Senin, 18 Mei 2026

Opini

Opini: Menolak Menjadi Asing di Tanah Sendiri

Negara hadir dalam bentuk proyek, angka dan regulasi, tetapi sering terasa jauh dari air mata rakyat kecil.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DEBBIE MARLENI SODAKAIN
Debbie Marleni Sodakain 

Situasi yang paling berbahaya sebenarnya bukan kemarahan publik itu sendiri, sebab kemarahan masih menandakan adanya harapan. Persoalan yang lebih sunyi muncul ketika masyarakat mulai terbiasa kecewa. 

Pada titik itu, rakyat kecil perlahan menerima bahwa keadilan memang tidak pernah benar benar dirancang untuk mereka.

NTT dan Tubuh Tubuh Kecil yang Menanggung Beban Negara

Krisis itu tidak berhenti di Jakarta. Krisis tersebut turun perlahan ke daerah daerah seperti Nusa Tenggara Timur, lalu menjelma menjadi tubuh tubuh kecil yang menanggung akibat dari negara yang terlalu percaya pada desain program, tetapi sering gagal menjaga manusia yang menerima program tersebut.

Di Kabupaten Timor Tengah Selatan, pemberitaan Pos Kupang dan sejumlah media lokal mencatat dugaan keracunan makanan bergizi gratis yang menimpa puluhan siswa dan guru di Amanuban Selatan. 

Data sementara menunjukkan sedikitnya 43 korban mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan program MBG, terdiri dari pelajar dan tenaga pendidik. 

Sampel makanan bahkan harus diperiksa oleh BPOM dan laboratorium kesehatan untuk menelusuri penyebab dugaan kontaminasi (Pos Kupang, 2026; OB News, 2026).

Baca juga: Warga Timor Leste Antusias Terhadap Olahraga Tradisional Indonesia

Di sebuah ruang kelas yang sunyi, seorang anak memegang perutnya sambil menangis. 

Kotak makanan yang beberapa menit sebelumnya dianggap simbol perhatian negara, tiba-tiba berubah menjadi sumber ketakutan. Orang tua panik. Guru kebingungan. Puskesmas dipenuhi kecemasan. 

Pada titik itulah sesungguhnya wajah negara diuji. Pengujian itu tidak terjadi di ruang konferensi pers atau podium pidato, melainkan di tubuh kecil seorang anak yang menahan sakit.

Ironinya, kasus Chromebook di Jakarta dan dugaan keracunan makanan di TTS sesungguhnya memiliki akar persoalan yang sama. 

Negara terlalu sering membangun kebijakan dari atas dengan asumsi bahwa semua wilayah memiliki kesiapan yang seragam, padahal Indonesia adalah ruang sosial yang sangat timpang. 

Di banyak wilayah NTT, akses internet belum stabil, listrik sering padam, infrastruktur sekolah terbatas dan tenaga kesehatan tidak merata. 

Namun negara kerap datang membawa proyek besar dengan bahasa modernisasi yang megah tanpa sungguh sungguh mendengar konteks lokal masyarakat yang akan menerima program tersebut.

Dalam perspektif public service logic, pelayanan publik tidak dapat diukur hanya dari keberhasilan distribusi program, tetapi dari pengalaman konkret masyarakat yang menerima layanan tersebut (Osborne, 2018). 

Dengan demikian, keberhasilan negara bukan ditentukan oleh berapa banyak Chromebook dibeli atau berapa paket makanan dibagikan, melainkan dari apakah rakyat sungguh mengalami hidup yang lebih aman, lebih sehat dan lebih bermartabat.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved