Selasa, 14 April 2026

Opini

Opini: Sunyi yang Tidak Didengar-Ketika Bunuh Diri Menjadi Bahasa Terakhir

Tekanan hidup, rasa gagal, kehilangan, dan kesepian yang menumpuk perlahan membentuk ruang gelap dalam diri seseorang. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GOLDY OGUR
Goldy Ogur 

Sementara itu, Jean-Paul Sartre mengingatkan bahwa kebebasan tanpa makna dapat melahirkan kecemasan. Ketika seseorang tidak lagi menemukan arti dalam hidupnya, keputusasaan menjadi semakin dekat.

Dalam situasi seperti ini, bunuh diri sering kali bukan lahir dari kelemahan, melainkan dari kelelahan yang terlalu lama dipendam sendirian, tanpa ruang untuk bernapas, tanpa tempat untuk pulang secara batin.

Belajar Hadir untuk Sesama

Menghadapi realitas ini, kita tidak bisa berhenti pada rasa prihatin. Bunuh diri bukan hanya masalah individu, tetapi juga cerminan dari kondisi sosial kita. Lingkungan yang tidak peduli dan tidak memberi ruang aman turut memperparah keadaan.

Langkah paling sederhana dan sering kali paling sulit adalah belajar untuk hadir. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir untuk mendengarkan. 

Banyak orang tidak membutuhkan nasihat panjang; mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau memahami tanpa menghakimi.

Hadir berarti memberi ruang bagi orang lain untuk menjadi dirinya sendiri, termasuk dalam kelemahannya. 

Ini menuntut kesabaran, empati, dan keberanian untuk tidak segera menghakimi atau memberi solusi instan. 

Dalam dunia yang serba cepat, kemampuan untuk sungguh mendengarkan justru menjadi sesuatu yang langka.

Filsuf Emmanuel Levinas menekankan bahwa kehadiran orang lain adalah panggilan etis bagi kita. 

Sementara itu, Hannah Arendt mengingatkan pentingnya ruang bersama, ruang di mana manusia bisa berbicara dan didengar. 

Tanpa ruang ini, manusia kehilangan bagian penting dari kemanusiaannya. Karena itu, membangun ruang aman bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. 

Dalam keluarga, komunitas, maupun masyarakat, setiap orang perlu merasa diterima tanpa syarat. 

Ruang ini bisa dimulai dari hal sederhana: percakapan yang jujur, perhatian yang tulus, dan kesediaan untuk tidak mengabaikan tanda-tanda kecil dari penderitaan orang lain.

Selain itu, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental harus terus diperluas. Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk menjaga diri. 

Dukungan dari lingkungan sekitar menjadi sangat penting agar seseorang tidak merasa sendirian dalam menghadapi pergumulannya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved