Sabtu, 2 Mei 2026

Opini

Opini: Memutus Rantai Buruh Kasar- Pendidikan NTT Harus Naik Kelas!

Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) masih tinggi di sejumlah wilayah, dan kesenjangan mutu antara kota dan desa masih menganga.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
Winston Rondo 

Jika kita serius memutus rantai kemiskinan struktural, maka lima langkah ini tidak bisa ditawar:

  1. Transformasi SMK menjadi pusat produksi. SMK harus didorong menjadi unit produktif yang mampu menghasilkan nilai ekonomi dan menopang pembelajaran berbasis praktik.
  2. Beasiswa afirmasi berbasis keterampilan (skill-based). Fokus pada sektor strategis seperti energi terbarukan, pariwisata, dan pertanian lahan kering.
  3. Revitalisasi BLK berbasis kemitraan industri. Pelatihan harus berorientasi sertifikasi dan kebutuhan riil pasar kerja, bukan sekadar formalitas program.
  4. Integrasi kurikulum kewirausahaan lokal. Lulusan harus dibekali literasi keuangan dan mentalitas usaha berbasis potensi daerah.
  5. Digitalisasi pendidikan berbasis solusi lokal (last mile). Pengembangan server lokal dan konten offline untuk menjangkau sekolah-sekolah tanpa akses internet stabil.

Penutup

Sudah terlalu lama kita membanggakan ketangguhan anak-anak NTT, tetapi lupa memperbaiki sistem yang menopang masa depan mereka.

Jika tidak kita ubah hari ini, maka sepuluh tahun ke depan kita hanya akan mengulang cerita yang sama: anak-anak NTT yang kuat, tetapi sistem yang lemah.

Kita tidak sedang mencetak angka statistik. Kita sedang membentuk masa depan.

Hari ini harus menjadi garis pembatas: anak-anak NTT tidak boleh lagi hanya menjadi buruh kasar di negeri orang.

Mereka harus menjadi tuan di tanahnya sendiri,bterampil, berdaulat, dan bermartabat.

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Bole na’en, NTT bisa! (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved