Kamis, 7 Mei 2026

Opini

Opini: Melodi Rosario di Malam Sunyi

Ada tradisi dalam Gereja Katolik yaitu bulan Mei dan bulan Oktober adalah bulan yang dikhususkan untuk Bunda Maria. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Bernabas Haki 

Di dalam lingkaran doa tersebut, perbedaan status sosial melebur. Tetangga yang sempat berselisih paham duduk berdampingan di atas tikar pandan yang sama, menundukkan kepala di hadapan arca Bunda Maria yang diterangi oleh lilin dan dibaluti dengan kontas yang mempertajam kesakralan tradisi ini dalam Gereja Katolik

Pertemuan saban malam selama satu bulan penuh ini memupuk rasa persaudaraan (communio) yang sangat kuat. 

Di sini, iman bekerja sebagai perekat sosial yang paling organik. Belum lagi disuguhkan dengan kopi dan teh hangat yang menambah dan mempererat hubungan persaudaran itu.

Keimanan masyarakat NTT dalam mendaraskan rosario juga menunjukkan betapa indahnya inkulturasi (perpaduan iman Katolik dan budaya lokal) yang sangat hidup. 

Melodi doa sering kali dilantunkan dengan cengkok khas daerah setempat. Ada nyanyian lagu-lagu Maria dalam bahasa daerah seperti di Manggarai terkenal dengan lagu "Tabe Yo Ende Goga", doa juga sering kali memakai bahasa daerah baik bahasa Dawan, Manggarai, Lio dan sebagainya.

Gua Maria atau altar darurat di rumah-rumah dihias dengan kain tenun ikat terbaik khas daerah masing-masing sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada "Mama Maria" sebutan penuh kasih dan kedekatan masyarakat NTT kepada Bunda Yesus. 

Bagi mereka, Maria bukan sosok surgawi yang jauh dan asing, melainkan sosok keibuan yang memahami peluh, perjuangan, dan air mata kehidupan sehari-hari mereka sebagai petani, nelayan, atau perantau.

Jika kita memandang dari kejauhan, bintik-bintik cahaya lilin yang menyala di pelataran rumah-rumah penduduk NTT di malam hari menyajikan pemandangan yang mengharukan. 

Lilin-lilin kecil yang bergoyang ditiup angin malam adalah simbol visual dari iman masyarakat NTT yang merupakan orang-orang yang sederhana, namun tetap menyala di tengah berbagai keterbatasan hidup mulai dari tantangan ekonomi, kekeringan, masalah pendidikan hingga minimnya akses infrastruktur.

Setiap butir rosario yang digeser oleh jemari yang kasar karena kerasnya perjuangan untuk hidup adalah simbol kepasrahan sekaligus keteguhan. 

Di malam yang sunyi itu, mereka mengadu, membawa segala kekurangan mereka, mengucap syukur, dan menggantungkan harapan esok hari lewat perantaraan doa Sang Bunda. 

Maka dari itu melodi rosario di malam sunyi NTT adalah sebuah simfoni iman yang agung namun bersahaja. 

Ia membuktikan bahwa bagi masyarakat NTT, iman bukanlah dokumen teologis yang rumit di atas kertas, melainkan sebuah ritme kehidupan yang dihirup setiap hari.

Melalui tradisi Bulan Maria, masyarakat NTT menunjukkan potret keimanan yang tidak lari dari dunia, melainkan iman yang berakar bumi; iman yang merayakan kebersamaan, menghormati alam, dan merawat harapan di dalam kesunyian malam yang kudus. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved