Breaking News
Jumat, 15 Mei 2026

Opini

Opini: Anak Sekecil Itu, sebuah Cerminan

Dari Ocha keberanian menjadi cerminan bagi kita. Kapan terakhir kali kita berani mengoreksi atasan yang salah hitung anggaran? 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DARVIS TARUNG
Darvis Tarung 

Ia bertanya kepada kita, apa yang membuat kita berbeda dari Ocha? Usia? Jabatan? Atau hanya rasa takut? 

Kita sering mengatakan bahwa perubahan besar dimulai dari hal kecil. Tapi kita jarang mau memulai dari hal kecil itu. 

Kita menunggu orang lain yang memulai. Kita menunggu yang berani. Padahal yang berani itu bisa jadi adalah kita sendiri, jika kita mau.

Salah satu penyakit bangsa ini adalah tidak bisa mendengar dengan baik. Kita punya forum, seminar, diskusi publik, tapi semua itu sering kali hanya panggung untuk mengulang apa yang sudah diputuskan. 

Suara warga kecil masuk hanya sebagai properti. Ketika suara itu mengganggu, mulai membangun skenario yang memadai. Mencari celah dengan segala daya, agar kesalahan itu ditutup dengan amat sangat rapi. 

Di sinilah kekeliruan kita yang amat dalam. Sekali lagi Ocha dari Kalbar itu, seorang anak kecil yang menjadi cermin bagi kita. 

Cermin itu bertanya kepada kita. Apakah kita mendengar untuk memahami, atau mendengar untuk menunggu giliran bicara? 

Apakah kita mendengar untuk mencari kebenaran, atau mendengar untuk mencari pembenaran? Ketika kita belajar mendengar suara mereka yang kecil, kita sedang belajar menjadi manusia. 

Karena manusia dewasa bukan manusia yang paling banyak bicara. Manusia dewasa adalah manusia yang paling mampu mendengar, terutama ketika yang didengar itu menyakitkan.

Lalu bagimana dengan masa depan? Kita sering mengeluh tentang masa depan bangsa. Kita mengeluh tentang korupsi, tentang apatisme, tentang generasi yang tidak peduli. 

Tapi kita lupa bahwa masa depan itu dibentuk oleh apa yang kita lakukan hari ini terhadap anak-anak kita. 

Jika hari ini kita membungkam Ocha dkk, maka besok kita akan mendapat generasi yang pandai diam. Jika hari ini kita menghukum keberanian, maka besok kita akan mendapat generasi yang pandai menjilat. 

Jika hari ini kita mengabaikan kebenaran kecil, maka besok kita akan mendapat kebohongan besar yang tidak bisa kita hentikan lagi. 

Sebaliknya, jika hari ini kita menghargai keberanian Ocha, maka kita sedang menanam benih untuk masa depan yang berbeda. Masa depan di mana anak-anak tidak takut bersuara. 

Masa depan di mana orang dewasa tidak takut dikoreksi. Masa depan di mana kebenaran lebih penting dari gengsi.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved