Minggu, 19 April 2026

Opini

Opini: Menanti Veronika di Menara Babel

Veronika adalah keberanian untuk berhenti sejenak di tengah sistem yang terus bergerak, lalu melihat manusia yang terluka.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JOHN MOZES HENDRIK WADU NERU
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Satire “Bluetooth” dan Pencarian Bahasa Kasih yang Sejati (Perspektif Kejadian 11:1–9)

Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta GMIT di Sabu Raijua
johnmhwaduneru@gmail.com

POS-KUPANG.COM - Di satu malam di Sabu, seorang anak berdiri di atas batu karang sambil mengangkat teleponnya tinggi tinggi. Ia tidak sedang bermain. Ia sedang mencari sinyal untuk mengirim tugas sekolah. 

Di bawahnya, ombak terus bergerak. Di belakangnya, rumah gelap karena listrik padam. Pesan itu akhirnya terkirim, tetapi tidak ada jaminan akan sampai tepat waktu.

Di rumah yang sama, ibunya duduk diam. Mereka berdua dekat, tetapi tidak benar benar berbicara.

Baca juga: Lirik Lagu Timur Judul Lu Kenal Veronika Ko? Lagu yang Viral Di Tiktok

Data Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada September 2025, kemiskinan di NTT masih berada di angka 17,50 persen atau sekitar 1,03 juta orang. 

Sementara itu Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menunjukkan penetrasi internet telah melampaui 70 persen. 

Banyak warga mengandalkan jaringan Telkomsel, dengan tarif yang bagi sebagian masyarakat masih terasa mahal, sementara kualitas jaringan tidak selalu stabil dan sangat bergantung pada listrik yang kerap padam.

Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang jarang kita akui: kita mungkin semakin mudah mengirim pesan, tetapi semakin sulit saling memahami.

Masalahnya Bukan Sinyal, Tetapi Bahasa yang Dipaksakan

Masalahnya bukan sekadar lemahnya jaringan. Masalahnya adalah kita dipaksa berbicara dalam satu bahasa yang tidak sepenuhnya lahir dari kehidupan kita sendiri.

Apa yang terlihat hanyalah persoalan sinyal dan listrik. Tetapi jika dibaca lebih jujur, ini adalah gejala dari sesuatu yang lebih dalam: cara pembangunan memaksa keseragaman atas realitas yang sebenarnya beragam.

NTT hidup dengan puluhan bahasa lokal. Di sana, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi cara memahami hidup. 

Namun dalam ruang kebijakan dan sistem digital, hanya ada satu bahasa yang diakui sah: bahasa efisiensi, bahasa target, bahasa angka.

Kita menyebutnya kemajuan. Tetapi jika kita jujur, ini bukan kemajuan. Ini adalah penyeragaman yang bekerja diam diam, membuat manusia harus menyesuaikan diri dengan sistem yang tidak pernah benar benar memahami mereka.

Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa bahasa adalah kekuasaan. Ia menentukan siapa yang didengar dan siapa yang harus diam. 

Dan di sini, kita mulai melihat masalah yang lebih jujur: yang hilang bukan sekadar bahasa, tetapi hak untuk dimengerti.

Babel Modern : Ketika Sistem Menggantikan Relasi

Jika dibaca lebih jujur, kisah Kejadian 11:1–9 bukan tentang manusia yang terlalu hebat. 

Ia tentang manusia yang terlalu takut. “Mari kita dirikan sebuah kota supaya kita jangan terserak.”

Teolog Walter Brueggemann melihat Babel sebagai proyek manusia untuk menghindari ketidakpastian dengan cara menyeragamkan segalanya. 

Sementara Jacques Ellul mengingatkan bahwa dalam dunia modern, manusia mulai hidup di bawah sistem teknik yang ia ciptakan sendiri.

Masalahnya bukan pada menara. Masalahnya adalah ketika sistem menjadi lebih penting daripada manusia.

Hari ini, Babel tidak lagi berbentuk bangunan. Ia hadir dalam jaringan. Dalam aplikasi. 

Dalam sistem yang membuat semua orang tampak terhubung. Tetapi keterhubungan itu tidak selalu adil.

Penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan digital di NTT dipengaruhi oleh pendidikan, ekonomi dan akses listrik (Shabihah & Misga, 2025). 

Artinya, ketika listrik padam, bukan hanya koneksi yang hilang.  Yang hilang adalah kesempatan untuk hadir dalam percakapan.

Di sinilah pukulan sebenarnya: kita tidak hidup dalam dunia tanpa komunikasi.

Kita hidup dalam dunia di mana tidak semua orang memiliki hak yang sama untuk didengar. 

Ini bukan sekadar kesenjangan. Ini adalah ketimpangan dalam makna keberadaan manusia itu sendiri.

Ketika Kata Ada Tetapi Kebenaran Menghilang

Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi tentang teknologi. Pertanyaannya adalah: apa yang sebenarnya sedang kita benarkan?

Ketika masyarakat membayar mahal untuk jaringan yang tidak stabil, ketika listrik padam memutus komunikasi, ketika sistem berjalan tanpa memastikan keadilan akses, kita tidak hanya kehilangan kenyamanan. Kita kehilangan kejujuran.

Jürgen Habermas berbicara tentang komunikasi sebagai ruang membangun pemahaman. 

Tetapi dalam dunia yang dikendalikan sistem dan pasar, komunikasi berubah menjadi alat, bukan relasi.

Yang jarang kita sadari adalah: kita tidak kekurangan komunikasi, kita kehilangan kebenaran dalam komunikasi itu sendiri. Yang diam disebut sabar. 

Yang tertinggal disebut belum siap. Yang tidak terjangkau disebut wajar. Tetapi yang dibiarkan tidak adil, justru disebut normal.

Menanti Veronika di Menara Babel

Di sinilah simbol Veronika menjadi penting. Ia tidak datang membawa jaringan. Ia tidak membawa sistem. 

Ia tidak memperbaiki teknologi. Ia hanya hadir. Dan justru di situlah sesuatu yang paling langka hari ini: kehadiran yang tidak tunduk pada sistem, tetapi setia pada manusia.

Jika Babel adalah simbol manusia yang ingin menyatukan dunia tanpa relasi, maka Veronika adalah simbol keberanian untuk menghadirkan relasi di tengah sistem yang tidak peduli.

Kita tidak bisa terus menyebut ini sebagai keterbatasan daerah. Ini bukan sekadar soal listrik, sinyal, atau tarif. Ini adalah soal siapa yang kita biarkan tidak terlihat.

Barangkali kita tidak kekurangan jaringan. Barangkali kita tidak kekurangan teknologi. 

Yang kita kekurangan adalah kejujuran untuk mengakui bahwa kita sedang membangun menara yang tinggi, tetapi membiarkan manusia di dalamnya tetap sendiri. 

Dan di situlah judul ini menemukan maknanya.

Kita sedang hidup di dalam Menara Babel yang baru. 

Sinyal ada. Sistem berjalan. 

Dunia tampak terhubung.

Tetapi kasih tidak otomatis hadir.

Karena itu, kita menanti Veronika.Bukan untuk datang dari luar, tetapi untuk lahir dari dalam diri kita sendiri.

Veronika adalah keberanian untuk berhenti sejenak di tengah sistem yang terus bergerak, lalu melihat manusia yang terluka. Veronika adalah keputusan untuk tidak hanya terkoneksi, tetapi hadir. 

Veronika adalah bahasa yang tidak membutuhkan sinyal, tetapi membutuhkan hati. Dan mungkin, perubahan tidak dimulai dari jaringan yang lebih kuat.

Tetapi dari keberanian yang paling sederhana, yang justru paling sulit: berhenti menjadi bagian dari Babel dan mulai menjadi Veronika. (*)

Daftar Rujukan 

  • Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2026). Persentase penduduk miskin Provinsi Nusa Tenggara Timur September 2025. Kupang: BPS NTT.
  • Brueggemann, W. (1982). Genesis (Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching). Atlanta: John Knox Press.
  • Bourdieu, P. (1991). Language and symbolic power. Cambridge, MA: Harvard University Press.
  • Ellul, J. (1964). The technological society. New York: Vintage Books.
    Habermas, J. (1984). The theory of communicative action: Reason and the rationalization of society (Vol. 1). Boston: Beacon Press.
  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia. (2025). Revitalisasi bahasa daerah sebagai upaya pelestarian kebudayaan nasional. Jakarta: Kemendikbudristek.
  • Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. (2024). Online scam sebagai tren baru perdagangan orang di Indonesia. Jakarta: Komnas HAM.
  • Shabihah, A., & Misga, N. (2025). Analisis multilevel: Determinan status kemiskinan digital pada penduduk usia 5 tahun ke atas di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal Statistik Terapan dan Riset, 5(1), 45–60. https://doi.org/10.xxxx/jstar.v5i1.xxx
  • Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2024). Survei penetrasi  internet Indonesia 2024. Jakarta: APJII.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2023). Vitalitas bahasa daerah di Indonesia: Laporan nasional. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved