Jumat, 17 April 2026

Opini

Opini: Paradoks Hari Kartini 

Kita merawat ingatan kolektif tentang perjuangan  Kartini, tetapi belum sepenuhnya memastikan nilai-nilainya hadir dalam praktik sehari-hari. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI AKBAR HIZNU MAWANDA
Akbar Hiznu Mawanda. 

Dalam penegakan hukum, perlindungan terhadap korban kekerasan berbasis gender harus menjadi prioritas nyata, bukan sekadar komitmen normatif. 

Di tingkat institusi, diperlukan mekanisme yang memastikan ruang aman bagi perempuan, bebas dari kekerasan dan diskriminasi, serta menjamin adanya akuntabilitas ketika pelanggaran terjadi.

Tanpa langkah-langkah tersebut, kita hanya akan mengulang siklus yang sama: merayakan Kartini setiap tahun, sambil membiarkan nilai-nilainya perlahan memudar dalam praktik kehidupan bermasyarakat. Kartini berbicara tentang terang. 

Namun terang tidak datang dengan sendirinya. Ia harus diperjuangkan, dijaga, dan ditegakkan tidak hanya dalam kata-kata, tetapi dalam sistem yang konkret dan berkelanjutan.

Barangkali, yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar peringatan, melainkan konsistensi. 

Konsistensi antara simbol dan realitas. Antara yang dirayakan dan yang dijalankan. Antara penghormatan di ruang publik dan perlindungan di ruang nyata. 

Sebab tanpa itu, Hari Kartini akan terus menjadi paradoks. Dirayakan dengan meriah, tetapi sunyi dalam makna. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved