Opini
Opini: Mencermati Dinamika Perbatasan Negara
Realitas perbatasan yang penuh dinamika, terasa lenyap dalam cakap dan rutinitas keseharian warganya. Batas hanyalah penanda teritorial.
Akses yang sudah terbuka dengan infrastruktur jalan yang mumpuni tidak mampu memicu adanya perubahan signifikan dalam kehidupan ekonomi kemasyarakatan.
Lantas, apa faktor lain yang mempengaruhi sehingga kemajuan di daerah perbatasan belum tercipta?
Dalam menelaah struktur sosial masyarakat, Jean-Jacques Rousseau melalui bukunya; A Discourse on Political Economy Understanding the Economic Basic of Liberty (1755) menegaskan bahwa negara wajib bertanggungjawab untuk menyediakan penghidupan dan kebutuhan warganya sebagai aspek mendasar dari pemerintahan yang dipadu oleh kehendak umum.
Perlindungan warga negara saja tidak cukup. Kelangsungan hidup mereka harus dijamin oleh negara. Dengan memenuhi kebutuhan publik, negara telah menjalankan kebaikan bersama bagi rakyatnya.
Pemenuhan kebutuhan bagi rakyat oleh negara tidak serta-merta hanya mewujudkan rasa aman dengan adanya kehadiran aparat yang menjaga perbatasan.
Kehadiran negara seharusnya masuk lebih dalam ke dalam aspek-aspek mendasar yang menjadi akar (radix) dari persoalan keseharian warganya.
Dengan optimalisasi potensi yang telah terkandung dalam diri (in se) dan kultur masyarakat dapat mencipta inovasi yang berkelanjutan bagi warga di tapal batas negara.
Apa yang mungkin dari perbatasan?
“Sanak saudara kami ada di sebelah,” demikian jawaban warga ketika ditanyakan apa tujuannya melintas batas ke negara tetangga.
Jawaban ini mengandung potensi bahwasanya aktualisasi inovasi dapat terlaksana karena adanya hubungan persaudaraan yang melampaui hubungan bilateral antara kedua negara.
Dengan berbasis pada ikatan ‘primordial’-dalam konotasi positif-membuka peluang untuk meletis kerjasama yang mutualis antar kedua negara dapat tercipta.
Selain berbagi pengetahuan, kerja sama lain yang memungkinkan adalah kerja sama ekonomis.
Membangun pasar perbatasan untuk memudahkan pertukaran sumber daya dan barang produksi pertanian, perkebunan, peternakan dan bahan pokok;sandang dan pangan.
Apalagi, dalam ingatan warga, pasar tradisional antar kedua negara pernah berjalan ketika masih dalam bingkai Indonesia.
Terlebih, dengan adanya pusat ekonomi yang mudah dijangkau dapat memutus rantai pasar yang panjang dari areal urban ke rural sehingga harga bahan pokok lebih mudah terjangkau oleh warga yang pendapatannya rendah.
Ardy Milik
Institute of Resource Governance and Social Change
Timor Leste
Perbatasan Timor Leste
Perbatasan Indonesia dan Timor Leste
Opini Pos Kupang
Meaningful
| Opini: Dunia yang Kehilangan Tatanan |
|
|---|
| Opini: El Nino Godzilla, Potensi Bias Risiko dan Arah Kebijakan |
|
|---|
| Opini: SiLPA NTT 2025- Ketika Sisa Anggaran Menjadi Cermin Kegagalan Serapan |
|
|---|
| Opini: Martabat Perempuan di NTT dalam Terang Dokumen Mulieris Dignitatem |
|
|---|
| Opini: Saatnya Kita Bangun Masyarakat Interkultural |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ardy-Milik.jpg)