Opini
Opini: Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih, dan Ujian Soemitronomics
Kritik terhadap MBG dan KMP tetap sah. MBG rawan menjadi proyek katering nasional bila pasokannya dikuasai vendor besar.
Produktivitas pangan juga belum menjadi mesin besar pertumbuhan. Produksi padi 2024 diperkirakan 52,66 juta ton GKG, turun 2,45 persen dibanding 2023.
Pemerintah memang memperkirakan produksi 2025 meningkat menjadi 60,21 juta ton GKG, tetapi angka ini justru menegaskan betapa pangan masih sangat bergantung pada musim, luas panen, irigasi, harga input, dan tata kelola distribusi.
NTP nasional September 2025 memang mencapai 124,36. Tetapi NTP tidak boleh dibaca secara rata-rata semata.
BPS mendefinisikan NTP sebagai perbandingan harga yang diterima dan dibayar petani, sehingga ia hanya menunjukkan daya tukar relatif.
Di beberapa daerah dan subsektor, terutama tanaman pangan, daya tukar petani dapat jauh lebih lemah; misalnya BPS Sulawesi Tengah mencatat NTP tanaman pangan September 2025 sebesar 95,11, di bawah titik impas 100.
Tesis Soemitronomics
Di sinilah Soemitronomics menjadi relevan. Tesis dasarnya ialah pasar tidak selalu mampu mengoreksi ketimpangan dengan sendirinya.
Petani, nelayan, peternak, UMKM, koperasi, dan pekerja rentan sering kalah bukan karena tidak bekerja, melainkan karena skala kecil, modal lemah, teknologi terbatas, akses pasar sempit, informasi harga timpang, dan logistik mahal.
Dalam bahasa Keynes (1936), belanja negara dapat menggerakkan permintaan agregat.
Dalam bahasa Hirschman (1958), pembangunan perlu menciptakan keterkaitan ke belakang dan ke depan agar satu kebijakan menarik sektor lain bergerak.
Dalam bahasa Myrdal (1957), ketimpangan akan melahirkan efek kumulatif bila tidak dikoreksi negara.
Soemitronomics berdiri di titik itu: negara tidak cukup menjadi wasit pasar, tetapi harus menjadi arsitek yang menghubungkan permintaan, produksi, koperasi, dan pemerataan.
MBG sebagai Pasar, KMP sebagai Lumbung
MBG dipertahankan karena ia bukan sekadar makan gratis. Ia adalah pasar pangan yang diciptakan negara.
Setiap piring MBG seharusnya menjadi pintu masuk bagi beras petani, telur peternak, ikan nelayan, sayur pekebun, buah lokal, tenaga dapur, transportasi desa, dan UMKM pangan.
Jika dirancang benar, MBG mengubah belanja sosial menjadi permintaan produktif.
KMP dipertahankan karena ia dapat menjadi lumbung kelembagaan. Koperasi dapat mengonsolidasikan petani kecil, menurunkan biaya transaksi, memperkuat posisi tawar, mengelola gudang, cold storage, simpan pinjam, distribusi, dan kontrak pasokan dengan dapur MBG.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/I-Putu-Yoga-Bumi-Pradana-04.jpg)