Senin, 18 Mei 2026

Opini

Opini: Menolak Menjadi Asing di Tanah Sendiri

Negara hadir dalam bentuk proyek, angka dan regulasi, tetapi sering terasa jauh dari air mata rakyat kecil.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DEBBIE MARLENI SODAKAIN
Debbie Marleni Sodakain 

Persoalan yang sama tampak dalam pembangunan Bendungan Temef. Negara berbicara tentang ketahanan pangan nasional dan pembangunan strategis. 

Namun di balik bahasa pembangunan itu, sebagian masyarakat masih memikul luka kehilangan tanah, ruang hidup dan rasa memiliki terhadap masa depan mereka sendiri. 

Bagi banyak orang Timor, tanah bukan sekadar aset ekonomi. Tanah adalah tubuh ingatan. 

Di sana ada kubur leluhur, doa ibu ibu, cerita keluarga dan jejak kaki anak anak yang tumbuh bersama musim. 

Ketika tanah dipindahkan menjadi angka dalam dokumen administrasi, rakyat kecil perlahan mulai merasa asing di tanah mereka sendiri.

Kita sedang hidup di zaman ketika negara begitu fasih berbicara tentang pertumbuhan, tetapi sering gagap memahami penderitaan manusia yang harus membayar harga pertumbuhan itu.

Persekutuan yang Tidak Lari dari Luka

Dalam situasi seperti inilah Kisah Para Rasul 1:12–14 menjadi sangat mengguncang. 

Setelah Yesus terangkat ke surga, para murid berada dalam ruang ketidakpastian yang besar. Mereka belum memiliki kuasa politik. 

Mereka belum memahami masa depan. Ancaman kekuasaan dan rasa takut masih mengepung mereka. Secara manusiawi, pilihan paling aman adalah melarikan diri dan menyelamatkan diri masing masing.

Namun Alkitab justru mencatat sesuatu yang sederhana sekaligus revolusioner. Para murid tetap tinggal bersama dan bertekun dengan sehati dalam doa. 

Peristiwa itu bukan sekadar aktivitas religius. Tindakan tersebut merupakan tindakan sosial yang radikal. Dalam dunia yang penuh ketakutan, mereka memilih tidak meninggalkan satu sama lain.

Dalam horizon teologi penderitaan Dorothee Sölle (1975), iman sejati bukan pelarian spiritual dari luka dunia, melainkan keberanian untuk hadir di tengah penderitaan dan menolak diam terhadap ketidakadilan. 

Karena itu, persekutuan dalam Kisah Para Rasul bukan sekadar kumpulan orang saleh yang sedang menunggu mukjizat. Mereka adalah komunitas yang memilih tinggal di tengah luka bersama.

Persekutuan yang memulihkan ternyata bukan pertama tama tentang jawaban yang cepat, melainkan tentang keberanian untuk tetap tinggal bersama orang yang sedang terluka. 

Barangkali Roh Kudus tidak pertama tama turun di ruang yang penuh sorak sorai religius, tetapi di ruang tempat manusia memilih tidak saling meninggalkan.

Gereja Sebagai Ruang Nurani yang Memeluk Luka Rakyat

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved