Opini
Opini: Paradoks Hari Kartini
Kita merawat ingatan kolektif tentang perjuangan Kartini, tetapi belum sepenuhnya memastikan nilai-nilainya hadir dalam praktik sehari-hari.
Dalam penegakan hukum, perlindungan terhadap korban kekerasan berbasis gender harus menjadi prioritas nyata, bukan sekadar komitmen normatif.
Di tingkat institusi, diperlukan mekanisme yang memastikan ruang aman bagi perempuan, bebas dari kekerasan dan diskriminasi, serta menjamin adanya akuntabilitas ketika pelanggaran terjadi.
Tanpa langkah-langkah tersebut, kita hanya akan mengulang siklus yang sama: merayakan Kartini setiap tahun, sambil membiarkan nilai-nilainya perlahan memudar dalam praktik kehidupan bermasyarakat. Kartini berbicara tentang terang.
Namun terang tidak datang dengan sendirinya. Ia harus diperjuangkan, dijaga, dan ditegakkan tidak hanya dalam kata-kata, tetapi dalam sistem yang konkret dan berkelanjutan.
Barangkali, yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar peringatan, melainkan konsistensi.
Konsistensi antara simbol dan realitas. Antara yang dirayakan dan yang dijalankan. Antara penghormatan di ruang publik dan perlindungan di ruang nyata.
Sebab tanpa itu, Hari Kartini akan terus menjadi paradoks. Dirayakan dengan meriah, tetapi sunyi dalam makna. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
Akbar Hiznu Mawanda
Selamat Hari Kartini
Hari Kartini
Perayaan Hari Kartini
Opini Pos Kupang
Dugaan Pelecehan Seksual
Meaningful
emansipasi
emansipasi wanita Indonesia
| Opini: Mesin Kepuasan atau Negara Pembelajar |
|
|---|
| Opini: Banjir Keyakinan, Krisis Kebenaran |
|
|---|
| Opini: Perairan NTT Tak Sekadar Terkait Perut Rakyat Namun Sumber Kedaulatan Ekonomi |
|
|---|
| Opini: ProKlim, Ekonomi Karbon, dan Momentum Aksi Nyata dari Komunitas |
|
|---|
| Opini - Ketika Data Mengalahkan Realitas: Ancaman Baru Bagi Kearifan Lokal NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Akbar-Hiznu-Mawanda.jpg)