Opini
Opini: Stunting Epistemik di Nusa Tenggara Timur
Di sinilah persoalan stunting tidak lagi hanya menyentuh aspek biologis, tetapi juga memasuki wilayah pengetahuan.
Antara Mitos, Kebohongan dan Krisis Pengetahuan
Oleh: Yohanes Goa
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Stunting selama ini dipahami terutama sebagai persoalan kesehatan dan gizi.
Perhatian publik umumnya tertuju pada tubuh anak yang gagal bertumbuh secara optimal akibat kekurangan nutrisi jangka panjang.
Namun, di balik persoalan biologis itu terdapat masalah lain yang jarang dibicarakan: stunting dalam ranah pengetahuan.
Masyarakat dapat mengalami “stunting epistemik”, yaitu keadaan ketika kemampuan membangun pengetahuan yang sehat terhambat oleh keyakinan yang keliru, informasi yang menyesatkan, dan cara berpikir yang tidak kritis.
Baca juga: Opini: Siapa yang Sebenarnya Menjadi "Babi"?
Dalam konteks ini, tubuh bukan satu-satunya yang dapat mengalami keterlambatan pertumbuhan; cara masyarakat memahami kebenaran pun dapat mengalami kondisi serupa.
Persoalan ini relevan dengan situasi Nusa Tenggara Timur ( NTT), wilayah yang selama bertahun-tahun bergulat dengan angka stunting yang tinggi.
Berdasarkan data nasional beberapa tahun terakhir, prevalensi stunting di NTT masih berada di atas rata-rata nasional meskipun menunjukkan tren penurunan.
Di banyak daerah, masih ditemukan kasus anak mengalami gangguan pertumbuhan akibat faktor gizi, sanitasi, pendidikan, dan akses kesehatan yang terbatas.
Namun di balik angka statistik itu terdapat realitas konkret yang sering luput diperhatikan: masih berkembang keyakinan bahwa tubuh anak yang pendek semata-mata disebabkan keturunan, adanya pantangan makanan tertentu bagi ibu hamil, atau anggapan bahwa kondisi anak akan membaik dengan sendirinya seiring pertumbuhan.
Sebagian masyarakat bahkan lebih mempercayai informasi turun-temurun daripada penjelasan medis.
Di sinilah persoalan stunting tidak lagi hanya menyentuh aspek biologis, tetapi juga memasuki wilayah pengetahuan.
Epistemologi membantu membaca persoalan ini secara lebih mendalam. Dalam pembahasan epistemologi, kebohongan bukan sekadar mengatakan sesuatu yang salah.
Seseorang dikatakan berbohong ketika ia menyampaikan sesuatu yang berbeda dari apa yang ia yakini benar, dengan maksud agar orang lain mempercayainya.
Struktur tradisional kebohongan terdiri dari tiga unsur: seseorang menyatakan suatu hal, ia mengetahui atau meyakini hal itu salah, dan ia bermaksud menipu orang lain.
Fokusnya bukan hanya isi pernyataan, melainkan juga dampaknya terhadap perubahan keyakinan pihak yang mendengarkan.
Baca juga: SGGI 2024: 14.785 Keluarga Berisiko Stunting, Pemkab Ende Perkuat Gerakan Orang Tua Asuh
Jika pendekatan ini digunakan untuk membaca realitas stunting di NTT, persoalannya menjadi lebih kompleks. Tidak semua informasi yang salah dapat langsung disebut kebohongan.
Banyak orang tua atau anggota masyarakat mungkin menyampaikan pandangan tertentu tentang kesehatan anak karena mereka sungguh percaya bahwa hal itu benar.
Misalnya, keyakinan bahwa anak pendek adalah faktor keturunan atau larangan mengonsumsi jenis makanan tertentu selama kehamilan.
Dalam perspektif epistemologi St. Agustinus, situasi demikian lebih tepat disebut sebagai kekeliruan (falsity), bukan kebohongan. Mereka menyampaikan sesuatu yang keliru tetapi tidak bermaksud menipu.
Namun masalah muncul ketika informasi yang sebenarnya telah terbukti salah terus dipertahankan dan disebarkan. Di era digital, arus informasi bergerak sangat cepat.
Berbagai konten kesehatan beredar melalui media sosial tanpa proses verifikasi. Ada orang yang membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya.
Tetapi ada juga pihak-pihak yang sengaja menyebarkan informasi menyesatkan demi kepentingan tertentu: popularitas, keuntungan ekonomi, atau pengaruh sosial. Dalam konteks ini, struktur kebohongan epistemik mulai tampak.
Seseorang mengetahui atau patut mengetahui bahwa informasi tersebut tidak benar, tetapi tetap menyampaikannya sehingga orang lain mempercayainya.
Menariknya, epistemologi kontemporer memperluas pemahaman tentang kebohongan.
Sejumlah pemikir seperti Sorensen, Saul, dan Stokke menolak anggapan bahwa niat menipu harus selalu menjadi syarat kebohongan.
Menurut pandangan non-deceptive atau minimalis, seseorang dapat disebut berbohong jika ia mengatakan sesuatu yang ia ketahui salah, sekalipun tidak berniat menipu.
Dalam konteks stunting di NTT, pendekatan ini penting. Sering kali informasi salah disebarkan bukan karena niat jahat, melainkan karena kebiasaan, ketidaktelitian, atau sekadar mengulang apa yang pernah didengar.
Namun dampaknya tetap sama: masyarakat membangun keyakinan berdasarkan informasi yang keliru.
Di sinilah letak bahaya stunting epistemik. Masalah utamanya bukan semata-mata kurangnya informasi, melainkan kualitas hubungan masyarakat dengan pengetahuan itu sendiri.
Epistemologi menunjukkan bahwa keberhasilan kebohongan terletak pada perubahan keyakinan penerima informasi. Kebohongan dianggap berhasil ketika orang lain mempercayainya.
Artinya, persoalan terbesar bukan hanya siapa yang menyampaikan informasi salah, melainkan bagaimana masyarakat menerima dan memproses informasi tersebut.
Karena itu, upaya mengatasi stunting di NTT tidak cukup berhenti pada intervensi gizi, bantuan kesehatan, atau program pembangunan fisik.
Yang dibutuhkan juga adalah pembangunan kesadaran epistemik: kemampuan untuk mempertanyakan, memeriksa evidensi, dan membedakan antara keyakinan, kekeliruan, dan kebenaran.
Sebab masyarakat yang sehat tidak hanya ditentukan oleh tubuh yang bertumbuh baik, tetapi juga oleh cara berpikir yang bertumbuh sehat.
Jika tubuh dapat mengalami stunting, pengetahuan pun dapat mengalami hal yang sama. Dan ketika mitos, kekeliruan, serta kebohongan lebih dipercaya daripada evidensi, yang dipertaruhkan bukan hanya kesehatan anak-anak NTT hari ini, tetapi masa depan generasi berikutnya. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yohanes-Goa-Mahasiswa-Fakultas-Filsafat-Unwira.jpg)