Opini
Opini: Saat Musim Kemarau Mengetuk Pintu NTT
Memasuki bulan Mei, wilayah NTT mulai didominasi oleh pergerakan Angin Monsun Timur (Australian Monsoon).
Oleh: Hamdan Nurdin
Climate Forecaster Senior Stasiun Klimatologi NTT.
POS-KUPANG.COM - Hari ini, di bawah langit Kota Kupang yang cerah pada 30 April 2026, hembusan angin sudah mulai terasa mengeringkan kulit.
Menjelang masuknya bulan Mei, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) - Stasiun Klimatologi Kelas II Nusa Tenggara Timur kembali merilis instrumen diagnostik utamanya: Peta Prediksi Curah Hujan Probabilistik untuk Dasarian I Mei 2026 (1–10 Mei 2026).
Secara saintifik, peta ini adalah representasi spasial dari peluang presipitasi (turunnya air dari atmosfer).
Namun, jika kita terjemahkan menggunakan kacamata kearifan lokal NTT, peta ini adalah "surat dari alam" yang memberitahu kita bahwa musim kemarau telah resmi mengetuk pintu NTT. Mari kita bedah data ilmiah ini dengan bahasa yang lebih sederhana.
Dalam analisis klimatologi, terlihat adanya tingkat keyakinan (confidence level) dari suatu kejadian.
Baca juga: Opini: Menemukan Kembali Lumbung Pakan di Nusa Tenggara Timur
Pada peta peluang curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian di atas, hampir sebagian besar wilayah NTT memerah pekat, yang secara statistik ini menunjukkan nilai kemungkinan terjadi berkisar antara 91 hingga 100 persen.
Angka ini ibarat jaminan kepastian. Kepastian bahwa hujan tidak akan lebih dari 50 millimeter per sepuluh hari, sama pastinya dengan fakta bahwa matahari terbit dari ufuk timur Gunung Mutis.
Jika ada mendung yang mampir, itu ibarat tamu yang sekadar lewat minum kopi, sonde (tidak) menginap.
Hujan yang turun mungkin hanya rintik-rintik sekilas yang tidak cukup untuk mengisi kembali haik (wadah air dari daun lontar) apalagi sumur-sumur warga.
Di sisi lain, peluang curah hujan ekstrem (lebih dari 100 mm/dasarian), memiliki peluang kecil terjadi kurang dari 10 persen (warna putih).
Awan cumulonimbus penyebab hujan disertai petir dan angin kencang yang terkadang akan memberikan dampak pada tingginya potensi banjir sudah dilarang melintas di atas kepulauan NTT.
Mengapa langit kita tiba-tiba pelit air? Jawabannya ada pada pergerakan sirkulasi atmosfer regional.
Memasuki bulan Mei, wilayah NTT mulai didominasi oleh pergerakan Angin Monsun Timur (Australian Monsoon).
Monsun ini membawa massa udara kering dari Australia yang melewati sebagian besar daratan yang didominasi oleh wilayah gurun atau dikenal dengan istilah subsiden, dimana udara yang bergerak turun yang bersifat sangat stabil.
Aliran massa udara ini bergerak dari Belahan Bumi Selatan (BBS) yang saat ini bertekanan tinggi dan sebagian besar daratannya adalah gurun pasir.
Saat angin ini menyeberangi Laut Timor menuju NTT, ia membawa sifat asalnya yang sangat kering dan minim uap air (low humidity).
Bayangkan Benua Australia di sebelah selatan sana sebagai sebuah tungku perapian raksasa.
Angin Monsun Timur adalah napas dari perapian itu yang ditiupkan ke arah kita.
Hawa kering ini langsung menyapu bersih bibit-bibit awan di atas langit NTT sebelum mereka sempat "matang" menjadi tetesan hujan.
Meski mayoritas wilayah NTT terpanggang matahari, BMKG masih menangkap anomali kecil pada peluang curah hujan lebih dari 20 mm per sepuluh hari, yang ditunjukkan dengan gradasi warna kuning dan oranye (peluang menengah hingga tinggi) di sebagian pesisir barat daya Sumba dan wilayah pegunungan Manggarai di barat Flores.
Ini adalah fenomena yang disebut hujan orografis. Sisa-sisa uap air tipis di udara dipaksa naik oleh topografi pegunungan tinggi di wilayah tersebut.
Saat udara naik, ia mendingin, terkondensasi kemudian jatuh sebagai hujan dalam skala lokal.
Wilayah pegunungan di barat Flores dan Sumba ini ibarat “spon” terakhir yang berhasil memeras sisa-sisa air dari udara.
Meskipun hanya gerimis, ini seperti oase yang tersisa sedikit, tapi cukup membasahi kerongkongan alam yang mulai kehausan.
Secara klimatologi pertanian (agroklimatologi), ketiadaan hujan diiringi oleh peningkatan intensitas radiasi matahari akan memicu lonjakan angka evapotranspirasi.
Ini adalah proses ganda: penguapan air langsung dari permukaan tanah (evaporasi) dan penguapan air dari pori-pori daun tanaman (transpirasi).
Ketika evapotranspirasi jauh lebih tinggi daripada hujan, terjadilah defisit curah hujan.
Menghadapi prediksi penurunan curah hujan ini, apa yang harus kita lakukan di NTT?
Cekaman kekeringan (drought stress) sudah di depan mata. Ini saatnya petani kita mengistirahatkan padi sawah.
Kembalilah pada komoditas endemik yang adaptif secara genetik terhadap lahan kering, seperti sorgum, jewawut dan jagung lokal.
Tanaman-tanaman ini ibarat Kuda Sandelwood, fisiknya tidak manja, akar mereka menancap kuat mencari air di celah batu karang dan tahan banting di bawah terik matahari.
Debit air permukaan di embung dan mata air akan mengalami penurunan drastis. Hukum fisika penguapan tidak bisa dilawan. Oleh karena itu, kita harus melakukan manajemen konservasi air.
Perlakukan setiap liter air bersih di rumah tangga tangga layaknya kita menjaga belis (harta mahar) yang sangat berharga; jangan dihamburkan secara percuma.
Informasi prediksi curah hujan dasarian I Mei 2026 dari BMKG bukan sekadar grafis warna-warni, melainkan instrumen mitigasi.
Kekeringan di NTT adalah sebuah konstanta (nilai tetap) dalam persamaan iklim tahunan kita, bukan sebuah variabel yang mengejutkan.
Alam semesta sedang memutar siklusnya dan masyarakat NTT, dengan ketangguhannya yang telah teruji zaman, pastinya tahu persis bagaimana menari mengikuti irama angin timuran ini.
Biar matahari pung terik menyengat kulit, ketong pung semangat pantang menyerah sonde boleh kering. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hamdan-Nurdin.jpg)