Breaking News
Selasa, 19 Mei 2026

Opini

Opini: Ekonomi NTT Mau Kemana?

Masih banyak PR dan duduk bersama untuk mendiskusikan kondisi ekonomi NTT ini dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI P. STEFEN MESSAKH
P. Stefen Messakh 

Oleh: P. Stefen Messakh 
Bussiness Development Consultan - Jakarta.

POS-KUPANG.COM - “Air hujan jatuh di tanah sendiri namun sungainya mengalir ke tempat lain” mungkin itu salah satu gambaran tentang kompleksitas permasalahan ekonomi di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT).

NTT memiliki potensi yang sangat besar baik itu potensi Pertanian, Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Pariwisata dan masih banyak lagi  namun apakah telah memberikan dampak terhadap ekonomi NTT secara nyata?

Sektor ekonomi  masih kebanyakan dikelola secara tradisional dan dengan infrastruktur pengolahan yang masih minim dan supply change yang belum diatur secara terstruktur dan terarah. 

Baca juga: Opini: Kolonialisme Modern

Kita mencontohkan sektor ekonomi primer yaitu pertanian dengan luas lahan pertanian ± 721.701 Ha sesuai data BPS NTT tahun 2024 yang datanya diperbaharui tanggal 10 Desember 2025 dengan rincian:

  • Lahan sawah    ±113.463 hektare
  • Lahan pertanian kering    ±591.166 hektare
  • Lahan sementara tidak diusahakan ±17.072 hektare
  • Total    ±721.701 hektare

Dengan luas panen sekitar 168 ribu lebih hektare atau jika diasumsikan panen dapat dilakukan 2 kali secara optimal seharusnya bisa mencapai 226 ribu hektare (luas lahan sawah dikalikan 2 kali panen). 

Sedangkan gabah kering giling sebanyak 707 ribu lebih atau 6,2 ton per hektare. Ini hasil yang baik namun belum optimal.  

Usaha-usaha di sektor perikanan dan kelautan masih berskala kecil saat ini (produksi udang dan lobster di Sumba Timur dan garam di Rote belum dilaksanakan). 

Pemerintah Provinsi NTT telah merilis beberapa capaian yang menurut saya ‘masih cukup baik’ yaitu  negosiasi anggaran dari Pemerintah Pusat yang dialokasikan di NTT untuk beberapa sektor.

Namun hal itu belum bisa dinilai sebagai keberhasilan karena semua masih berupa angka dan belum dieksekusi. 

Hasil atau capaiannya akan kelihatan apabila semua itu telah ditransaksikan dan ditransmisi dalam sistem ekonomi NTT.

APBD dan APBN hanyalah trigger sedangkan yang menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi adalah sisi konsumsi dan investasi. 

Jagung masih dijual mentah, sapi dijual hidup, rumput laut dijual raw material padahal keuntungan terbesar itu ada pada industri pengolahannya dan hilirisasi yang dapat ditransaksikan di Provinsi NTT.

Sangat disayangkan hal ini belum ada gebrakan nyata dalam keterbatasan fiskal daerah untuk dapat dioptimalkan. 

Daerah kita kalah dua kali dalam menangani proses produksi  dan distribusi karena manakala semua barang mentah dikirim nantinya masuk kembali ke  NTT dengan biaya logistik yang mahal dan distribusi yang panjang.

Hal ini berdampak pada harga jual yang terkerek naik. Otomatis berdampak kepada masyarakat NTT sebagai konsumen dari barang jadi tersebut. Apalagi daya beli masyarakat yang rendah di tengah ruang fiskal pemerintah provinsi yang terbatas saat ini.

Kondisi tersebut membutuhkan campur tangan pemerintah. Kondisi  ini jangan terus dibiarkan sehingga masyarakat menilai seolah olah pemerintah hanya menjadi penonton terhadap beban masyarakat. 

Padahal pemerintah juga sedang berusaha dengan konsep pembangunan yang ada untuk dapat mensejahterakan rakyatnya.

