Rabu, 13 Mei 2026

Opini

Opini - Masalah Phone Snubbing dan Solusi Plotinus Atas Krisis Identitas Digital

Dunia di era digital saat ini, sedang mengalami masalah sosial yang serius terkait dengan Phone Snubbing

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Alexander Fuin, mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang 

Hubungan  yang kita jalankan itu sering “terbelah“ tubuh di sini pikiran di sana, kita kehilangan identitas kita sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dan berpikir dan lebih mementingkan relasi sosial virtual dan mencari citra diri di layar daripada relasi yang otentik di dunia fisik secara nyata.

Dalam pandangan Plotinus, hidup di dunia maya digolongkan ke dalam dunia bagian bawah, di mana dunia yang tidak sempurna yang bersifat bayang–bayang dan selalu berubah–ubah. 

Manusia saat ini sangat bergantung dengan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), keduanya menjadi tak terpisahkan dan tanpa disadari teknologi merambah ke seluruh lini hidup manusia bahkan dalam hal berpikir dan bertindak, semuanya sudah dikerjakan oleh teknologi. 

Dan juga dengan perkembangan teknologi AI yang begitu masif dan canggih yang sangat memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi manusia.

Sehingga manusia lupa akan keotentikan dirinya sebagai makhluk yang berpikir dan bertindak, sekarang manusia merasa gelisah dan takut jika tidak membawa handphone dibandingkan dengan membawa diri secara baik.

Smartphone dijadikan sebagai pelarian sosial jika merasa sendiri atau sedang dalam situasi tekanan dan bahaya lainnya. Dan tidak lagi memperdulikan relasi yang personal sebagai penolong dan memberi jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi dan lebih mementingkan relasi virtual untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Dalam ajaran Plotinus mengingatkan kita agar kita terus hidup di dalam dunia bagian atas. Dunia atas yang terdiri dari intelektual dan spiritual, yang mengandung kebenaran dalam berpikir dan bertindak.

Manusia memiliki potensi untuk hidup dan berada pada ranah yang tertinggi dengan membebaskan diri dari segala keterikatan material dan kembali kepada kebenaran sejati jika memandang dan memikirkan kepada intelek (nous) dan ilahi. 

Kita diajak untuk menjaga jiwa kita tidak turun ke dunia bawah, kita tetap bermedia sosial dan tidak menutup diri dengan perkembangan teknologi akan tetapi tidak terbawa arus dunia maya dan membiarkan diri kita dikontrol oleh media sosial tetapi kita tetap tinggal dalam keotentikan kita sebagai manusia yang berpikir dan bertindak dan tetap menjadi subjek dalam bermedia sosial dengan demikian relasi yang bangun tetap otentik dan terbuka.

Kita hendaknya melakukan katarsis atau penyucian diri sebagaimana yang dikatakan Plotinus dalam memulihkan diri dengan melepaskan keterikatan yang berlebihan dengan hal yang bersifat materi dan duniawi di era digital ini.  

Kita tetap melakukan hubungan sosial lewat media online tetapi juga tidak menarik diri dengan perkembangan digital dan perkembangan teknologi lainnya tetapi bagaimana menyadari diri dan tidak lebih berdominan menggunakan media sosial,

Dengan demikian relasi sosial yang dibangun menjadi nyata dalam bertindak dan berpikir yang memiliki keterbukaan dan empati satu dengan yang lainnya. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved