Opini
Opini: Mendakwa Alam, Menyembah Berhala
Pada akhirnya, batu emas di bandara itu mungkin hanyalah serpihan kecil dari luka yang lebih besar di NTT.
Jika kita jujur, hukum di banyak tempat sering lebih mudah menjangkau rakyat kecil dibanding menjangkau struktur besar yang menghasilkan ketimpangan itu sendiri. Yang disebut ilegal adalah rakyat kecil yang menggali batu tanpa izin.
Tetapi yang disebut pembangunan adalah eksploitasi besar yang kadang meninggalkan kerusakan ekologis dan ketimpangan sosial bertahun tahun.
Ketika ketimpangan seperti itu mulai dianggap biasa, itu tanda bahwa prosedur perlahan lebih dihormati daripada kehidupan manusia itu sendiri.
Padahal di banyak wilayah NTT, tanah bukan sekadar aset ekonomi. Tanah adalah rahim kehidupan.
Di sanalah jagung ditanam. Di sanalah orang tua dimakamkan. Di sanalah identitas keluarga dan suku diwariskan.
Kita sering membaca tanah hanya sebagai objek produksi. Tetapi jika kita jujur, bagi banyak masyarakat NTT, tanah adalah bagian dari martabat hidup mereka.
Karena itu, ketika hasil bumi diperlakukan semata sebagai objek legalitas tanpa dialog sosial dan budaya, masyarakat kecil perlahan merasa asing di tanahnya sendiri.
Yang sering kita lewatkan adalah: sejak awal Alkitab tidak pernah memandang tanah sebagai benda mati. Dalam Kejadian 2:7, manusia dibentuk dari debu tanah dan menerima nafas hidup dari Allah.
Artinya, hubungan manusia dan tanah bukan sekadar hubungan ekonomi. Ada hubungan spiritual dan eksistensial di dalamnya.
Dalam Kejadian 1:29–30, Tuhan memberikan bumi dan tumbuh tumbuhan sebagai penopang kehidupan bersama, bukan sebagai alat keserakahan segelintir pihak.
Dalam Imamat 25:23, Tuhan berkata, “Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu.” Kalimat ini sederhana, tetapi sangat radikal.
Tanah tidak boleh sepenuhnya tunduk pada kerakusan manusia, sebab tanah pada akhirnya adalah titipan Allah bagi kehidupan bersama.
Di titik ini, saya teringat gaya refleksi Eka Darmaputera yang selalu berusaha membawa iman turun dari langit abstraksi ke tanah tempat manusia bergumul.
Teologi bukan pertama tama soal istilah besar, tetapi soal apakah manusia masih bisa hidup bermartabat di tengah sistem yang sering kehilangan belas kasih.
Karena itu, kritik ekologis sebenarnya bukan isu tambahan dalam iman. Ia bagian dari tanggung jawab moral terhadap kehidupan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-06.jpg)