Opini
Opini: Mazmur Mazmur Nusantara
Laut mengajarkan solidaritas. Ombak mengajarkan ketangguhan. Perahu mengajarkan kebersamaan. Badai mengajarkan kerendahan hati.
Hari ini, manusia global sedang menghadapi krisis peradaban. Perubahan iklim, kerusakan ekosistem, krisis pangan, migrasi ekologis, konflik sumber daya alam, hingga hilangnya identitas budaya lokal menunjukkan bahwa ada yang salah dalam cara manusia membangun dunia modern.
Kita terlalu lama mendewakan pertumbuhan tanpa kebijaksanaan. Kita membangun kemajuan dengan mengorbankan bumi.
Dalam konteks inilah, saya membayangkan sebuah gerakan kebudayaan yang saya sebut sebagai Mazmur Mazmur Nusantara—sebuah upaya menghadirkan suara masyarakat pesisir, suara laut, suara alam, dan suara manusia kecil ke dalam ruang kesadaran nasional.
Mazmur, dalam tradisi spiritual, bukan sekadar nyanyian religius. Mazmur adalah jeritan hidup manusia. Ia lahir dari luka, harapan, ketakutan, syukur, perjuangan, dan kerinduan akan keselamatan.
Karena itu, “Mazmur Mazmur Nusantara” bukan hanya proyek sastra. Ia adalah ikhtiar membangun kembali imajinasi moral bangsa Indonesia.
Kita perlu belajar kembali bagaimana masyarakat pesisir memandang hidup. Mereka memahami bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri.
Baca juga: BREAKING NEWS: Warga Lamalera Meninggal Tenggelam di Laut
Laut mengajarkan solidaritas. Ombak mengajarkan ketangguhan. Perahu mengajarkan kebersamaan. Badai mengajarkan kerendahan hati.
Di Lamalera, misalnya, hasil tangkapan laut secara tradisional dibagikan menurut prinsip hidup bersama. Yang lemah tidak boleh ditinggalkan. Janda dan yatim piatu tetap mendapat bagian.
Nilai-nilai seperti ini lahir bukan dari teori ekonomi modern, melainkan dari pengalaman panjang hidup bersama alam yang keras namun mendidik manusia menjadi lebih manusiawi.
Ironisnya, nilai-nilai semacam ini justru semakin hilang dalam masyarakat modern yang semakin individualistis dan konsumtif.
Karena itu, Indonesia membutuhkan kebangkitan baru berbasis kebudayaan ekologis.
Kita tidak cukup hanya berbicara tentang transisi energi, ekonomi hijau, atau pembangunan berkelanjutan dalam bahasa teknis birokrasi. Semua itu penting, tetapi tidak akan pernah cukup tanpa transformasi kesadaran manusia.
Krisis ekologis pada akhirnya bukan hanya krisis lingkungan. Ia adalah krisis moral dan spiritual.
Manusia modern kehilangan rasa hormat terhadap kehidupan.
Di titik ini, sastra, budaya, spiritualitas, dan kearifan lokal memiliki peran strategis. Sastra mampu menerjemahkan penderitaan bumi menjadi suara yang menyentuh nurani publik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Mike-Keraf-01.jpg)