Breaking News
Jumat, 15 Mei 2026

Opini

Opini: Anak Sekecil Itu, sebuah Cerminan

Dari Ocha keberanian menjadi cerminan bagi kita. Kapan terakhir kali kita berani mengoreksi atasan yang salah hitung anggaran? 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DARVIS TARUNG
Darvis Tarung 

Peristiwa ini terjadi di dunia pendidikan kita. Selain kita menemukan sang suara dalam lomba tersebut, kita sedang mengukur sejauh mana anak-anak kita paham tentang pengetahuan kebangsaan. 

Namun pada saat yang sama, praktiknya malah jauh dari yang diharapkan. Gugurnya karakter kita bukan dilakukan oleh anak-anak yang kita didik, tetapi dari kita yang dikatakan sudah terdidik. 

Sekali lagi peristiwa ini menjadi cermin untuk kita. Cermin itu bertanya kepada kita. 

Apakah sekolah kita melahirkan manusia yang berani berkata benar, atau melahirkan manusia yang pandai berdiam diri? Apakah guru kita mendidik untuk berpikir, atau mendidik untuk patuh?

Kita punya istilah keren bernama Pendidikan Berkarakter. Ada Profil Pelajar Pancasila. 

Ada modul gotong royong, integritas, nalar kritis. Semua tertulis rapi di buku panduan dan ditempel di dinding sekolah. 

Tapi coba tanya diri kita, di ruang mana karakter itu boleh hidup? Jika seorang siswa mengoreksi juri dari MPR RI dan mendapat potongan poin, maka kita sedang mengajarkan bahwa kritis itu boleh asal jangan pada orang besar. 

Jika seorang siswa menunjukkan bukti konstitusi dan tetap disalahkan, maka kita sedang mengajarkan bahwa hukum itu fleksibel tergantung siapa yang membaca. 

Apalagi kita membela diri dengan segala macam cara. Kendala teknis berupa sound dari peserta lomba (https://www.tvonenews.com), “mungkin perasaan adik-adik saja” (https://jakarta.tribunnews.com), dan soal artikulasi yang tidak jelas, adalah komentar yang mematikan suara dari mereka yang benar.

Mungkin kita tidak berada di kursi juri. Mungkin kita tidak pernah memotong poin siswa. 

Baca juga: Yonarhanud 32 Pasgat Perkuat Sinergitas dengan Insan Pers di Kupang Melalui Media Gathering 

Tapi kita sering berada di posisi yang sama secara moral. Kita melihat atasan memotong anggaran untuk kepentingan pribadi. 

Kita diam. Kita melihat rekan kerja memalsukan laporan. Kita diam. Kita melihat kebijakan merugikan warga kecil. Kita diam dengan alasan ini bukan urusan kita. 

Diam itu nyaman. Diam itu aman. Diam itu menjaga karir, menjaga relasi, menjaga kenyamanan. 

Tapi diam itu juga membuat ketidakadilan menjadi normal. Dan ketika ketidakadilan menjadi normal, maka kita tidak butuh orang jahat untuk merusak negara. Cukup orang baik yang diam.

Ocha tidak memilih diam. Ia memilih bersuara membuktikan kebenaran itu. Ia memilih menjadi tidak nyaman demi menjaga yang benar tetap benar. Dan di sinilah cermin itu bekerja paling keras. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved