Jumat, 8 Mei 2026

Opini

Opini: Menggugat Timor Kouk

Steve Biko pernah mengatakan bahwa “senjata paling ampuh di tangan penindas adalah pikiran dari mereka yang ditindas”. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DONI M LOPES DE CARVALHO
Doni Monardo Lopes de Carvalho 

Yang paling berbahaya adalah apa yang Bourdieu sebut doxa, yaitu kondisi di mana relasi dominasi telah begitu tertanam dalam keseharian sehingga tidak lagi dipertanyakan, melainkan diterima sebagai kewajaran. 

Ketika “ Timor Kouk” sudah dinormalisasi sebagai candaan, kita telah memasuki wilayah doxa yang paling berbahaya: kekerasan yang bahkan tidak lagi dikenali sebagai kekerasan.

Dampak Psikologis dan Politis

Sosiolog Erving Goffman menjelaskan bahwa stigma bukan hanya soal hinaan, tetapi tentang bagaimana sebuah kelompok perlahan dipandang rendah dan akhirnya ikut meragukan dirinya sendiri. 

Penelitian Claude Steele dan Joshua Aronson (1995) tentang stereotype threat membuktikan secara empiris bahwa paparan stereotip negatif terhadap kelompok seseorang secara terukur menurunkan performa kognitif dan kepercayaan diri. 

Bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena stigma bekerja sebagai beban mental tersembunyi.

Dalam tataran politik, James C. Scott juga menjelaskan bahwa stigma dan narasi yang terus diulang di ruang publik bisa menjadi alat kekuasaan. 

Kelompok yang terus direndahkan perlahan dianggap tidak layak memimpin atau tidak cukup mampu untuk berada di posisi penting. 

“Timor Kouk” jika tidak dilawan, berpotensi menjadi hambatan struktural yang secara halus menutup ruang bagi masyarakat Timor dalam diskursus kepemimpinan NTT.

Membantah dengan Peradaban

Narasi “Kouk” terbantahkan oleh kenyataan sejarah. Pater Gregor Neonbasu, SVD, mendokumentasikan kedalaman peradaban Atoin Meto yang sarat kecerdasan: kekayaan tutur adat dalam Uab Meto yang sarat filosofi hidup dan penghormatan terhadap manusia; sistem tata kelola komunal dan ekologi berbasis kearifan lokal yang telah bertahan berabad-abad; diplomasi antarsuku melalui ritual Oko Mama yang menempatkan harkat manusia sebagai nilai tertinggi. 

Ini adalah bukti peradaban yang rasional, terorganisasi, dan bermartabat justru jauh dari gambaran yang coba disematkan oleh dua kata murahan itu.

Jika ada yang “kouk” dalam persoalan ini, maka ia adalah perspektif yang terlalu sempit untuk mengenali kecerdasan yang tidak berbentuk aksen kota atau ijazah perguruan tinggi.

Berhenti Menormalisasi, Mulai Peduli

Sudah saatnya berhenti menormalisasi “Timor Kouk” atas nama keakraban. Keakraban yang sejati tidak membutuhkan kurban. 

Seperti seruan mantan Gubernur NTT: “ Saya tidak mau lagi ada yang panggil kita “Timor Kouk’. Kita harus lawan stigma kouk yang orang selalu sematkan kepada kita. 

Kepada generasi muda Timor yang pernah merasa kecil karena dua kata itu, ingatlah bahwa stigma adalah konstruksi, bukan takdir. 

Ia dibangun oleh mereka yang membutuhkan orang lain merasa rendah agar mereka sendiri bisa merasa tinggi.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved