Opini
Opini: Duduk Melingkar Bersama Guru- Proficiat, Prof. Otto Gusti Madung
Sebagai profesor ketiga di Ledalero, setelah Pater Konrad Kebung, SVD dan Pater Guido Tisera, SVD, kehadiran beliau tentu membanggakan.
Di situlah seorang guru menemukan otoritas sejatinya: bukan pada apa yang ia katakan, tetapi pada bagaimana ia hidup.
Berpihak tetapi Tetap Kritis
Sebagai seorang intelektual, Profesor Otto juga dikenal karena keberpihakannya pada “orang-orang kecil”, terutama melalui keterlibatannya bersama JPIC SVD Ende.
Ia berbicara dan memperjuangkan hak asasi manusia bukan sebagai wacana abstrak, tetapi sebagai praksis nyata.
Namun, sebagai murid, saya juga belajar bahwa mencintai seorang guru tidak berarti berhenti bertanya. Justru dari beliau, saya belajar untuk berpikir kritis—bahkan terhadap pemikiran yang saya hormati.
Dalam konteks keberpihakan pada korban, selalu ada kebutuhan untuk menjaga kejernihan refleksi, agar empati tidak berubah menjadi absolutisasi.
Sebab, jika tidak hati-hati, keberpihakan dapat tergelincir menjadi semacam mendeifikasi korban, seolah-olah setiap posisi korban secara otomatis identik dengan kebenaran.
Di titik ini, refleksi Jürgen Habermas tentang rasionalitas komunikatif tetap penting: bahwa kebenaran harus terus diuji dalam dialog yang terbuka.
Pada saat yang sama, kepekaan Giorgio Agamben mengingatkan kita untuk tidak pernah kehilangan perhatian pada mereka yang paling rentan. Di antara ketegangan inilah, pemikiran tetap hidup—dan saya percaya, Profesor Otto sendiri membuka ruang bagi dialog semacam ini.
Guru yang Membentuk
Sebagai profesor ketiga di Ledalero, setelah Pater Konrad Kebung, SVD dan Pater Guido Tisera, SVD, kehadiran beliau tentu membanggakan.
Namun lebih dari itu, ia menjadi contoh—bahwa menjadi akademisi bukan hanya soal gelar, tetapi tentang integritas, keberanian, dan kesetiaan pada kemanusiaan.
Bagi saya pribadi, ia adalah formator. Guru yang tidak hanya mengajar, tetapi membentuk. Guru yang tidak menciptakan jarak, tetapi menciptakan lingkaran.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari semua ini: bahwa filsafat bukan hanya soal berpikir, tetapi tentang bagaimana kita duduk bersama, mendengar, berbicara, dan mengakui satu sama lain sebagai manusia.
Di tengah dunia akademik yang sering terjebak dalam kompetisi, publikasi, dan pengakuan formal, kehadiran sosok seperti Profesor Otto menjadi pengingat bahwa inti dari pendidikan tetaplah relasi.
Ia menunjukkan bahwa pengetahuan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan tumbuh dalam perjumpaan—dalam kesediaan untuk mendengar, untuk merespons, dan untuk terus belajar bersama.
Barangkali inilah warisan terbesarnya: bukan hanya gagasan yang tertulis dalam buku, tetapi jejak hidup yang tertanam dalam diri para muridnya.
Sebab pada akhirnya, seorang guru sejati tidak hanya meninggalkan teori, melainkan membentuk cara kita memandang dunia dan memperlakukan sesama.
Proficiat, Prof. Otto Terima kasih karena telah menjadi guru — dan tetap menjadi murid. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Otto-Gusti-Madung-03.jpg)