Opini
Opini: Spirit Perdamaian Kontekstual dari Rumah Adat Koke Bale
Dalam tradisi Lamaholot, rumah adat bukan sekadar tempat tinggal. Tetapi juga simbol hubungan antara manusia, leluhur, alam, dan Yang Ilahi.
Membaca Lamaholot melalui Johan Galtung, Jürgen Habermas, dan Stephen B. Bevans
Oleh: Gamalusi Andreas Soge *
POS-KUPANG.COM - Di tengah dunia yang semakin dipenuhi konflik identitas, polarisasi politik, kekerasan simbolik, dan krisis ekologis, masyarakat adat sebenarnya menyimpan cadangan etika perdamaian yang sering luput dibaca secara serius.
Salah satu warisan itu hidup dalam struktur budaya masyarakat Lamaholot melalui rumah adat Koke Bale di Patisirawalang, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
Rumah adat ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang kosmologis, ruang dialog, dan ruang rekonsiliasi sosial yang memuat spirit perdamaian kontekstual.
Dalam banyak studi antropologi, rumah adat Nusantara dipahami sebagai representasi relasi sosial dan sistem nilai suatu komunitas (Geertz, 1973; Waterson, 1990).
Baca juga: Tarian Hedung dari Lamaholot Iringi Peresmian Nama Jalan Frans Lebu Raya di Kupang
Dalam perspektif ini, Koke Bale dapat dibaca bukan hanya sebagai artefak budaya, tetapi sebagai teks sosial yang memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal membangun harmoni, mengelola konflik, dan merawat kehidupan bersama.
Pembacaan tersebut menjadi semakin kaya ketika didekati melalui teori perdamaian Johan Galtung, teori tindakan komunikatif Jürgen Habermas, dan teologi kontekstual-terjemahan Stephen B. Bevans.
Pendekatan interdisipliner semacam ini penting karena perdamaian modern tidak hanya dipahami sebagai isu politik, tetapi juga persoalan budaya, komunikasi, dan spiritualitas (Galtung, 1969; Habermas, 1984; Bevans, 2002).
Koke Bale sebagai Kosmologi Perdamaian
Dalam tradisi Lamaholot, rumah adat bukan sekadar tempat tinggal. Tetapi juga simbol hubungan antara manusia, leluhur, alam, dan Yang Ilahi.
Struktur Koke Bale memuat prinsip kolektivitas: ruang tengah sebagai tempat musyawarah, tiang utama sebagai simbol kesatuan genealogis, serta orientasi ruang yang memperlihatkan relasi harmonis antara manusia dan kosmos.
Dalam antropologi simbolik, struktur ruang tradisional sering dipahami sebagai representasi keteraturan kosmis masyarakat adat (Eliade, 1959; Waterson, 1990).
Pada titik ini, Koke Bale bekerja sebagai “arsitektur sosial”. Ia membentuk cara masyarakat berpikir tentang relasi, kuasa, dan penyelesaian konflik.
Tidak mengherankan jika dalam banyak komunitas adat di Flores Timur, penyelesaian persoalan sosial sering dilakukan di rumah adat melalui ritus, dialog, dan konsensus bersama.
Tradisi deliberatif lokal semacam ini menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki mekanisme resolusi konflik yang berbasis budaya dan kohesi sosial (Avruch, 1998; Lederach, 1997).
Spirit ini dekat dengan gagasan perdamaian positif Johan Galtung. Menurut Johan Galtung, perdamaian bukan hanya ketiadaan perang (negative peace), melainkan hadirnya keadilan sosial, relasi setara, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Kekerasan, dalam pandangannya, tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga struktural dan kultural (Galtung, 1969; Galtung, 1990).
Galtung menyebut bahwa kekerasan struktural muncul ketika sistem sosial menciptakan ketimpangan, marginalisasi, atau penghilangan akses terhadap kehidupan yang layak.
Sementara kekerasan kultural bekerja melalui simbol, bahasa, dan tradisi yang membenarkan dominasi tertentu.
Baca juga: Opini: Mengapa Kamu Berdiri Melihat ke Langit?
Konsep ini kemudian menjadi fondasi penting dalam studi perdamaian kontemporer karena memperluas makna konflik melampaui kekerasan fisik semata (Barash & Webel, 2017).
Dalam konteks Lamaholot, Koke Bale justru memperlihatkan mekanisme kebudayaan yang berusaha mencegah fragmentasi sosial. Ia menjadi ruang pengikat antarsuku, antarkeluarga, dan antar-generasi.
Di dalamnya terdapat etika mendengar, berbicara bergiliran, penghormatan terhadap tetua, dan pencarian mufakat.
Dengan demikian, rumah adat ini dapat dibaca sebagai model lokal dari positive peace yang bertumpu pada solidaritas komunal dan penghormatan terhadap martabat bersama (Lederach, 1997; Galtung, 1996).
Habermas dan Rasionalitas Komunikatif dalam Koke Bale
Pembacaan semakin menarik ketika dikaitkan dengan teori tindakan komunikatif Jurgen Habermas.
Habermas berargumen bahwa masyarakat demokratis hanya dapat bertahan jika ruang publik dibangun melalui komunikasi yang bebas dari dominasi.
Dialog yang sehat harus memberi kesempatan setara bagi setiap orang untuk berbicara, didengar, dan mencapai konsensus rasional (Habermas, 1984; Habermas, 1989).
Konsep ini sebenarnya menemukan resonansinya dalam mekanisme adat Lamaholot.
Dalam forum adat di Koke Bale, keputusan idealnya tidak dihasilkan melalui pemaksaan, melainkan melalui proses deliberatif.
Tetua adat memang memiliki otoritas moral, tetapi legitimasi keputusan lahir dari penerimaan kolektif komunitas.
Tradisi musyawarah seperti ini sering dipandang sebagai bentuk demokrasi komunikatif berbasis lokalitas budaya (Dryzek, 2000).
Di sini, Koke Bale dapat dipahami sebagai “ruang publik tradisional”. Ia menjadi arena komunikasi sosial tempat masyarakat membangun solidaritas bersama.
Bahkan ritus adat yang menyertainya dapat dibaca sebagai bentuk komunikasi simbolik yang menjaga kohesi sosial.
Dalam perspektif sosiologi budaya, simbol dan ritus memiliki fungsi integratif dalam mempertahankan solidaritas komunitas (Durkheim, 1912/1995).
Namun, pendekatan Habermas juga membantu kita melihat tantangan internal budaya adat. Tidak semua ruang adat otomatis bebas dominasi.
Ada kemungkinan hadirnya relasi kuasa patriarkal, eksklusi kelompok tertentu, atau subordinasi generasi muda.
Karena itu, spirit perdamaian kontekstual tidak boleh berhenti pada romantisme budaya, tetapi perlu terus dikritisi agar tradisi tetap menjadi ruang emansipatoris (Fraser, 1990; Young, 2000).
Dengan kata lain, Koke Bale harus dibaca secara dialektis: sebagai warisan kebijaksanaan lokal sekaligus ruang yang perlu terus diperbarui agar tetap relevan dengan nilai keadilan sosial modern.
Perspektif kritis semacam ini penting agar budaya tidak berubah menjadi instrumen legitimasi ketimpangan sosial (Bourdieu, 1991).
Stephen B. Bevans dan Teologi Terjemahan
Di sinilah pemikiran Stephen B. Bevans menjadi penting. Bevans menegaskan bahwa teologi selalu kontekstual. Injil tidak hadir dalam ruang hampa budaya, melainkan selalu diterjemahkan ke dalam pengalaman konkret manusia.
Karena itu, kebudayaan lokal bukan ancaman bagi iman, melainkan medium pewahyuan dan dialog spiritual (Bevans, 2002).
Salah satu model yang terkenal dalam pemikiran Bevans ialah translation model atau teologi terjemahan.
Dalam model ini, pesan iman diterjemahkan ke dalam simbol, bahasa, dan struktur budaya lokal tanpa kehilangan substansi utamanya.
Pendekatan ini banyak digunakan dalam teologi kontekstual Asia dan Amerika Latin sebagai kritik terhadap dominasi teologi Barat yang terlalu universalistik (Schreiter, 1985).
Jika memakai perspektif ini, maka Koke Bale bukan ancaman bagi iman, melainkan medium inkarnasi nilai-nilai spiritual.
Nilai rekonsiliasi, solidaritas, penghormatan terhadap kehidupan, dan relasi komunal dalam rumah adat dapat menjadi “bahasa lokal” bagi pewartaan perdamaian.
Dalam kerangka inkulturasi, agama dan budaya dipahami saling memperkaya dalam membangun kehidupan sosial yang manusiawi (Shorter, 1988).
Pendekatan Bevans membantu menghindari dua ekstrem sekaligus: fundamentalisme agama yang menolak budaya lokal, dan relativisme budaya yang kehilangan horizon etik universal.
Teologi kontekstual justru melihat bahwa Roh bekerja juga dalam kebijaksanaan masyarakat adat.
Pandangan ini sejalan dengan perkembangan teologi pascakolonial yang menempatkan budaya lokal sebagai subjek, bukan objek pewartaan (Sugirtharajah, 2006).
Dalam konteks Flores Timur yang plural dan sarat memori konflik sosial-politik, pembacaan ini menjadi relevan.
Perdamaian tidak cukup dibangun melalui pendekatan birokratis atau keamanan negara semata. Perdamaian membutuhkan akar budaya yang hidup dalam kesadaran masyarakat.
Karena itu, kearifan lokal menjadi modal sosial penting dalam membangun rekonsiliasi dan kohesi sosial di tingkat akar rumput (Putnam, 1993; Lederach, 2005).
Koke Bale sebagai Kritik atas Krisis Modernitas
Modernitas sering melahirkan paradoks: teknologi berkembang, tetapi solidaritas sosial melemah. Rasionalitas instrumental mendominasi kehidupan publik.
Manusia semakin individualistik, sementara ruang dialog komunal semakin menyempit.
Kritik terhadap modernitas semacam ini banyak dikembangkan oleh Mazhab Frankfurt yang melihat bahwa rasionalitas modern sering terjebak pada logika dominasi dan efisiensi semata (Horkheimer & Adorno, 1947/2002).
Dalam situasi ini, Koke Bale menghadirkan kritik diam terhadap modernitas yang terfragmentasi.
Ia mengingatkan bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan berada dalam jaringan relasi dengan komunitas, leluhur, alam, dan Tuhan.
Pandangan kosmologis masyarakat adat seperti ini semakin relevan di tengah krisis ekologis global yang lahir dari relasi eksploitatif manusia terhadap alam (Capra, 1996).
Karena itu, rumah adat Lamaholot sesungguhnya mengandung epistemologi perdamaian yang penting bagi Indonesia hari ini. Ia menawarkan cara berpikir yang lebih dialogis, ekologis, dan kolektif di tengah budaya politik yang semakin transaksional dan eksploitatif.
Dalam kajian perdamaian kontemporer, pendekatan berbasis budaya lokal dipandang lebih berkelanjutan karena lahir dari pengalaman hidup masyarakat sendiri (Richmond, 2011).
Spirit perdamaian dari Koke Bale juga relevan dalam menghadapi krisis ekologis.
Relasi harmonis antara manusia dan alam dalam kosmologi Lamaholot menunjukkan bahwa perdamaian sejati tidak hanya menyangkut hubungan antar-manusia, tetapi juga hubungan dengan bumi.
Di titik ini, pemikiran Johan Galtung tentang ecological peace menemukan resonansinya dalam kebudayaan lokal Flores Timur (Galtung, 1996; Pope Francis, 2015).
Penutup
Koke Bale Patisirawalang dan Lamaholot umumnya bukan sekadar peninggalan budaya. Tetapi teks hidup tentang bagaimana masyarakat Lamaholot memahami perdamaian, relasi sosial, dan kehidupan bersama.
Melalui perspektif Johan Galtung, rumah adat ini memperlihatkan praktik perdamaian positif yang menolak kekerasan struktural maupun kultural.
Melalui Jürgen Habermas, ia dapat dibaca sebagai ruang komunikasi deliberatif berbasis konsensus komunitas.
Sementara melalui Stephen B. Bevans, Koke Bale menjadi medium teologi kontekstual yang menerjemahkan nilai-nilai universal ke dalam budaya lokal.
Pendekatan multidisipliner ini menunjukkan bahwa kearifan lokal memiliki relevansi besar dalam membangun perdamaian di era modern (Bevans, 2002; Habermas, 1984; Galtung, 1996).
Pada akhirnya, rumah adat ini mengajarkan bahwa perdamaian bukan hanya konsep politik atau slogan moral, tetapi praksis kebudayaan yang dirawat sehari-hari.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin gaduh, masyarakat modern justru perlu kembali belajar dari rumah-rumah adat seperti Koke Bale: tempat manusia duduk bersama, mendengar satu sama lain, dan mengingat kembali arti hidup sebagai sesama.
Dalam konteks Indonesia yang plural, pendekatan semacam ini penting untuk memperkuat demokrasi, kohesi sosial, dan peradaban yang lebih manusiawi (Lederach, 2005; Putnam, 1993). (*)
*) Gamalusi Andreas Soge adalah Ketua Presidum PMKRI Cabang Larantuka St. Agustinus 2005–2008, Alumni Sekolah Pascasarjana Fakultas Keamanan Nasional, Prodi Damai dan Resolusi Konflik, Universtitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI), 2024.
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Ocha Pemenang Sejati |
|
|---|
| Opini: Ketika Anak Meminta Roti, Jangan Beri Ular- Menata Ulang Tanggung Jawab Dalam MBG |
|
|---|
| Opini: Mengapa Kamu Berdiri Melihat ke Langit? |
|
|---|
| Opini - Galileo Galilei dan Krisis Kebenaran di Tengah Dunia Digital |
|
|---|
| Opini - Luka Keadilan di Panggung Empat Pilar Kebangsaan: Siapa yang Cermat? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gamalusi-Andreas-Soge.jpg)