Jumat, 15 Mei 2026

Opini

Opini: Spirit Perdamaian Kontekstual dari Rumah Adat Koke Bale

Dalam tradisi Lamaholot, rumah adat bukan sekadar tempat tinggal. Tetapi juga   simbol hubungan antara manusia, leluhur, alam, dan Yang Ilahi. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
Gamalusi Andreas Soge 

Di sini, Koke Bale dapat dipahami sebagai “ruang publik tradisional”. Ia menjadi arena komunikasi sosial tempat masyarakat membangun solidaritas bersama. 

Bahkan ritus adat yang menyertainya dapat dibaca sebagai bentuk komunikasi simbolik yang menjaga kohesi sosial. 

Dalam perspektif sosiologi budaya, simbol dan ritus memiliki fungsi integratif dalam mempertahankan solidaritas komunitas (Durkheim, 1912/1995).

Namun, pendekatan Habermas juga membantu kita melihat tantangan internal budaya adat. Tidak semua ruang adat otomatis bebas dominasi. 

Ada kemungkinan hadirnya relasi kuasa patriarkal, eksklusi kelompok tertentu, atau subordinasi generasi muda. 

Karena itu, spirit perdamaian kontekstual tidak boleh berhenti pada romantisme budaya, tetapi perlu terus dikritisi agar tradisi tetap menjadi ruang emansipatoris (Fraser, 1990; Young, 2000).

Dengan kata lain, Koke Bale harus dibaca secara dialektis: sebagai warisan kebijaksanaan lokal sekaligus ruang yang perlu terus diperbarui agar tetap relevan dengan nilai keadilan sosial modern. 

Perspektif kritis semacam ini penting agar budaya tidak berubah menjadi instrumen legitimasi ketimpangan sosial (Bourdieu, 1991).

Stephen B. Bevans dan Teologi Terjemahan

Di sinilah pemikiran Stephen B. Bevans menjadi penting. Bevans menegaskan bahwa teologi selalu kontekstual. Injil tidak hadir dalam ruang hampa budaya, melainkan selalu diterjemahkan ke dalam pengalaman konkret manusia. 

Karena itu, kebudayaan lokal bukan ancaman bagi iman, melainkan medium pewahyuan dan dialog spiritual (Bevans, 2002).

Salah satu model yang terkenal dalam pemikiran Bevans ialah translation model atau teologi terjemahan. 

Dalam model ini, pesan iman diterjemahkan ke dalam simbol, bahasa, dan struktur budaya lokal tanpa kehilangan substansi utamanya. 

Pendekatan ini banyak digunakan dalam teologi kontekstual Asia dan Amerika Latin sebagai kritik terhadap dominasi teologi Barat yang terlalu universalistik (Schreiter, 1985).

Jika memakai perspektif ini, maka Koke Bale bukan ancaman bagi iman, melainkan medium inkarnasi nilai-nilai spiritual. 

Nilai rekonsiliasi, solidaritas, penghormatan terhadap kehidupan, dan relasi komunal dalam rumah adat dapat menjadi “bahasa lokal” bagi pewartaan perdamaian. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved