Opini
Opini: Hadir, Pak yang Dibalas Caci Maki?
Pihak kampus terkait juga telah menyebut peristiwa ini sebagai catatan buruk yang akan segera dievaluasi.
Dosen memegang otoritas akademik serta kuasa simbolik sekaligus sehingga ketika ruang itu diisi oleh kata-kata merendahkan, maka tidak ada mahasiswa yang benar-benar bebas untuk merespons secara setara.
Hambatan Komunikasi, Ketika Layar Menjadi Tembok Bisu
Meskipun perilaku verbal dosen dalam kasus tersebut tidak dapat dibenarkan, kita juga perlu melakukan bedah komunikasi terhadap perilaku mahasiswa di ruang kelas daring.
Komunikasi yang efektif selalu membutuhkan umpan balik atau feedback yang seimbang agar pesan dapat terdistribusi dengan baik. Namun realitanya, banyak dosen sering kali harus berhadapan dengan deretan kotak hitam tanpa wajah karena mahasiswa enggan menyalakan kamera.
Dalam studi komunikasi, elemen non-verbal seperti ekspresi wajah serta tatapan mata memiliki peran sebesar dalam membangun kesepahaman.
Ketika mahasiswa memilih untuk pasif serta hanya muncul saat absensi lalu kembali menghilang di balik layar mati, maka terciptalah hambatan komunikasi yang sangat melelahkan bagi pengajar.
Kondisi ini sering kali menimbulkan frustrasi psikologis karena dosen merasa sedang berbicara dengan benda mati tanpa adanya interaksi yang manusiawi.
Kepasifan mahasiswa yang ekstrem dalam ruang virtual merupakan salah satu pemicu retaknya suasana belajar yang kondusif.
Hal ini memang tidak memberikan ruang bagi kekerasan verbal, namun ia merupakan masalah komunikasi serius yang menyumbang pada terciptanya ketegangan di ruang kelas daring.
Lebih dari Sekadar Salah Diksi
Setelah video tersebut viral, sang dosen menyampaikan permohonan maaf serta menyebut insiden itu sebagai sebuah kekeliruan dalam pemilihan diksi.
Pihak kampus terkait juga telah menyebut peristiwa ini sebagai catatan buruk yang akan segera dievaluasi.
Langkah tersebut memang sangat penting untuk diambil namun kita perlu melihat ada hal yang lebih dalam dari sekadar urusan pemilihan kata.
Dalam perspektif komunikasi, kata seperti “bodoh” maupun “binatang” dalam relasi dosen serta mahasiswa membawa makna yang melampaui emosi sesaat.
Hal ini merupakan bentuk kekerasan simbolik yakni sebuah dominasi yang bekerja lewat bahasa serta posisi sosial yang tidak setara.
Dampaknya mungkin tidak terasa secara fisik namun ia menyerang harga diri serta identitas mahasiswa sebagai manusia.
Ketika serangan tersebut terjadi di hadapan rekan sekelas serta dalam ruang yang terekam secara digital, maka lapisan dampaknya menjadi berlipat ganda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Danang-Novika-Ruswantara1.jpg)