Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Tantangan Kesempatan dalam Kesempitan bagi OVOP

Di sinilah titik krusialnya. Jika tujuan OVOP adalah menghasilkan nilai tambah, maka kebijakan harus berani fokus.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JERMI HANING
Jermi Haning 

Semua kondisi ini—ketidakpastian, path dependence, tekanan sosial, relasi tengkulak, dan kegagalan pasar—membentuk satu logika sederhana yakni ketika peluang muncul, ia harus dimanfaatkan secara maksimal.

Orang miskin tidak punya banyak kesempatan untuk mencoba dan gagal. Mereka tidak memiliki cadangan untuk menanggung risiko. Maka keputusan yang terlihat agresif sebenarnya adalah bentuk kehati-hatian dalam dunia yang tidak memberi ruang untuk kesalahan.

Tantangan Nyata bagi OVOP

OVOP masuk ke dalam realitas ini. Secara konsep kuat, tetapi dalam praktik menghadapi kompleksitas struktural.

Rasionalitas jangka pendek membuat masyarakat melihat OVOP sebagai peluang langsung, bukan investasi. Path dependence mengurangi kepercayaan. Jaringan sosial dan tengkulak menghambat akumulasi.Akibatnya, OVOP berisiko menjadi program sesaat.

Siklus Politik dan Kehampaan Pengetahuan

Program pembangunan juga terjebak dalam siklus politik lima tahunan. Ketika kepemimpinan berubah, program ikut berubah.

Masalahnya bukan hanya perubahan, tetapi hilangnya pembelajaran. Dokumentasi lemah, evaluasi tidak sistematis, dan pengetahuan tidak terakumulasi. Produk tidak sempat matang, pasar tidak terbentuk.

Pendekatan Supply-Based: Produksi Tanpa Pasar

Pendekatan yang dominan masih supply-based. Produksi didorong tanpa memahami permintaan.

Akibatnya, terjadi mismatch. Bantuan tidak selalu relevan, tetapi tetap diterima karena kesempatan dianggap langka. Ini memperkuat logika “kesempatan dalam kesempitan”.

Menuju Kebijakan yang Lebih Realistis

Di sinilah titik krusialnya. Jika tujuan OVOP adalah menghasilkan nilai tambah, maka kebijakan harus berani fokus.

Data stunting menjadi indikator penting. Jika angka stunting anak di wilayah seperti TTU mencapai sekitar 49 persen, maka sangat mungkin orang tua sebagai pelaku ekonomi berada dalam kondisi kerentanan serius, bahkan mendekati 70 persen.

Dalam kondisi seperti ini, tidak banyak yang bisa diharapkan dari mereka untuk melakukan investasi. Fokus utama mereka adalah subsisten.

Stunting bukan hanya soal fisik, tetapi juga berdampak pada perkembangan kognitif. Dalam banyak studi, anak dengan stunting kronis memiliki kapasitas belajar, pengambilan keputusan, dan produktivitas yang lebih terbatas. 

Ini bukan soal individu, tetapi soal kondisi struktural yang memengaruhi kemampuan ekonomi jangka panjang.

Karena itu, memaksakan mereka menjadi pelaku utama dalam skema nilai tambah seperti OVOP adalah pendekatan yang tidak realistis.

Mereka harus dipastikan menerima hak dasar seperti  BLT, JKN/Askes, KIP dan  intervensi gizi. Dan fokus pada pengelolaan faktor produksi untuk bertahan hidup.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved