Opini
Opini: Mencermati Dinamika Perbatasan Negara
Realitas perbatasan yang penuh dinamika, terasa lenyap dalam cakap dan rutinitas keseharian warganya. Batas hanyalah penanda teritorial.
Ada berbagai kemungkinan yang dapat dijajaki diantaranya; potensi pertanian, perdagangan dan pertukaran budaya. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana mewujudkan itu?
Realitas Perbatasan
Perbatasan tidak saja menyajikan realitas administratif yang telah baku sebagai bentuk pemisahan yang tegas antara kedua negara.
Di dalamnya juga menyimpan sekelumit pengalaman konflik akibat konfrontasi kedua negara di masa silam.
Namun, perlu ditelisik lebih jauh, konflik yang membara itu tidak merenggangkan hubungan darah yang telah lama terbangun.
Pada masa konflik warga di perbatasan Indonesia dengan tangan terbuka menerima saudari-saudaranya dari Timor Leste untuk sejenak menepi dari bara yang sedang berkecamuk.
Begitu konflik selesai ada yang memilih kembali ke negara asalnya, ada pula yang tetap bertahan dengan berbagai alasan.
Solidaritas tanpa syarat yang telah tumbuh mestinya dirawat dan dikembangkan dalam dimensi kehidupan yang lain.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa perbatasan juga menyimpan realitas tentang peliknya kehidupan yang dapat tertangani bila negara mampu hadir secara benar dan berpihak.
Wajah negara dipertaruhkan di perbatasan. Gambaran umum tentang keadaan negara dapat termakhtub dengan melihat realitas di balik tampakan wajah perbatasan.
Bila dicerna lebih dalam, akan kita dapati bahwa kondisi di perbatasan masih berhadapan dengan persoalan-persoalan mendasar; kekurangan lapangan kerja hingga memicu migrasi ke Kalimatan dan Malaysia, pendidikan yang rendah, kekurangan air bersih sampai dengan yang paling relevan adalah persoalan tapal batas yang belum menemui titik temu di antara kedua negara.
Persoalan mendasar dalam kehidupan bernegara ini membutuhkan jalan keluarnya dengan segera!
Ketimpangan yang menyata di perbatasan tentu berbanding terbalik dengan megahnya infrastruktur di setiap Pos Lintas Batas Negara.
Selain itu, jalan raya sebagai salah satu katrol pembuka adanya kemajuan, menembus jauh dengan mulusnya, terbentang megah di sepanjang desa-desa yang berbatasan langsung dengan negara Timor Lorosae. Anomali.
Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa modernitas yang masuk melalui keterbukaan akses, tidak serta-merta membawa dampak berarti bagi kemaslahatan rakyat, bila persoalan dasar yang membuat ketimpangan makin lebar tidak segera diatasi.
Salah satu faktor yang sering dianggap sebagai penyebab ketimpangan adalah akses jalan, tetapi berlatar dari wilayah perbatasan dalil tersebut terbantah dengan sendirinya. Apa lacur.
Ardy Milik
Institute of Resource Governance and Social Change
Timor Leste
Perbatasan Timor Leste
Perbatasan Indonesia dan Timor Leste
Opini Pos Kupang
Meaningful
| Opini: Dunia yang Kehilangan Tatanan |
|
|---|
| Opini: El Nino Godzilla, Potensi Bias Risiko dan Arah Kebijakan |
|
|---|
| Opini: SiLPA NTT 2025- Ketika Sisa Anggaran Menjadi Cermin Kegagalan Serapan |
|
|---|
| Opini: Martabat Perempuan di NTT dalam Terang Dokumen Mulieris Dignitatem |
|
|---|
| Opini: Saatnya Kita Bangun Masyarakat Interkultural |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ardy-Milik.jpg)