Minggu, 19 April 2026

Opini

Opini: Mencermati Dinamika Perbatasan Negara

Realitas perbatasan yang penuh dinamika, terasa lenyap dalam cakap dan rutinitas keseharian warganya. Batas hanyalah penanda teritorial.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ARDY MILIK
Ardy Milik 

Akses yang sudah terbuka dengan infrastruktur jalan yang mumpuni tidak mampu memicu adanya perubahan signifikan dalam kehidupan ekonomi kemasyarakatan. 

Lantas, apa faktor lain yang mempengaruhi sehingga kemajuan di daerah perbatasan belum tercipta?

Dalam menelaah struktur sosial masyarakat, Jean-Jacques Rousseau melalui bukunya; A Discourse on Political Economy Understanding the Economic Basic of Liberty (1755) menegaskan bahwa negara wajib bertanggungjawab untuk menyediakan penghidupan dan kebutuhan warganya sebagai aspek mendasar dari pemerintahan yang dipadu oleh kehendak umum. 

Perlindungan warga negara saja tidak cukup. Kelangsungan hidup mereka harus dijamin oleh negara. Dengan memenuhi kebutuhan publik, negara telah menjalankan kebaikan bersama bagi rakyatnya.

Pemenuhan kebutuhan bagi rakyat oleh negara tidak serta-merta hanya mewujudkan rasa aman dengan adanya kehadiran aparat yang menjaga perbatasan. 

Kehadiran negara seharusnya masuk lebih dalam ke dalam aspek-aspek mendasar yang menjadi akar (radix) dari persoalan keseharian warganya. 

Dengan optimalisasi potensi yang telah terkandung dalam diri (in se) dan kultur masyarakat dapat mencipta inovasi yang berkelanjutan bagi warga di tapal batas negara. 

Apa yang mungkin dari perbatasan?

“Sanak saudara kami ada di sebelah,” demikian jawaban warga ketika ditanyakan apa tujuannya melintas batas ke negara tetangga. 

Jawaban ini mengandung potensi bahwasanya aktualisasi inovasi dapat terlaksana karena adanya hubungan persaudaraan yang melampaui hubungan bilateral antara kedua negara. 

Dengan berbasis pada ikatan ‘primordial’-dalam konotasi positif-membuka peluang untuk meletis kerjasama yang mutualis antar kedua negara dapat tercipta. 

Selain berbagi pengetahuan, kerja sama lain yang memungkinkan adalah kerja sama ekonomis. 

Membangun pasar perbatasan untuk memudahkan pertukaran sumber daya dan barang produksi pertanian, perkebunan, peternakan dan bahan pokok;sandang dan pangan. 

Apalagi, dalam ingatan warga, pasar tradisional antar kedua negara pernah berjalan ketika masih dalam bingkai Indonesia. 

Terlebih, dengan adanya pusat ekonomi yang mudah dijangkau dapat memutus rantai pasar yang panjang dari areal urban ke rural sehingga harga bahan pokok lebih mudah terjangkau oleh warga yang pendapatannya rendah. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved