Sabtu, 25 April 2026

Opini

Opini: Pendidikan Harus Bisa Membentuk Generasi NTT yang Kreatif

Kreativitas memungkinkan seseorang tumbuh inovatif dan menghasilkan ide-ide baru bagi peluang bisnisnya. 

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Hendrikus Genggor 

Karena itu model pembelajaran di sekolah juga harus benar-benar dirancang untuk menumbuhkembangkan komponen pembentuk kreativitas dalam diri siswa seperti kemampuan mensintesis, analitis, berani mengambil risiko, mampu menghadapi hal-hal yang bersifat ganda, mampu menciptakan cara-cara untuk menyelesaikan sesuatu. 

Kita bisa mengambil contoh dari Taiwan atau China. Di sana kreativitas dipandang sebagai sikap hidup yang harus ada dan menjadi bagian dari diri setiap orang jika ingin sukses. 

Hal itu membuat lembaga pendidikan berlomba-lomba membuat strategi pembelajaran dan pembinaan agar mampu menumbuhkan kreativitas pada peserta didiknya. 

Jika gagal, lembaga pendidikan tersebut pasti akan ditinggalkan. Jadi, pendidikan kita harusnya juga bisa melakukan itu.

Paling tidak ada enam model pembelajaran yang menurut penelitian dapat menstimulus kreativitas anak didik yaitu model pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, inquiry learning, Search, Solve, Create, and Share (SSCS), dan Science-Wastepreneurship. 

Model-model ini pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru, yang bahkan sudah dipelajari para guru di bangku kuliah. Tinggal kemauan kita untuk belajar lagi dan menerapkannya.

Gerakan Bersama

Namun niat dari individu guru saja tidak cukup. Jika ingin berdampak luas, perlu ada komitmen kuat dari masyarakat pendidikan NTT untuk menjalankannya secara bersama. 

Paulo Freire pernah mengatakan bahwa salah satu cara masyarakat menjalankan tanggung jawab sosial politiknya adalah dengan campur tangan dalam nasib sekolah anak-anak mereka. 

Karena itu, jika kita sepakat pendidikan yang menumbuhkan kreativitas adalah jalan untuk berkontribusi pada pengentasan kemiskinan di NTT maka semua stakeholder mulai dari gubernur, bupati hingga para guru harus punya nadi yang sama untuk mengalirkan semangat perubahan itu. 

Harus ada gerakan bersama yang sistematis dan terencana untuk menciptakan ekosistem yang dibutuhkan bagi berkembangnya pembelajaran kreativitas ini. 

Pemerintah misalnya harus menyiapkan kebijakan yang memungkinkan pembelajaran ini diterapkan di semua satuan pendidikan. 

Sekolah, yayasan, perguruan tinggi berperan dalam memastikan guru-guru memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menerapkan model-model pembelajaran tersebut. 

Lembaga Pendidikan termuka seperti seminari bisa berperan sebagai pelopor yang akan dicontoh sekolah lain. 

Jika semua ini bisa dilakukan maka NTT akan segera memanen generasi kreatif yang diharapkan mampu mengangkat saudaranya dari lumpur kemiskinan. Semoga. Selamat Hari Pendidikan Nasional. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved