Rabu, 13 Mei 2026

Opini

Opini: Mazmur Mazmur Nusantara

Laut mengajarkan solidaritas. Ombak mengajarkan ketangguhan. Perahu mengajarkan kebersamaan. Badai mengajarkan kerendahan hati.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MIKE KERAF
Mike Keraf 

Belajar dari Pesisir Lamalera untuk Menyelamatkan Masa Depan Indonesia

Oleh: Mike Keraf, CSsR *

POS-KUPANG.COM - Indonesia selama ini terlalu sering membaca dirinya dari daratan. Padahal negeri ini lahir dari laut.

Kita membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di kota-kota besar, mengejar industrialisasi, membicarakan hilirisasi, investasi, dan pembangunan infrastruktur; tetapi pada saat yang sama, kita perlahan kehilangan percakapan paling mendasar tentang bagaimana manusia Indonesia seharusnya hidup bersama alam.

Akibatnya, kita menyaksikan ironi besar: negeri kepulauan terbesar di dunia justru sedang mengalami krisis ekologis yang semakin mengkhawatirkan. 

Baca juga: Opini: Lamalera dan Dunia yang Hampir Kehilangan Jiwa

Laut tercemar, pesisir rusak, nelayan kecil tersingkir, hutan mangrove dihancurkan, tradisi maritim ditinggalkan, sementara manusia modern semakin terasing dari akar spiritualitas ekologisnya sendiri.

Dalam situasi seperti ini, Indonesia sesungguhnya membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan teknokratis. 

Kita membutuhkan narasi baru. Kita membutuhkan cara pandang baru tentang relasi manusia, alam, dan Yang Ilahi.

Karena itu, saya percaya bahwa salah satu jalan penting untuk menyelamatkan masa depan Indonesia justru dapat dimulai dari kampung-kampung pesisir—dari tempat-tempat yang selama ini dianggap kecil, terpencil, dan berada di pinggiran sejarah pembangunan nasional.

Salah satunya adalah Lamalera.  

Lamalera di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar kampung nelayan tradisional. Ia adalah ruang hidup yang menyimpan filsafat mendalam tentang hubungan manusia dengan laut, alam, sesama, dan Tuhan. 

Di sana, laut tidak dipahami sebagai objek eksploitasi tanpa batas, tetapi sebagai ruang sakral kehidupan bersama.

Orang Lamalera hidup dalam kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar menjadi penguasa alam. 

Manusia hanyalah bagian kecil dari kosmos yang lebih besar. Karena itu, laut harus dihormati, dijaga, dan diperlakukan dengan penuh tanggung jawab moral.

Kesadaran semacam ini menjadi sangat penting di tengah dunia modern yang cenderung memandang alam hanya sebagai komoditas ekonomi.

Hari ini, manusia global sedang menghadapi krisis peradaban. Perubahan iklim, kerusakan ekosistem, krisis pangan, migrasi ekologis, konflik sumber daya alam, hingga hilangnya identitas budaya lokal menunjukkan bahwa ada yang salah dalam cara manusia membangun dunia modern.

Kita terlalu lama mendewakan pertumbuhan tanpa kebijaksanaan. Kita membangun kemajuan dengan mengorbankan bumi.

Dalam konteks inilah, saya membayangkan sebuah gerakan kebudayaan yang saya sebut sebagai Mazmur Mazmur Nusantara—sebuah upaya menghadirkan suara masyarakat pesisir, suara laut, suara alam, dan suara manusia kecil ke dalam ruang kesadaran nasional.  

Mazmur, dalam tradisi spiritual, bukan sekadar nyanyian religius. Mazmur adalah jeritan hidup manusia. Ia lahir dari luka, harapan, ketakutan, syukur, perjuangan, dan kerinduan akan keselamatan.

Karena itu, “Mazmur Mazmur Nusantara” bukan hanya proyek sastra. Ia adalah ikhtiar membangun kembali imajinasi moral bangsa Indonesia.

Kita perlu belajar kembali bagaimana masyarakat pesisir memandang hidup. Mereka memahami bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. 

Baca juga: BREAKING NEWS: Warga Lamalera Meninggal Tenggelam di Laut

Laut mengajarkan solidaritas. Ombak mengajarkan ketangguhan. Perahu mengajarkan kebersamaan. Badai mengajarkan kerendahan hati.

Di Lamalera, misalnya, hasil tangkapan laut secara tradisional dibagikan menurut prinsip hidup bersama. Yang lemah tidak boleh ditinggalkan. Janda dan yatim piatu tetap mendapat bagian. 

Nilai-nilai seperti ini lahir bukan dari teori ekonomi modern, melainkan dari pengalaman panjang hidup bersama alam yang keras namun mendidik manusia menjadi lebih manusiawi.

Ironisnya, nilai-nilai semacam ini justru semakin hilang dalam masyarakat modern yang semakin individualistis dan konsumtif.

Karena itu, Indonesia membutuhkan kebangkitan baru berbasis kebudayaan ekologis.

Kita tidak cukup hanya berbicara tentang transisi energi, ekonomi hijau, atau pembangunan berkelanjutan dalam bahasa teknis birokrasi. Semua itu penting, tetapi tidak akan pernah cukup tanpa transformasi kesadaran manusia.

Krisis ekologis pada akhirnya bukan hanya krisis lingkungan. Ia adalah krisis moral dan spiritual.

Manusia modern kehilangan rasa hormat terhadap kehidupan.

Di titik ini, sastra, budaya, spiritualitas, dan kearifan lokal memiliki peran strategis. Sastra mampu menerjemahkan penderitaan bumi menjadi suara yang menyentuh nurani publik. 

Budaya mampu menjaga ingatan kolektif bangsa. Spiritualitas membantu manusia menemukan kembali makna hidup yang lebih dalam daripada sekadar konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, “Mazmur Mazmur Nusantara” hendak menjadi lebih dari sebuah buku. Ia ingin menjadi ruang dialog antara tradisi lokal dan tantangan global; antara masyarakat adat dan dunia modern; antara spiritualitas dan krisis ekologis kontemporer.  

Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat peradaban ekologis dunia. Tetapi itu hanya mungkin jika bangsa ini mau mendengar kembali suara-suara dari pinggiran: suara nelayan kecil, masyarakat adat, perempuan pesisir, petani tradisional, penjaga hutan, dan semua komunitas yang selama ini hidup menjaga keseimbangan dengan alam.

Mereka bukan kelompok terbelakang.
Mereka sesungguhnya penjaga masa depan.

Sudah waktunya pembangunan nasional tidak lagi hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan bangsa ini menjaga martabat manusia, merawat alam, dan mempertahankan kebijaksanaan hidup bersama.

Karena pada akhirnya, bangsa yang kehilangan hubungan spiritual dengan alam akan kehilangan arah sejarahnya sendiri.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising oleh perebutan kuasa dan kerakusan ekonomi, Indonesia justru perlu kembali belajar bernyanyi bersama laut. (*)

*) Mike Keraf, CSsR adalah seorang Rohaniawan Katolik atau pastor dan pejuang lingkungan asal Lembata, NTT, yang aktif berkarya di Sumba. Beliau dikenal sebagai Direktur Yayasan Pengembangan Kemanusiaan Donders (Donders Foundation) di Sumba Barat Daya.

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved