Opini
Opini: El Nino Godzilla, Potensi Bias Risiko dan Arah Kebijakan
Di Indonesia, fenomena ini sering dibungkus dengan istilah sensasional—Godzilla, seolah ancaman harus diperbesar agar dipercaya.
Oleh: I Putu Yoga Bumi Pradana
Akademisi Kebijakan Publik FISIP Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Langit mungkin belum sepenuhnya mengering, tetapi tanda-tanda itu sudah ada.
Laut yang menghangat di Pasifik tengah dan timur perlahan menggeser arah angin, memindahkan awan, dan mengurangi hujan di wilayah yang selama ini menggantungkan hidup pada musim.
Inilah yang disebut El Nino—sebuah siklus iklim yang berulang, tetapi selalu menghadirkan konsekuensi yang tidak pernah benar-benar sama.
Di Indonesia, fenomena ini sering dibungkus dengan istilah sensasional—Godzilla, seolah ancaman harus diperbesar agar dipercaya.
Baca juga: BMKG Umumkan Durasi Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Kering dari Rata-Rata Selama 30 Tahun Terakhir
Padahal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menegaskan bahwa istilah tersebut tidak ilmiah.
Hal yang lebih penting justru fakta bahwa musim kemarau 2026 diprakirakan datang lebih awal, lebih panjang, dan lebih kering dari rata-rata klimatologis.
El Nino mungkin masih berada pada fase lemah hingga moderat, tetapi sejarah menunjukkan bahwa bahkan anomali moderat pun dapat memicu gangguan serius pada pangan, air, dan kesehatan.
Masalahnya bukan pada seberapa kuat El Nino itu datang, melainkan pada bagaimana kita membacanya.
Di sinilah kesalahan paling mendasar terjadi. Kita terlalu sering membaca cuaca sebagai gejala alam, bukan sebagai risiko sosial.
Di Nusa Tenggara Timur, risiko itu tidak pernah berdiri sendiri. Ia berlapis. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada September 2025, tingkat kemiskinan di NTT masih berada pada angka 17,50 persen atau lebih dari satu juta jiwa.
Pada saat yang sama, produksi padi tahun 2024 turun sekitar 7,7 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah penanda rapuhnya daya tahan rumah tangga ketika hujan berhenti lebih lama dari biasanya.
Dalam kerangka Disaster Risk Reduction, risiko bencana bukan hanya fungsi dari hazard, tetapi juga dari kerentanan dan kapasitas (Ben Wisner, 2004).
Artinya, El Nino tidak otomatis menjadi krisis. Ia menjadi krisis ketika bertemu dengan masyarakat yang rentan dan sistem kebijakan yang gagal mengantisipasi.
Empat Kekeliruan
Pertama, kebijakan kita masih terlalu berbasis hazard, belum berbasis target group. Pemerintah sibuk mengukur intensitas kemarau, tetapi belum cukup tajam mengidentifikasi siapa yang paling terdampak.
Padahal, menurut Amartya Sen (1981), kelaparan dan krisis bukan semata soal ketersediaan, tetapi soal akses dan kemampuan individu.
Dalam konteks ini, petani tadah hujan, peternak kecil, dan rumah tangga miskin adalah kelompok yang paling cepat kehilangan akses ketika air dan pangan mulai langka.
Kedua, kita terjebak dalam bias logika agregat. Rata-rata sering menipu. Ketika pemerintah mengatakan “stok pangan aman” atau “daerah siap menghadapi kemarau”, itu bisa benar secara makro tetapi keliru secara mikro.
Charles Perrow(1984) mengingatkan bahwa kompleksitas sistem sering menyembunyikan kegagalan kecil yang berdampak besar.
Dalam konteks NTT, desa-desa kecil yang kehilangan sumber air tidak pernah terlihat dalam angka rata-rata.
Ketiga, kita menghadapi bias bukti teknokratik. Data meteorologi tersedia, tetapi belum terhubung dengan data sosial.
Pemerintah tahu kapan hujan berkurang, tetapi tidak selalu tahu siapa yang paling terdampak ketika itu terjadi.
Herbert Simon (1947) menyebut ini sebagai keterbatasan rasionalitas dalam pengambilan Keputusan, di mana informasi ada, tetapi tidak terolah menjadi keputusan yang tepat.
Keempat, respons kebijakan masih terlalu infrastruktur-sentris. Pompa, embung, dan sumur bor menjadi solusi utama. Padahal kekeringan bukan hanya persoalan air fisik.
Ia juga persoalan akses, biaya, kesehatan, dan tekanan terhadap penghidupan. Ketika kebijakan hanya fokus pada infrastruktur, maka dimensi sosial dari krisis justru terabaikan.
Masalah Lebih Dalam
Keempat kekeliruan itu berakar pada satu hal: cara berpikir kebijakan yang menyederhanakan risiko.
El Nino dipandang sebagai gangguan musiman yang cukup direspons dengan peringatan dan bantuan darurat. Pendekatan ini mengabaikan fakta bahwa risiko terbentuk jauh sebelum bencana terjadi.
Dalam perspektif Climate Risk Governance (Elinor Ostrom, 2010), pengelolaan risiko iklim tidak hanya soal respons, tetapi juga soal tata kelola yang mampu mengantisipasi ketidakpastian.
Tanpa itu, setiap peringatan dini hanya akan berakhir sebagai rutinitas birokrasi.
Sejarah memberikan pelajaran yang jelas. El Nino 1997–1998 menyebabkan penurunan produksi pangan dan krisis ekonomi di Indonesia. El Nino 2015–2016 memicu kebakaran hutan besar dan kabut asap lintas negara.
Bahkan secara global, lebih dari 60 juta orang terdampak ketidakamanan pangan akibat fenomena ini.
Dengan kata lain, El Nino bukan peristiwa baru. Yang baru adalah seberapa siap kita menghadapinya.
Arah Kebijakan
Untuk keluar dari jebakan ini, diperlukan pergeseran mendasar. Pertama, kebijakan harus berbasis kerentanan spesifik. Data iklim harus dipadukan dengan data kemiskinan, akses air, dan struktur penghidupan.
Kedua, pemerintah harus bergerak dari early warning menuju early livelihood protection. Peringatan dini harus memicu tindakan sebelum krisis terjadi, bukan setelah dampak meluas.
Ketiga, pendekatan harus lintas sektor. Kekeringan menyentuh pangan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan sekaligus.
Keempat, masyarakat harus menjadi bagian dari solusi. Pengetahuan lokal tentang air dan musim adalah modal yang tidak bisa digantikan oleh data teknis semata.
Pada akhirnya, El Nino 2026 bukan sekadar fenomena iklim. Ia adalah ujian bagi negara: apakah mampu membaca risiko secara utuh, atau kembali terjebak dalam ilusi bahwa data dan infrastruktur sudah cukup.
Sebab yang paling berbahaya dari musim kering bukan hanya langit yang tak lagi menurunkan hujan, tetapi kebijakan yang gagal memahami siapa yang paling dulu kehilangan kehidupan. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
I Putu Yoga Bumi Pradana
Opini Pos Kupang
Dampak Buruk El Nino
NTT waspadai El Nino
El Nino
El Nino di Indonesia
NTT Siaga Kekeringan
kemarau panjang
| Opini: SiLPA NTT 2025- Ketika Sisa Anggaran Menjadi Cermin Kegagalan Serapan |
|
|---|
| Opini: Martabat Perempuan di NTT dalam Terang Dokumen Mulieris Dignitatem |
|
|---|
| Opini: Saatnya Kita Bangun Masyarakat Interkultural |
|
|---|
| Opini - Suanggi Dalam Pertarungan Pengetahuan: Antara Keyakinan Lokal dan Rasionalitas Moderen NTT |
|
|---|
| Opini - Budaya yang Mengalir: Reinterpretasi Tradisi Lokal NTT melalui Kosmologi Heraklitos |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/I-Putu-Yoga-Bumi-Pradana-01.jpg)