Breaking News
Jumat, 15 Mei 2026

Opini

Opini: Anak Sekecil Itu, sebuah Cerminan

Dari Ocha keberanian menjadi cerminan bagi kita. Kapan terakhir kali kita berani mengoreksi atasan yang salah hitung anggaran? 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DARVIS TARUNG
Darvis Tarung 

Peristiwa ini bukan sekadar viralnya, tetapi yang viral itu menjadi cermin. Viralitas itu cepat datang dan cepat pergi. Dua minggu lagi mungkin tidak ada yang ingat nama Ocha. Maka perlu dilakukan tiga hal. 

Pertama, mengakui bahwa kesalahan terjadi dan memperbaikinya secara terbuka. Kedua, menjadikan peristiwa ini sebagai bahan ajar di sekolah dan di ruang publik. Ketiga, berhenti menjadikan anak sebagai hiasan, dan mulai memperlakukan mereka sebagai subjek yang berhak bersuara. 

Jika kita melakukan itu, maka keberanian Ocha tidak akan sia-sia. Ia akan menjadi titik balik kecil yang mengingatkan kita bahwa negara ini tidak kekurangan orang pintar. 

Kita kekurangan orang yang berani menggunakan kepintarannya untuk mengatakan berhenti ketika yang salah sedang berlangsung.

Mengenang lagu Iwan Fals bahwa anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, dapat kita belajar dari Ocha tentang keberanian. 

Waktu di sini adalah sistem yang lambat berubah, budaya yang malas koreksi, dan dewasa yang lebih suka nyaman daripada jujur. Ocha sudah “berkelahi”. Ia sudah berdiri di depan kita dan berkata bahwa ada yang salah. 

Ia tidak meminta kita untuk memujinya. Ia hanya meminta kita untuk melihat kebenaran.

Sekarang giliran kita untuk menatap cermin itu bersama. Bukan untuk mencari siapa yang salah. Tapi untuk bertanya, apa yang bisa kita perbaiki mulai hari ini? 

Di kantor kita, di sekolah kita, di rumah kita, di diri kita sendiri. Karena jika kita terus menghindari cermin itu, maka suatu hari nanti anak-anak kita akan bertanya. 

Ketika kalian melihat ketidakadilan, mengapa kalian diam? Dan saat itu, kita tidak akan punya jawaban selain mengakui bahwa kita takut. Anak sekecil itu sudah bersuara. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia benar. 

Pertanyaannya adalah apakah kita cukup berani untuk mengakui bahwa keberaniannya adalah cerminan dari apa yang seharusnya kita lakukan. Dan jika kita cukup berani, maka mungkin suatu hari nanti kita tidak perlu lagi bergantung pada anak kecil untuk mengingatkan kita tentang kebenaran. Karena kita sendiri sudah belajar untuk hidup di dalamnya. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved