Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Tantangan Kesempatan dalam Kesempitan bagi OVOP

Di sinilah titik krusialnya. Jika tujuan OVOP adalah menghasilkan nilai tambah, maka kebijakan harus berani fokus.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JERMI HANING
Jermi Haning 

• Aturan bisa longgar.

• Kewajiban tidak selalu ditegakkan.

• Bantuan adalah peluang yang harus dimanfaatkan saat tersedia.

Pengalaman ini membentuk ekspektasi kolektif. Maka ketika program baru seperti OVOP hadir, masyarakat tidak memulainya dari nol, tetapi dari memori sosial yang sudah terbentuk. 

Dalam konteks ini, perilaku “memaksimalkan kesempatan” bukan penyimpangan, melainkan respons terhadap sistem yang tidak konsisten.

Jaringan Sosial: Solidaritas, Tekanan, dan Tengkulak

Bryant L. Myers dalam Walking with the Poor (1999) menjelaskan bahwa jaringan sosial berfungsi sebagai “asuransi” utama dalam kondisi di mana negara dan pasar tidak sepenuhnya hadir. Pinjaman keluarga, solidaritas komunitas, dan relasi sosial menjadi mekanisme bertahan hidup.

Namun jaringan ini juga membawa tekanan: kewajiban membayar utang, membantu keluarga, hingga memenuhi tuntutan adat seperti belis.

Lebih kompleks lagi, jaringan ini mencakup relasi asimetris dengan tengkulak. Dalam banyak komunitas, tengkulak menyediakan akses likuiditas cepat melalui sistem ijon. 

Secara ekonomi merugikan, tetapi secara praktis menjadi satu-satunya pilihan.

Ketika bantuan atau peluang baru datang, manfaatnya sering tidak dinikmati sepenuhnya oleh penerima. Ia terserap untuk membayar utang lama atau memperpanjang ketergantungan. 

Ini menjelaskan mengapa banyak program tidak menghasilkan transformasi signifikan: manfaatnya tersebar dalam jaringan yang timpang.

Kegagalan Pasar: Kompetisi yang Semu

Secara teoritis, Adam Smith berbicara tentang invisible hand. Namun dalam praktik, pasar sering tidak bekerja secara ideal.

Joseph Stiglitz dalam The Price of Inequality (2012) menunjukkan bahwa ketimpangan informasi dan kekuatan pasar menciptakan hasil yang tidak adil. 

Struktur pasar terkonsentrasi, distribusi dikuasai pemain besar, dan pelaku kecil hanya bersaing di ruang sempit.

Dalam kondisi ini, kesempatan ekonomi tidak benar-benar setara. Ini bukan sekadar kegagalan kompetisi, tetapi kegagalan struktur.

Rasionalitas dalam Kesempatan Terbatas

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved