Opini
Opini: Spirit Perdamaian Kontekstual dari Rumah Adat Koke Bale
Dalam tradisi Lamaholot, rumah adat bukan sekadar tempat tinggal. Tetapi juga simbol hubungan antara manusia, leluhur, alam, dan Yang Ilahi.
Dalam kerangka inkulturasi, agama dan budaya dipahami saling memperkaya dalam membangun kehidupan sosial yang manusiawi (Shorter, 1988).
Pendekatan Bevans membantu menghindari dua ekstrem sekaligus: fundamentalisme agama yang menolak budaya lokal, dan relativisme budaya yang kehilangan horizon etik universal.
Teologi kontekstual justru melihat bahwa Roh bekerja juga dalam kebijaksanaan masyarakat adat.
Pandangan ini sejalan dengan perkembangan teologi pascakolonial yang menempatkan budaya lokal sebagai subjek, bukan objek pewartaan (Sugirtharajah, 2006).
Dalam konteks Flores Timur yang plural dan sarat memori konflik sosial-politik, pembacaan ini menjadi relevan.
Perdamaian tidak cukup dibangun melalui pendekatan birokratis atau keamanan negara semata. Perdamaian membutuhkan akar budaya yang hidup dalam kesadaran masyarakat.
Karena itu, kearifan lokal menjadi modal sosial penting dalam membangun rekonsiliasi dan kohesi sosial di tingkat akar rumput (Putnam, 1993; Lederach, 2005).
Koke Bale sebagai Kritik atas Krisis Modernitas
Modernitas sering melahirkan paradoks: teknologi berkembang, tetapi solidaritas sosial melemah. Rasionalitas instrumental mendominasi kehidupan publik.
Manusia semakin individualistik, sementara ruang dialog komunal semakin menyempit.
Kritik terhadap modernitas semacam ini banyak dikembangkan oleh Mazhab Frankfurt yang melihat bahwa rasionalitas modern sering terjebak pada logika dominasi dan efisiensi semata (Horkheimer & Adorno, 1947/2002).
Dalam situasi ini, Koke Bale menghadirkan kritik diam terhadap modernitas yang terfragmentasi.
Ia mengingatkan bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan berada dalam jaringan relasi dengan komunitas, leluhur, alam, dan Tuhan.
Pandangan kosmologis masyarakat adat seperti ini semakin relevan di tengah krisis ekologis global yang lahir dari relasi eksploitatif manusia terhadap alam (Capra, 1996).
Karena itu, rumah adat Lamaholot sesungguhnya mengandung epistemologi perdamaian yang penting bagi Indonesia hari ini. Ia menawarkan cara berpikir yang lebih dialogis, ekologis, dan kolektif di tengah budaya politik yang semakin transaksional dan eksploitatif.
Dalam kajian perdamaian kontemporer, pendekatan berbasis budaya lokal dipandang lebih berkelanjutan karena lahir dari pengalaman hidup masyarakat sendiri (Richmond, 2011).
Spirit perdamaian dari Koke Bale juga relevan dalam menghadapi krisis ekologis.
Relasi harmonis antara manusia dan alam dalam kosmologi Lamaholot menunjukkan bahwa perdamaian sejati tidak hanya menyangkut hubungan antar-manusia, tetapi juga hubungan dengan bumi.
Di titik ini, pemikiran Johan Galtung tentang ecological peace menemukan resonansinya dalam kebudayaan lokal Flores Timur (Galtung, 1996; Pope Francis, 2015).
Penutup
Koke Bale Patisirawalang dan Lamaholot umumnya bukan sekadar peninggalan budaya. Tetapi teks hidup tentang bagaimana masyarakat Lamaholot memahami perdamaian, relasi sosial, dan kehidupan bersama.
Melalui perspektif Johan Galtung, rumah adat ini memperlihatkan praktik perdamaian positif yang menolak kekerasan struktural maupun kultural.
Melalui Jürgen Habermas, ia dapat dibaca sebagai ruang komunikasi deliberatif berbasis konsensus komunitas.
Sementara melalui Stephen B. Bevans, Koke Bale menjadi medium teologi kontekstual yang menerjemahkan nilai-nilai universal ke dalam budaya lokal.
Pendekatan multidisipliner ini menunjukkan bahwa kearifan lokal memiliki relevansi besar dalam membangun perdamaian di era modern (Bevans, 2002; Habermas, 1984; Galtung, 1996).
Pada akhirnya, rumah adat ini mengajarkan bahwa perdamaian bukan hanya konsep politik atau slogan moral, tetapi praksis kebudayaan yang dirawat sehari-hari.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin gaduh, masyarakat modern justru perlu kembali belajar dari rumah-rumah adat seperti Koke Bale: tempat manusia duduk bersama, mendengar satu sama lain, dan mengingat kembali arti hidup sebagai sesama.
Dalam konteks Indonesia yang plural, pendekatan semacam ini penting untuk memperkuat demokrasi, kohesi sosial, dan peradaban yang lebih manusiawi (Lederach, 2005; Putnam, 1993). (*)
*) Gamalusi Andreas Soge adalah Ketua Presidum PMKRI Cabang Larantuka St. Agustinus 2005–2008, Alumni Sekolah Pascasarjana Fakultas Keamanan Nasional, Prodi Damai dan Resolusi Konflik, Universtitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI), 2024.
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Ocha Pemenang Sejati |
|
|---|
| Opini: Ketika Anak Meminta Roti, Jangan Beri Ular- Menata Ulang Tanggung Jawab Dalam MBG |
|
|---|
| Opini: Mengapa Kamu Berdiri Melihat ke Langit? |
|
|---|
| Opini - Galileo Galilei dan Krisis Kebenaran di Tengah Dunia Digital |
|
|---|
| Opini - Luka Keadilan di Panggung Empat Pilar Kebangsaan: Siapa yang Cermat? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gamalusi-Andreas-Soge.jpg)