Selasa, 19 Mei 2026

Opini

Opini: Kolonialisme Modern

Film dapat menjadi medium memahami krisis kemanusiaan. Sinema bukan sekadar industri hiburan komersial. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOSEPH YONETA M. WUWUR
Yoseph Yoneta Motong Wuwur 

Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Kolonialisme modern tidak lagi hadir melalui perang terbuka. Ia bergerak melalui pasar global, budaya konsumsi, dan teknologi digital. 

Manusia merasa bebas, tetapi hidup dalam kendali sistem. Film Pesta Babi membaca situasi itu secara gelap dan simbolik. 

Pada saat sama, karya dokumenter Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale memperlihatkan eksploitasi tanah dan tubuh rakyat secara nyata. Sinema akhirnya menjadi ruang kritik atas krisis empati sosial modern.

Luka Kuasa

Kolonialisme tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti wajah. Dahulu penjajahan hadir melalui tentara dan senjata. Kini kuasa bergerak lewat ekonomi global dan budaya populer. 

Tubuh manusia menjadi arena perebutan kuasa modern. Film ini membaca perubahan itu secara tajam dan emosional.

Baca juga: Opini: NTT Darurat Kesehatan Jiwa- Mematahkan Sunyi, Menyelamatkan Nyawa

Dalam film, pesta tampil sebagai metafora kekuasaan sosial. Elite menikmati kemewahan di tengah penderitaan rakyat kecil. Mereka yang lemah menjadi objek permainan sistem. Situasi itu mengingatkan sejarah kolonial Nusantara. 

Bentuk penjajahan berubah, tetapi logika kuasanya tetap sama. Kekerasan tampil banal, dingin, dan tampak biasa. Tidak ada heroisme. Ketegangan lahir dari relasi sosial yang timpang. 

Penonton diajak melihat luka di balik kemewahan. Kekuasaan bekerja perlahan dan terlihat wajar. Di situlah kritik sosial film terasa kuat.

Sinema akhirnya menjadi medium refleksi sosial. Film tidak sekadar menawarkan hiburan visual. Ia membuka ruang membaca ulang realitas masyarakat. 

Penonton dipaksa melihat ketimpangan secara dekat. Banyak luka sosial selama ini disembunyikan. Film menghadirkannya kembali ke ruang publik.

Tubuh Kapital

Dalam masyarakat modern, tubuh manusia menjadi komoditas ekonomi. Nilai manusia diukur dari fungsi produktif semata. Relasi sosial bergerak mengikuti logika pasar global. 

Kapitalisme bekerja melalui eksploitasi tenaga dan hasrat manusia. Buruh kecil tetap hidup dalam posisi rentan. 

Ketimpangan sosial terus diproduksi secara sistematis. Film menangkap kecemasan itu lewat simbol dan atmosfer psikologis. 

Kekerasan tampil biasa, tetapi sangat politis. Tubuh menjadi objek yang dipakai lalu dibuang. 

Manusia kehilangan otonomi atas dirinya sendiri. Sistem ekonomi bekerja tanpa empati sosial. 

Dalam pembacaan pascakolonial, dominasi hadir tanpa kekerasan terbuka. Kuasa bergerak lewat media digital dan budaya populer. Publik diarahkan tunduk secara sukarela pada sistem. 

Konsumerisme menjadi alat pengendalian paling efektif. Manusia mengejar citra dan kenikmatan semu tanpa henti. Solidaritas perlahan berubah menjadi kompetisi.

Masyarakat hidup dalam tekanan ekonomi. Banyak orang bekerja tanpa rasa aman. Ketakutan kehilangan pekerjaan. Sistem pasar memanfaatkan kecemasan manusia setiap hari. 

Film memperlihatkan kondisi itu secara simbolik dan emosional. Sinema menjadi kritik terhadap kapitalisme mutakhir.

Hasrat Global

Kolonialisme modern bergerak melalui penguasaan hasrat manusia. Publik didorong terus mengonsumsi tanpa batas moral. Media sosial memperkuat budaya pamer dan kompetisi visual. 

Kehidupan berubah menjadi perlombaan citra tanpa akhir. Banyak orang merasa gagal dan tidak cukup. Sistem pasar memanfaatkan kecemasan itu secara sistematis.

Film memperlihatkan kehampaan psikologis masyarakat modern. Tokoh-tokohnya tampak hidup, tetapi kehilangan makna kemanusiaan. 

Mereka bergerak dalam ruang sosial yang dingin dan rapuh. Kemewahan hadir tanpa kedalaman emosional. 

Relasi antarmanusia terasa penuh kepura-puraan. Semua itu membentuk suasana sosial yang menekan.

Situasi tersebut relevan dengan kehidupan urban Indonesia. Kota besar dipenuhi simbol kemewahan konsumtif. Pada saat sama, rakyat kecil menghadapi tekanan ekonomi harian. 

Jurang sosial semakin terlihat di ruang publik. Krisis empati menjadi persoalan serius masyarakat modern. Orang mudah terhubung, tetapi sulit memahami penderitaan sesama.

Film menangkap paradoks itu secara emosional dan simbolik. Penonton diajak melihat sisi gelap kehidupan modern. Kemajuan teknologi tidak selalu melahirkan kemanusiaan. 

Modernitas justru menghasilkan kesepian dan keterasingan sosial. Sinema menjadi cermin kegelisahan zaman kontemporer. Di situlah kekuatan reflektif film terasa penting.

Trauma Kolektif

Kolonialisme meninggalkan trauma dalam kehidupan bangsa. Trauma itu hidup dalam ketakutan sosial dan  budaya. Bangsa pascakolonial sering merasa inferior terhadap Barat. 

Standar kemajuan diukur melalui ukuran asing semata. Situasi itu menciptakan krisis identitas nasional. Budaya lokal perlahan kehilangan legitimasi sosialnya.

Film membaca persoalan itu melalui tekanan psikologis tokoh-tokohnya. Mereka hidup dalam kecemasan dan kehilangan arah moral. 

Kesunyian menjadi bagian penting atmosfer film. Kamera bergerak dingin dan penuh tekanan emosional. 

Musik digunakan hemat, tetapi efektif. Penonton ikut merasakan rasa takut sosial yang menekan.

Kekerasan hadir perlahan dan menghantam kesadaran publik. Tidak ada kenyamanan emosional bagi penonton. 

Film membangun pengalaman menonton yang tidak nyaman. Ketegangan psikologis terasa sepanjang cerita berlangsung. Di situlah kekuatan artistik karya ini muncul.

Trauma sosial ternyata tidak pernah benar-benar selesai. Ia hidup dalam cara masyarakat memandang dirinya sendiri. Banyak orang kehilangan kepercayaan terhadap akar budaya.  

Film mengingatkan pentingnya kesadaran sejarah kolektif. Bangsa tanpa refleksi mudah dijajah kembali.

Politik Pangan

Pesta dalam film tidak sekadar simbol kemewahan sosial. Makanan menjadi metafora distribusi kuasa dan ketimpangan ekonomi. Siapa yang makan menentukan posisi sosialnya. Siapa yang lapar berada dalam posisi tertindas. 

Logika kolonial selalu terkait penguasaan sumber daya pangan.  Dahulu tanah dan hasil bumi dikuasai kolonial asing. Kini eksploitasi berlangsung melalui korporasi global modern. 

Petani kecil tetap hidup dalam kerentanan ekonomi. Harga kebutuhan pokok mudah dimainkan pasar global. 

Negara gagal melindungi kelompok rentan. Ketidakadilan berlangsung setiap hari.

Film membaca situasi itu. Kemewahan tampil berdampingan dengan penderitaan sosial. Penonton dipaksa melihat ironi masyarakat modern. 

Banyak orang menikmati kenyamanan tanpa peduli ketimpangan. Sensitivitas sosial perlahan melemah. Krisis empati menjadi persoalan sangat serius.

Politik pangan akhirnya bukan sekadar soal makanan. Ia terkait kuasa, ekonomi, dan relasi sosial. Siapa menguasai pangan dapat menguasai masyarakat. 

Kolonialisme modern memahami logika tersebut dengan baik. Karena itu eksploitasi terus berlangsung dalam bentuk baru. Film berhasil membaca persoalan itu secara simbolik.

Bahasa Kuasa

Kolonialisme bergerak melalui penguasaan bahasa dan makna. Bahasa menentukan cara manusia memahami realitas. 

Dalam masyarakat pascakolonial, bahasa asing dianggap lebih bergengsi. Identitas lokal perlahan kehilangan legitimasi sosialnya. 

Film menyindir kecenderungan itu secara subtil dan emosional. Tokoh-tokohnya tampak asing terhadap akar budayanya sendiri. Mereka hidup dalam ruang sosial yang kehilangan orientasi. 

Media digital memperkuat kolonialisme budaya secara masif. Informasi bergerak cepat, tetapi kehilangan kedalaman reflektif. Publik dibanjiri narasi sensasional setiap hari.

Kemampuan berpikir kritis semakin melemah. Masyarakat mudah diarahkan oleh opini populer. Ruang refleksi semakin sempit dalam kehidupan digital. 

Film justru bergerak ke arah sebaliknya. Penonton diajak membaca simbol dan relasi sosial perlahan. 

Karya budaya akhirnya memiliki fungsi pendidikan sosial. Film dapat menjadi medium memahami krisis kemanusiaan. Sinema bukan sekadar industri hiburan komersial. 

Ia dapat menjadi arsip kegelisahan sebuah bangsa. Demokrasi membutuhkan ruang refleksi Tanpa kesadaran itu, masyarakat mudah dijajah kembali. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved