yang ia kemas, selalu menyentuh tiga dimensi kunci: rumah, energi, dan keadilan.
Dan di tengah tantangan geografis dan keterbatasan, Ratu Wula memilih jalan elok: kolaboratif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Wilfrid-Babun-SVD-01.jpg)