Pertumbuhan ekonomi yang hanya didorong dan diharapkan dari fiskal daerah itu hanya dalam jangka pendek. 

Pada akhirnya yang terpenting adalah bagaimana adanya capital accumulation dengan membangun industri pengolahan, hilirisasi dan memperbesar sektor swasta untuk dapat berkiprah maksimal dalam mengkapitalisasi potensi di daerah menjadi transaksi ekonomi dan terciptanya mekanisme pasar yang seimbang.

Hilirisasi bukannya kita melihat secara parsial namun secara komprehensif mulai dari hulu sampai hilir. 

Capaian menciptakan pasar dari suatu terobosan yang namanya NTT Mart merupakan langkah yang sangat baik. Namun apakah ini akan berkepanjangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di NTT secara berkelanjutan? 

Berapa besar memberikan kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi? Bagaimana kondisi di hulu, contohnya ketersediaan lahan untuk menghasilkan bahan baku? 

Siapa yang mengelola? Hasil dari bahan baku berkualitas atau tidak? Siapa yang memproduksi? Dengan apa memproduksi? Berapa hasil atau kapasitas produksi? 

Bagaimana distribusi  dan dengan apa distribusinya? Pasar yang disediakan oleh pemerintah, berapa omzet yang dijual atau terjual?  Apakah mekanisme pasar tercipta atau tidak? 

Pertanyaan-pertanyaan ini yang harus disiasati dan dijawab pemerintah dengan strategi dan program kerja di bidang ekonomi yang mumpuni sehingga mekanisme pasar dapat tercipta baik dari sisi supply dan demand.

Sedikit hitungan yang saya berikan sesuai data Badan Pusat Statistik NTT PDRB NTT 2024 ada  di angka  Rp 137 Triliun dan ICOR di tahun yang sama 12,4 persen (sangat tidak efisien).

Ini  berarti untuk  mendongkrak pertumbuhan sampai 5 persen sesuai target Pemerintah Provinsi NTT harus membutuhkan nilai investasi kurang lebih Rp 84,9 Triliun guna mencapai pertumbuhan itu (include single project NTT Mart). 

Data ini menunjukan bahwa tujuan mulia Pemerintah Provinsi NTT untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di NTT dari konsep hilirisasi kecil yang sudah dijalankan ini apakah akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi di NTT

Masih banyak PR dan duduk bersama untuk mendiskusikan kondisi ekonomi NTT ini dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul. 

Semua stakeholder diharapkan mencari jalan keluar dan eksekusi yang cepat serta terarah. Bila perlu butuh quantum leap dalam perkenomian NTT sehingga kesejahteraan masyarakat yang menjadi tujuan pemerintah benar-benar nyata.

Strategi untuk meningkatkan nilai investasi yang dapat berdampak secara jelas dan terarah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi membutuhkan keterlibatan semua pihak dan bukan pemerintah saja. 

Kompleksitas masalah guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi di NTT yaitu: Produktivitas rendah, nilai tambah rendah,  konektivitas mahal (untuk distribusi),  SDM belum kuat dan belum ada terobosan digitalisasi dalam ekonomi NTT secara tepat. 

NTT tidak kekurangan potensi, tetapi masih menghadapi tantangan dalam mengubah potensi menjadi produktivitas, nilai tambah, dan kesejahteraan masyarakat. 

Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tidak cukup hanya bertumpu pada belanja pemerintah, tetapi membutuhkan transformasi struktural melalui industrialisasi, hilirisasi, penguatan SDM, serta integrasi ekonomi digital dan pasar yang efisien. 

Tugas siapa ini?

Hal ini perlu suatu breakthrough dari semua elemen dan stakeholder di NTT agar sepaham dan saling membantu guna mendukung slogan Pemerintah Provisi NTT yaitu “Ayo Bangun NTT”. Selamat berdiskusi dan selamat berjuang  untuk kita semua membangun NTT.  (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved